Langsung ke konten utama

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN



Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan.

Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”.

Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya.

Sebagai seorang tukang servis tentu banyak orang yang sudah Doweh hadapi. Berbagai macam orang sudah pernah ia ajak ngobrol baik urusan wajib servis alat elektronik, maupun urusan domestik tetangga yang ada di lingkungan kampung, juga berita-berita nasional yang tiap hari selalu aktual. Doweh tipikal orang kampung yang mewadahi segala macam berita domestik, nasional dan bahkan dunia.

Hasil ngobrol yang luas itulah menjadikan Doweh tidak kalah dengan orang lain yang lulusan SMP atau SMA, dalam hal wacana pergaulan di tengah kampung. Doweh memang hanya lulusan SD yang tidak bisa melanjutkan sampai derajat sekolah di atasnya. Mak Tun semenjak ditinggal mati Wak Kamijan, suaminya, berjuang menghidupi anak semata wayangnya itu, agar Doweh minimal lulus sekolah dasar. Itupun diusahakannya dengan semangat mati-matian.

Salah satu penampakan jelas dari usaha keras Mak Tun bertanggungjawab kepada seluruh kebutuhan anaknya semenjak kecil itu, ia sangatlah jarang melihat tv atau mendengar radio. Paling-paling ia menamatkan siaran radio ketika Ramadhan tiba, itupun tak lebih acara pengajian menjelang maghrib. Seluruh hidup Mak Tun hanya digunakan untuk bekerja dan bekerja, di sawah dan rumah, sehingga terlihat fisik emak tua itu nampak tidak terurus. Walau begitu Mak Tun tetap bisa membagi waktunya untuk ibadah kepada Tuhannya.

Di rumah itu sudah dipasang bayang (dipan dari bambu) yang dikerubungi kelambu bekas dan terlihat kumuh. Di atas dipan tersebut tergelar sajadah sederhana yang Mak Tun dapatkan saat mengunjungi H. Samian dan Hj. Saminem sepulang haji beberapa bulan yang lalu. Tempat itu sekilas sama seperti “pasulukan” para penganut tarekat. Di tempat sederhana itulah Mak Tun menghabiskan waktu selain bekerja dan bekerja, untuk beribadah, berdzikir dan tidur. Semenjak sore Mak Tun secara istiqamah memasuki “tempat semedinya” itu, hingga pagi menjelang.

Berdasarkan model kehidupan dua orang emak dan anaknya yang berbeda gaya dan kebiasaan, jadilah dua orang itu berbeda pula dalam hal pandangan. Doweh yang selalu bergumul dengan teknologi elektronika, berita aktual dan hasil obrolan terupdate dengan orang lain, menampakkan sisi rasionalitas yang kuat. Apapun yang sampai pada Doweh, tapi tidak terbuktikan dengan ia sendiri pernah mendengar, melihat dan membaca “apapun” itu, akan sulit ia yakini sebagai “kebenaran”.

Lain halnya dengan Mak Tun. Sebegitu kuat semangat bekerja ala kampung dan sebegitu intens sisi transendensinya kepada Tuhan, membawa pengaruh yang kuat pula terhadap dirinya. Sejak lama ia sudah meyakini bahwa Tuhan hadir di dalam kehidupan manusia. Segala yang Mak Tun rasakan, adalah manifestasi Tuhan yang menggerakkannya. Tuhan memberikannya sebuah “kehadiran.”

Apakah kedua orang emak dan anak yang kelihatannya berbeda sangat diametral ini mampu hidup harmoni? Mampukah keduanya menghindari titik-titik persinggungan yang berakibat tidak akrabnya hubungan darah ini? Butuh pemikiran yang mendalam atas kesalingtidaksamaan antara keduanya, yang terjadi begitu lantangnya. Namun perlu diberikan cetakan tebal, ternyata yang terjadi adalah keduanya be

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangunlah Rumahmu Sederhana Saja

“Bangunlah rumahmu sederhana saja,” sebuah nasihat yang disampaikan seorang kiai kepada saya. Kapan? Dua hari yang lalu. Sebuah nasihat yang masih hangat. Nasihat yang saya akui belum pernah saya dengar hingga detik itu . Agar tidak hilang, maka saya tuliskan saja, dan saya bagi. Sebutlah nama kiai tersebut Gus Ahmad (nama asli). Seorang kiai kampung yang punya jadwal mengaji di beberapa desa sekitar. Kebetulan beberapa hari yang lalu istri beliau pulang dari umrah . Saya berkesempatan bertamu ke beliau, untuk hormat kepulangan umrah tersebut. Kami terlibat obrolan yang hangat. Tentang cerita umrah istri beliau. Tentang kegiatan beliau yang padat merayap. Dan yang menarik pula, tapi tidak saya bahas dalam tulisan ini, tentang cerita bahwa baru saja beliau membeli puluhan buku dari sebuah pesantren di Kediri. Hasil menitip dari salah satu anak buahnya. Dan ketika kami – saya dan istri – masuk ke ruang tamu, kami lihat memang beliau sedang asyik membaca sebuah buku, sambil ...

Ramanujan dan Pengetahuan dari Tuhan

Kemarin malam saya begadang. Memulainya ketika anak sulung saya baru tertidur pulas. Anak saya yang ragil sudah lebih dulu tidur setengah jam lebih awal. Istriku, juga tertidur mendampingi anak saya yang ragil. Saya sendiri baru bisa memejamkan mata sekira pukul 02.30 dini hari. Setelah usainya aktifitas begadang saya. Saya begadang ditemani laptop kesayangan. Tapi kemarin malam tidak ada tulisan yang saya susun. Saya sengaja untuk tidak menulis. Lebih khusus, saya memang ingin meluangkan waktu untuk menonton film yang sudah beberapa minggu saya koleksi tapi belum sempat diputar. Hampir semua koleksi film di hardisk laptop saya tergolong film serius, yang basicnya kisah nyata. Saya menggolongkannya sebagai film serius karena tidak ada eksien tembak menembak atau bela diri. Tidak ada pula animasi. Sangat sedikir komedi. Film yang basisnya true story memang tergolong serius, alurnya berurutan, lambat, dan terkadang ampang bagi sebagian orang. Sayapun tidak heran kalau ...