Langsung ke konten utama

Ilmu Pengetahuan Rasulullah

SEJAK KITA DUDUK DI BANGKU SEKOLAH DASAR atau Madrasah Ibtidaiyah, kita telah disodorkan beban belajar pada dua mata pelajaran penting: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kedua mata pelajaran ini punya muatan masing-masing, supaya para murid mengetahui apa yang terjadi di alam semesta dan supaya mereka bisa berhubungan secara harmonis dengan orang lain.

Sepanjang yang saya ketahui, pelajaran ini kontinyu diajarkan hingga di bangku perkuliahan. Jika di level SD hingga SMA dikenal sebagai mata pelajaran IPA dan IPS, maka ketika di bangku perkuliahan berubah menjadi mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD) dan Ilmu Sosial Dasar (ISD). Saya sangat bersyukur pernah duduk di bangku kuliah dan merasakan betapa (tidak) berartinya dua mata kuliah ini. Wwwkkkkkk

Saya perlu berpendapat seperti itu, karena menurut saya, dua mata kuliah fenomenal ini sangat tidak kontekstual lagi. Terlalu mengulur-ulur waktu kuliah mahasiswa. Juga sangat mudah dipelajari. Bahkan menurut saya, mata kuliah ini cukup dipelajari secara otodidak saja oleh mahasiswa. Maka tidak perlu lagi ada dosen mengajarkannya dan tak perlu juga masuk SKS.

Saya punya argumentasi untuk hal ini. Menurut saya dari pada mahasiswa diajarkan mata kuliah yang menjemukan sebab sudah kita serap semenjak SD, lebih baik diajarkan hal lainnya saja. Tentu banyak sekali mata kuliah inovatif lainnya yang bisa menggantikan dua mata kuliah itu, misalnya lancar menulis esai dan tulisan ilmiah, membuat blog atau website, tips dan trik berjualan online, dan satu lagi, metodologi ilmu peryutuban. Pasti, mata kuliah saran saya itu sangatlah kontekstual dan berharga buat adek-adek mahasiswa kekinian.

Jika ada yang ingin mengkritik atas kritikan saya itu, monggo-monggo saja. Saya pasti akan menerima dengan lapang dada dan wajah sumringah. Sebab saya akui, saya mengkritik itu sekedar muncul ide begitu saja. Karena saya memang tidak begitu paham bagaimana aturan beban mata kuliah bagi mahasiswa. Maklum, saya pedagang pulsa, bukan dosen yang setiap hari bertemu mahasiswa. Wwwkkkwwk

Hanya saja saya ingin menggarisbawahi tentang kosa kata yang saya singgung tadi dan sering diumbar banyak pihak sekarang ini: kontekstual. Ya itu, kontekstual. Sekarang ini memang banyak orang yang sedikit-sedikit berucap kontekstual, kontekstual dan kontekstual. Di panggung pengajian umum, forum pertemuan politisi, bahkan arisan RT, kata kontekstual selalu muncul di telinga kita. Saya membatin, apakah memang kontekstual itu baik, nikmat dan gurih, sehingga berkali-kali keluar di perbincangan dan bacaan kita?

Baik, mungkin itu ada benarnya. Sebab kontekstual itu menunjukkan keberpihakan kita pada apa yang kita pijak, baik waktu, maupun tempat. Kita manusia yang riil, yang berpijak pada tempat yang riil dan diayomi waktu yang riil pula. Sehingga hidup kita tak bisa dilepaskan pada dua ke-riil-an itu. Adapun nikmat dan gurih, itu hanya bisa kita rasakan saat kita makan soto ayamnya Cak Mad di sebelah selatannya pintu rel kereta api Jalan Pahlawan Mojokerto.

***

TENTU BANYAK PROBLEMATIKA HIDUP di tengah-tengah masyarakat sekarang ini. Problematika itu akan terus terjadi dan mengganggu metabolisme bermasyarakat kita, jika tidak kita kikis secara gradual. Dan kita sangat butuh solusi atau metode tertentu untuk menanggulanginya. Yang tentu saja harus kontekstual dengan waktu dan tempat terjadinya problem kita itu.

Kita tidak akan mungkin membelah daging sapi yang tebal menggunakan batu pipih seperti orang-orang zaman megalitikum dulu. Karena yang kita butuhkan adalah sebilah pisau tajam yang kita asah berkali-kali. Kita juga tidak akan meminum kopi untuk mengurangi hipertensi kita, karena yang kontekstual kita butuhkan adalah minum obat penurun darah tinggi. Sekali lagi, kita memang membutuhkan solusi yang kontekstual.

Lalu apa saja problematika kita sekarang ini? Wah tentu saja bermacam-macam, Sodara. Seandainya kita tulis semuanya, niscaya tulisan sederhana ini akan berubah menjadi buku yang ketebalannya tidak terhitung. Sebab kita sadar, problematika hidup itu memang tidak bisa dihitung, karena terlalu banyaknya. Namun kalau kita sering menyaring dari ucapan para tokoh nasional dan tokoh agama dalam pidato-pidatonya, maka sebuah problem besar yang nyata, memang ada di depan kita. Problem besar itu berupa: krisis kepemimpinan dan keteladanan.

***

KITA JANGAN TERPAKU bahwa krisis kepemimpinan itu pasti perihal presiden, gubernur atau bupati. Pemimpin bukan hanya mereka. Enak saja. Ketiganya hanya menjadi pemimpin pada satu bidang: pemerintahan. Masih banyak pemimpin-pemimpin lainnya di muka bumi ini. Siapa mereka yang dimaksud kalau bukan kita-kita ini. Kita ini pemimpin, Sodara. Minimal memimpin diri sendiri. Ini penting saya utarakan.

Hadits Rasulullah tegas memberitahukan bahwa Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka jelas mengetahui solusi atas problem krisis kepemimpinan tidak hanya kewajiban Jokowi, Surya Paloh, Prabowo atau Anies Baswedan. Kita juga terkena kewajiban itu, karena kita semua adalah presiden untuk diri kita sendiri. Catat ini baik-baik.

Apalagi krisis keteladanan, lebih penting lagi bagi kita. Dalam hidup kita pasti butuh keteladanan. Butuh contoh yang baik, yang bisa kita tiru untuk kita bumikan dalam hidup di tengah masyarakat. Anak butuh teladan dari orang tuanya. Murid butuh teladan dari guru-gurunya. Begitu seterusnya hingga pada puncak teladan kehidupan manusia.

Keteladanan tersebut tidak muncul dari dalam diri kita. Sebab pada aslinya kita ini bodoh, tidak paham apa-apa, tapi sering merasa paling tahu apa-apa. Artinya, teladan itu memang kita saring dan pantulkan dari orang lain. Lebih lagi pada sosok yang menjadi puncak teladan hidup manusia.

Ketika kita berbincang tentang siapakah sosok yang bisa kita contoh kepemimpinan dan keteladanannya, tentu kita semua sepakat, dialah Nabi Muhammad Saw. Pada diri beliau tercakup itu semua. Tidak usah diragukan lagi. Tidak perlu kita memalingkan keyakinan darinya. Sebab beliaulah satu-satunya Ahsanan nasi khalqan wa khuluqan, sebaik-baik manusia secara lahiriah dan batiniah.

Namun terjadi hal yang menurut saya janggal. Walaupun begitu banyak orang meneriakkan problem krisis kepemimpinan dan keteladanan, hingga meminta untuk mencontoh Rasulullah, tetapi mengapa krisis tersebut terus saja terjadi? Apakah meniru dan meneladani pribadi serta model kepemimpinan beliau terlampau sulit?

Sayapun merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Hingga terbersit harapan, bahwa sesungguhnya kita perlu merevolusi cara berpendidikan kita, meskipun memang sulit. Pendidikan itu luas dan kompleks, maka revolusi tersebut tidak saja di lingkup sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Kita juga butuh merevolusi pendidikan nonformal kita, seperti halnya lingkungan kita, rumah kita, dan jangan lupa diri kita.

Revolusi yang saya maksud, bahwa secara kontinyu kita mau mengkaji sebuah cabang ilmu pengetahuan baru – selain IPA dan IPS – mulai kecil hingga akhir hayat kita. Pelajaran tersebut bernama Ilmu Pengetahuan Rasulullah (IPR), berisikan serpihan-serpihan yang tiada terhitung tentang sejarah hidup, keteladanan dan bagaimana beliau bermasyarakat dengan orang lain.

Berlimpah sekali buku referensi yang bisa kita baca tentang beliau. Banyak ulama dan kiai yang hafal bagaimana keteladanan Rasulullah Saw. Banyak habaib, sebagai dzurriyah Rasul, yang paham dari hati, tentang sosok besar Rasulullah. Selanjutnya dari beragam referensi itu, kita renungkan isinya, teorinya. Kita semaikan di jiwa kita. Dan sekuat mungkin kita praktikumkan atau pribumisasikan di lingkungan kita. 

Oleh karena itu tidak perlu mengharap terlalu banyak pada pemerintah dalam urusan ini. Kita sendirilah yang harus bergerak dan berupaya secara mandiri. Kinilah saatnya kita bergerak menjadi pelajar utama Ilmu Pengetahuan Rasulullah. Kita tentu bersedih, sebab sosok Rasulullah Saw seperti tenggelam oleh remuknya akal kita gara-gara terlampau serius dalam politik praktis selama ini.

Selamat belajar, Sodara...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...