Langsung ke konten utama

Al-Qur’an, Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Sudah kita pahami bersama bahwa al-Qur’an diturunkan (nuzul) kepada Rasulullah Saw tepat di bulan suci Ramadhan. Peristiwa itu lebih kita kenal sebagai Nuzulul Qur’an yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 611 M. Sebuah peristiwa sebagai tonggak sejarah diangkatnya Muhammad sebagai utusan Allah. Sehingga salah satu nama lain dari bulan Ramadhan sendiri adalah Syahrul Qur’an (bulan al-Qur’an).

Sebuah tradisi di kalangan muslim, atas dasar peristiwa tersebut, maraklah tadarrus al-Qur’an di kala bulan Ramadhan tiba. Di masjid-masjid, mushalla-mushalla dan langgar-langgar, terngiang suara muslimin melantunkan al-Qur’an. Biasanya jika malam dilakukan setelah selesai shalat tarawih dan pagi setelah shalat shubuh.

Jadilah lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an tiada henti kita dengar. Berdentangan, menghiasi bulan Ramadhan yang memang nuansanya sangat beda dibanding bulan-bulan lainnya. Suasana yang kita rasakan pun diselimuti kesyahduan. Mudah-mudahan saja yang melantunkan dan mendengar lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an tersebut, semakin ditebalkan imannya oleh Allah swt. Betapa pentingnya membaca al-Qur’an tersebut termaktub dalam Surat Fathir ayat 29-30:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Disamping banyaknya tadarrus al-Qur’an yang termasuk ibadah sunnah di bulan suci Ramadhan menjadi hal sangat positif, tentulah pula kita perlu kritis melihat beberapa realita yang mewartakan sisi negatif yang selama ini terpendam. Salah satunya, banyak dari kita yang hanya memperbanyak bacaan al-Qur’an ketika di bulan suci Ramadhan saja. Sedang bulan-bulan lain, di hari-hari biasanya, kita jarang, bahkan tak pernah menyentuh dan membuka al-Qur’an.

Hal ini penulis ketahui berdasarkan wawancara dengan beberapa orang di sekitar lingkungan tempat tinggal penulis. Terutama ketika wawancara dilakukan kepada para pemuda. Lebih spesifik pada golongan pemuda, diketahui dari pengakuan mereka, bahwa mereka memang jarang dan bahkan tak pernah membaca al-Qur’an. Dan hal tersebut nampak jelas ketika penulis mendengar sendiri bagaimana mereka melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Terdengar banyak sekali kesalahan tajwid dan makharijul huruf yang sangat jelas.

Penulis berpandangan, bahwa masalah pembacaan al-Qur’an di kalangan pemuda kita yang perlu banyak pengkoreksian, serta jarangnya mereka membaca ketika di rumah, di hari-hari biasa, adalah suatu problem yang sangat besar. Problem yang nyata terjadi, namun boleh jadi tidak terpikirkan oleh kita semua.

Masalah ini, jika tidak diatasi secara bersama-sama, akan bisa melahirkan sebuah pertanyaan penting: bagaimana masa depan pemuda muslim kita jika mereka jarang membaca, apalagi memahami makna-makna al-Qur’an?

Pertanyaan inilah yang sampai sekarang mengiang di pikiran penulis. Karena menurut penulis, masalah atau problem ini terjadi akibat rentetan panjang dari banyak pihak. Taruhlah yang pertama menjadikan para pemuda tidak begitu suka terhadap al-Qu’an adalah karena orangtuanya sendiri memang secara “tidak sengaja” mengiyakan hal tersebut. Orangtua sering menganggap baca al-Qur’an bagi anaknya bukanlah kebutuhan pokok bagi otak dan jiwanya.

Jenis orangtua yang seperti ini boleh jadi banyak berada di sekitar kita. Menjadi fakta keummatan yang menunjukkan problem ini sudah lama terjadi. Dan boleh jadi hal ini pula diakibatkan tidak adanya dukungan dari lingkungan tentang pembudayaan baca al-Qur’an di rumahnya masing-masing. Atau problem ini lebih menunjukkan kenyataan lain: bagaimana membiasakan membaca, belajar membacanya saja tidak pernah.

Kalau seperti itu, tentulah masalah pokoknya adalah tidak tersedianya lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an di lingkungan tersebut. Ini menunjukkan lagi bahwa kesalahan tersebut terletak pada tokoh-tokoh agama setempat yang tidak bisa melihat dengan jernih permasalahan ini. Sehingga, sebaliknya, jika sebuah lingkungan sudah ada berdiri lembaga pendidikan al-Qur’an, maka semua pihak harus terus menjaga, melestarikan dan mengokohkan lagi. Misalnya, merukunkan jika diantara para pemangku lembaga-lembaga tersebut terjadi sakwasangka karena persaingan yang tidak sehat dalam merekrut santri-santrinya.

Para pemuda bagaimanapun adalah generasi yang di masa mendatang memegang tanggungjawab mengokohkan peran penting agama di kehidupan ini. Jika pemuda tidak lagi menyukai dan mencintai al-Qur’an, malah lebih mencintai gawai yang berisi ratusan game menarik, kiranya hal ini menjadi alarm bagi kita. Salah satunya, kemungkinan, di beberapa tahun yang akan datang, banyak tingkahlaku kehidupannya yang kurang klop dengan al-Qur’an. Bahkan boleh jadi kerukunan dan kedamaian akan sulit terjadi, karena al-Qur’an tidak dijadikan panutan.

HAMKA, seorang intelektual dan ulama termasyhur negeri ini, dalam buku Pelajaran Agama Islam, menandaskan, bahwa intisari al-Qur’an – serta kitab-kitab suci sebelumnya – adalah tali Tuhan dan tali manusia. Sehingga siapapun yang memegang al-Qur’an sebagai jalanhidupnya, akan senantiasa kokoh hubungannya dengan Allah secara vertikal, dan baik hubungan sosialnya dengan orang lain atau masyarakat secara horizontal. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 112:
    
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh  para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Padahal, persoalan kerukunan di masyarakat merupakan prasarat utama keberhasilan sebuah bangsa. Apalagi kondisi pluralitas di bangsa kita ini, tentulah kerukunan merupakan modal utama. Inilah salah satu kehebatan al-Qur’an yang memberikan tanggungjawab sosial agar masyarakat selalu selaras. Dan para pemuda yang memahami al-Qur’an akan mudah sekali membangun kerukunan itu. Tetapi sebaliknya, jika pemuda jauh dari pemahaman atau mindset al-Qur’an, akan rentan dengan perkelahian, percekcokan dan kerusuhan sosial.

Di sinilah sebenarnya kita menemukan solusi yang paling tepat dari persoalan pemuda dan al-Qur’an tersebut. Salah satunya bahwa orangtuanyalah yang punya peran utama. Orangtua ibarat ring satu masa depan anak-anaknya. Pemuda, sekalipun masuk pada usia-usia pencarian jatidiri, skeptis dan perlawanan, masih membutuhkan peranserta orangtua yang sangat nyata.

Menurut Dr. Zakiah Darajat dalam buku Ilmu Jiwa Agama,orangtua adalah pusat ruhani anak-anaknya. Dari orangtualah, anak-anak atau pemuda, mendapatkan pengetahuan yang berasal dari luar dirinya. Secara tidak langsung, orangtualah pembentuk karakter anak. Lebih terutama karakter al-Qur’an yang akan membentuk jiwanya, menjadi kokoh hubungan vertikal dan horizontal di kehidupannya.

Mudah-mudahan di bulan diturunkannya al-Qur’an ini, kita senantiasa berusaha memahami makna al-Qur’an untuk kemudian kita telusupkan ke dalam jiwa anak-anak kita. Wallahu a’lam bisshawab


30052018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...