SEJAK KITA DUDUK DI BANGKU
SEKOLAH DASAR atau Madrasah Ibtidaiyah, kita telah disodorkan beban belajar
pada dua mata pelajaran penting: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS). Kedua mata pelajaran ini punya muatan masing-masing,
supaya para murid mengetahui apa yang terjadi di alam semesta dan supaya mereka
bisa berhubungan secara harmonis dengan orang lain.
Sepanjang yang saya ketahui,
pelajaran ini kontinyu diajarkan hingga di bangku perkuliahan. Jika di level SD
hingga SMA dikenal sebagai mata pelajaran IPA dan IPS, maka ketika di bangku
perkuliahan berubah menjadi mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD) dan Ilmu
Sosial Dasar (ISD). Saya sangat bersyukur pernah duduk di bangku kuliah dan
merasakan betapa (tidak) berartinya dua mata kuliah ini. Wwwkkkkkk
Saya perlu berpendapat seperti
itu, karena menurut saya, dua mata kuliah fenomenal ini sangat tidak
kontekstual lagi. Terlalu mengulur-ulur waktu kuliah mahasiswa. Juga sangat
mudah dipelajari. Bahkan menurut saya, mata kuliah ini cukup dipelajari secara
otodidak saja oleh mahasiswa. Maka tidak perlu lagi ada dosen mengajarkannya
dan tak perlu juga masuk SKS.
Saya punya argumentasi untuk hal ini.
Menurut saya dari pada mahasiswa diajarkan mata kuliah yang menjemukan sebab
sudah kita serap semenjak SD, lebih baik diajarkan hal lainnya saja. Tentu
banyak sekali mata kuliah inovatif lainnya yang bisa menggantikan dua mata
kuliah itu, misalnya lancar menulis esai dan tulisan ilmiah, membuat blog atau
website, tips dan trik berjualan online, dan satu lagi, metodologi ilmu
peryutuban. Pasti, mata kuliah saran saya itu sangatlah kontekstual dan
berharga buat adek-adek mahasiswa kekinian.
Jika ada yang ingin mengkritik atas
kritikan saya itu, monggo-monggo saja. Saya pasti akan menerima dengan
lapang dada dan wajah sumringah. Sebab saya akui, saya mengkritik itu
sekedar muncul ide begitu saja. Karena saya memang tidak begitu paham bagaimana
aturan beban mata kuliah bagi mahasiswa. Maklum, saya pedagang pulsa, bukan
dosen yang setiap hari bertemu mahasiswa. Wwwkkkwwk
Hanya saja saya ingin
menggarisbawahi tentang kosa kata yang saya singgung tadi dan sering diumbar banyak
pihak sekarang ini: kontekstual. Ya itu, kontekstual. Sekarang ini memang banyak
orang yang sedikit-sedikit berucap kontekstual, kontekstual dan kontekstual. Di
panggung pengajian umum, forum pertemuan politisi, bahkan arisan RT, kata kontekstual
selalu muncul di telinga kita. Saya membatin, apakah memang kontekstual itu
baik, nikmat dan gurih, sehingga berkali-kali keluar di perbincangan dan bacaan
kita?
Baik, mungkin itu ada benarnya.
Sebab kontekstual itu menunjukkan keberpihakan kita pada apa yang kita pijak,
baik waktu, maupun tempat. Kita manusia yang riil, yang berpijak pada tempat
yang riil dan diayomi waktu yang riil pula. Sehingga hidup kita tak bisa
dilepaskan pada dua ke-riil-an itu. Adapun nikmat dan gurih, itu hanya bisa
kita rasakan saat kita makan soto ayamnya Cak Mad di sebelah selatannya pintu rel
kereta api Jalan Pahlawan Mojokerto.
***
TENTU BANYAK PROBLEMATIKA HIDUP
di tengah-tengah masyarakat sekarang ini. Problematika itu akan terus terjadi
dan mengganggu metabolisme bermasyarakat kita, jika tidak kita kikis secara
gradual. Dan kita sangat butuh solusi atau metode tertentu untuk menanggulanginya.
Yang tentu saja harus kontekstual dengan waktu dan tempat terjadinya problem
kita itu.
Kita tidak akan mungkin membelah
daging sapi yang tebal menggunakan batu pipih seperti orang-orang zaman
megalitikum dulu. Karena yang kita butuhkan adalah sebilah pisau tajam yang
kita asah berkali-kali. Kita juga tidak akan meminum kopi untuk mengurangi
hipertensi kita, karena yang kontekstual kita butuhkan adalah minum obat
penurun darah tinggi. Sekali lagi, kita memang membutuhkan solusi yang
kontekstual.
Lalu apa saja problematika kita
sekarang ini? Wah tentu saja bermacam-macam, Sodara. Seandainya kita tulis
semuanya, niscaya tulisan sederhana ini akan berubah menjadi buku yang
ketebalannya tidak terhitung. Sebab kita sadar, problematika hidup itu memang tidak
bisa dihitung, karena terlalu banyaknya. Namun kalau kita sering menyaring dari
ucapan para tokoh nasional dan tokoh agama dalam pidato-pidatonya, maka sebuah
problem besar yang nyata, memang ada di depan kita. Problem besar itu berupa: krisis
kepemimpinan dan keteladanan.
***
KITA JANGAN TERPAKU bahwa krisis
kepemimpinan itu pasti perihal presiden, gubernur atau bupati. Pemimpin bukan
hanya mereka. Enak saja. Ketiganya hanya menjadi pemimpin pada satu bidang: pemerintahan.
Masih banyak pemimpin-pemimpin lainnya di muka bumi ini. Siapa mereka yang dimaksud
kalau bukan kita-kita ini. Kita ini pemimpin, Sodara. Minimal memimpin diri
sendiri. Ini penting saya utarakan.
Hadits Rasulullah tegas
memberitahukan bahwa Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka jelas mengetahui solusi atas
problem krisis kepemimpinan tidak hanya kewajiban Jokowi, Surya Paloh, Prabowo
atau Anies Baswedan. Kita juga terkena kewajiban itu, karena kita semua adalah
presiden untuk diri kita sendiri. Catat ini baik-baik.
Apalagi krisis keteladanan, lebih
penting lagi bagi kita. Dalam hidup kita pasti butuh keteladanan. Butuh contoh
yang baik, yang bisa kita tiru untuk kita bumikan dalam hidup di tengah masyarakat.
Anak butuh teladan dari orang tuanya. Murid butuh teladan dari guru-gurunya.
Begitu seterusnya hingga pada puncak teladan kehidupan manusia.
Keteladanan tersebut tidak muncul
dari dalam diri kita. Sebab pada aslinya kita ini bodoh, tidak paham apa-apa,
tapi sering merasa paling tahu apa-apa. Artinya, teladan itu memang kita saring
dan pantulkan dari orang lain. Lebih lagi pada sosok yang menjadi puncak
teladan hidup manusia.
Ketika kita berbincang tentang
siapakah sosok yang bisa kita contoh kepemimpinan dan keteladanannya, tentu
kita semua sepakat, dialah Nabi Muhammad Saw. Pada diri beliau tercakup itu
semua. Tidak usah diragukan lagi. Tidak perlu kita memalingkan keyakinan
darinya. Sebab beliaulah satu-satunya Ahsanan nasi khalqan wa khuluqan,
sebaik-baik manusia secara lahiriah dan batiniah.
Namun terjadi hal yang menurut
saya janggal. Walaupun begitu banyak orang meneriakkan problem krisis
kepemimpinan dan keteladanan, hingga meminta untuk mencontoh Rasulullah, tetapi
mengapa krisis tersebut terus saja terjadi? Apakah meniru dan meneladani pribadi
serta model kepemimpinan beliau terlampau sulit?
Sayapun merenungkan
pertanyaan-pertanyaan di atas. Hingga terbersit harapan, bahwa sesungguhnya
kita perlu merevolusi cara berpendidikan kita, meskipun memang sulit. Pendidikan
itu luas dan kompleks, maka revolusi tersebut tidak saja di lingkup sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal. Kita juga butuh merevolusi pendidikan
nonformal kita, seperti halnya lingkungan kita, rumah kita, dan jangan lupa
diri kita.
Revolusi yang saya maksud, bahwa secara
kontinyu kita mau mengkaji sebuah cabang ilmu pengetahuan baru – selain IPA dan
IPS – mulai kecil hingga akhir hayat kita. Pelajaran tersebut bernama Ilmu
Pengetahuan Rasulullah (IPR), berisikan serpihan-serpihan yang tiada terhitung
tentang sejarah hidup, keteladanan dan bagaimana beliau bermasyarakat dengan
orang lain.
Berlimpah sekali buku referensi
yang bisa kita baca tentang beliau. Banyak ulama dan kiai yang hafal bagaimana
keteladanan Rasulullah Saw. Banyak habaib, sebagai dzurriyah Rasul, yang
paham dari hati, tentang sosok besar Rasulullah. Selanjutnya dari beragam
referensi itu, kita renungkan isinya, teorinya. Kita semaikan di jiwa kita. Dan
sekuat mungkin kita praktikumkan atau pribumisasikan di lingkungan kita.
Oleh karena itu tidak perlu
mengharap terlalu banyak pada pemerintah dalam urusan ini. Kita sendirilah yang
harus bergerak dan berupaya secara mandiri. Kinilah saatnya kita bergerak
menjadi pelajar utama Ilmu Pengetahuan Rasulullah. Kita tentu bersedih, sebab sosok
Rasulullah Saw seperti tenggelam oleh remuknya akal kita gara-gara terlampau
serius dalam politik praktis selama ini.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda