Langsung ke konten utama

Balada Sandal Sakti

Pengalaman kehilangan sandal ketika shalat di masjid atau mushalla boleh jadi suatu hal yang sifatnya umum belaka. Saya kira banyak orang pernah merasakan terpapar “tragedi” ini. Tanya saja pada saudara kita, teman kita dan tetangga kita, pernah tidak merasakan sandalnya tiba-tiba raib saat orangnya selesai shalat di masjid atau mushalla. Saya kira rata-rata mereka pasti pernah merasakan kedukaan itu.

Jika diadakan hitung probabilitas bisa jadi akan memunculkan rumus: Diantara sepuluh orang yang shalat di masjid atau mushalla, enam orang pasti pernah kehilangan sandalnya. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan gojlokan antara penganut Islam dan Kristen. Mereka sama-sama menggunakannya untuk menguji kesakralan tempat ibadahnya masing-masing.

Si kristiani menaruh heran kenapa kasus sandal hilang kerap terjadi di tempat-tempat ibadah milik muslim. Sementara kasus memalukan itu sama sekali tidak pernah terjadi di gereja. Mencermati itu si muslim sama sekali tidak merasa heran dan menganggap itu normal saja. Menurutnya sangat wajar hal itu terjadi karena tiap kali muslim melakukan sembayang di masjid atau mushalla, selalu alas kakinya dilepas. Tapi kalau umat kristiani kan tidak, karena alas kaki mereka bisa dipakai masuk ke gereja. Ironisnya memang kasus sandal atau sepatu yang hilang belum pernah terdengar di gereja, tapi kalau mobil atau motor hilang, itu yang satu dua kali pernah terjadi. Ha ha ha.

Yang harus kita sepakati bersama dari peristiwa kecil ini, bahwa kasus kehilangan alas kaki tersebut bisa membuat korbannya menjadi malu bahkan sakit hati. Malunya sendiri muncul disebabkan ia sudah pakai baju yang paling bagus, wangi-wangian yang paling membahana, saat ia sembayang di masjid atau mushalla, eh ketika keluar masjid mau pulang ke rumah, ternyata sandalnya hilang. Jadilah dandanan tubuh yang mempesona itu tidak menjadi sempurna, karena terpaksa kakinya harus telanjang.

Yang merasakan sakit hati, sesak dan kecewa, tentu bagi yang kehilangan sandal yang kebetulan beremerek dan harganya mahal. Dia sudah beli mahal-mahal, nyarinya sulit, hunting-nya pakai antri panjang pula, tiba-tiba ketika dipakai ke masjid, hilang diambil orang lain. Sungguh, kehilangan benda kesayangan itu sangat menyesakkan. Levelnya sedikit di bawah kehilangan istri yang cantik yang dicuri tetangganya sendiri. He he he.

Tapi kita juga harus mengakui bahwa diantara ribuan kasus kehilangan sandal di masjid atau mushalla yang tidak pernah ada satupun laporan ke Polsek setempat, ada juga lho yang menarik. Contohnya yang pernah penulis saksikan langsung. Kejadiannya beberapa hari yang lalu. Masih hangat kasusnya.

Sandal hilang, kok menarik!? Iya, untuk kasus ini saya melabelinya sebagai contoh kasus kehilangan sandal yang menarik. Maksudnya menarik itu untuk dicerna dan diperas pelajaran sucinya. Jarang-jarang ada kasus sandal hilang tapi yang merasa kehilangan malah bahagia. Wajahnya sumringah. Senyumnya mengembang bak bunga kamboja mekar yang wangi merona.

Ceritanya sore itu saya dan Pak Carik mengantar anak-anak didik kami mengikuti buka bersama di kantor kabupaten. Kami diundang oleh Plt Bupati bersama ratusan anak dari yayasan lainnya. Acara seperti ini memang rutin diadakan pemerintah kabupaten tiap tahun, sebagai wujud perhatian mereka terhadap keberadaan anak-anak yatim di daerahnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya kami selalu telat. Aslinya sih ini sekadar strategi, agar pas pulang selesai dari acara bisa lebih dulu sampai ke mobil rombongan. Maklum mobil yang diparkir jumlahnya ratusan, jadi kalau tidak keluar di awal, otomatis jadi keluar paling akhir. Bisa repot kalau seperti itu.

Singkat cerita ternyata kami saat itu menyepakati agar nasi kotak jatah kami ber-25 orang itu, kita santap saja di dalam lokasi parkiran. Setelah santap berbuka itu, barulah kami melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid di dalam komplek perkantoran itu, yang jaraknya dari mobil kami cuma beberapa meter saja.  

Setelah benar-benar tuntas makan, kamipun bergegas wudlu dan kemudian melaksanakan shalat. Selesai shalat kami langsung meluncur ke dua mobil yang sudah siap digeber para driver-nya masing-masing. Tapi janggal. Ketika kami sudah masuk ke kendaraan masing-masing, saya merasa ada yang tertinggal. Betul juga, ternyata Pak Carik yang belum kelihatan. Baru kelihatan beberapa menit kemudian ia berjalan menuju kami, tapi tanpa ada sandal menyimpul di kakinya. Waduh, kasus nih.

Pak Carik kehilangan sandalnya. Dan saya tahu, sandalnya selalu jenis yang mahal. Sandal yang modelnya menunjukkan jiwa muda. Otomatis ini termasuk kehilangan besar. Setelah – mohon maaf akhirnya saya buka rahasia – beberapa bulan yang lalu juga kehilangan burung kesayangannya yang harganya mahal pula, hehehe. Yang bikin tidak gopoh, Pak Carik sendiri mengikhlaskannya, biar saja pulangnya “nyeker”, asalkan anak-anak bisa bahagia. Syukurlah, bisik saya dalam hati.

Kendaraan kami pun keluar komplek itu. Pulang kembali menuju kantor yayasan. Segera setelah tiba, semua kue yang jumlahnya gak karu-karuan itu akan segera kami bagi rata. Biar semua anak kebagian. Dan sesampainya kami, rencana itu pun kami realisasikan. Bagi-bagi kue ternyata butuh waktu yang tidak singkat. Sekira lima belas menit.

Saat enak-enaknya bagi kue itulah, tiba-tiba Pak Carik bersuara agak lantang.

“Alhamdulillah, sandal saya akhirnya ketemu, Pak.”

“Ketemu? Mana sandalnya Pak Carik?”

Iapun menunjuk pada sandalnya itu. Ternyata eh ternyata, sandal itu dipakai salah satu anak didik kami sendiri, namanya Miftahul. Ia memakai sandal itu sekenanya ketika di masjid tadi, karena yang sebenarnya hilang itu sandalnya. Sandalnya itu mirip banget sama sandalnya Pak Carik. Cuman kalau dari sisi harga, masih lebih mahal sandal milik Miftahul, begitu yang saya pahami dari keterangan Pak Carik.

Lalu bagaimana dengan sandal yang sudah ketemu jabang bayinya itu? Ini yang jadi sisi menarik yang pertama bahwa sandal itu diikhlaskan sama Pak Carik agar dipakai seterusnya oleh Miftahul. Dia kasihan pada Miftahul, karena sandalnya yang hilang tergolong barang mewah. Seperti saat masih di kompleks kantor Bupati tadi, Pak Carik milih “nyeker” saja ketika akan pulang ke rumahnya. Telanjang kaki tidak menjadi masalah. Yang penting Miftahul tidak bersedih, karena hilangnya barang kesayangan.

Saya yang menjadi saksi, hanya bisa geleng-geleng kepala. Tandanya saya sendiri belum tentu bisa seikhlas itu. Sebab ikhlas itu sulit, bung. Tapi kalau nulis, bahas, dan ngomong tentangnya itu sih mudah. Ya kayak tulisan ini, hehehe.

Pak Carikpun berpamitan, setelah usai bergumul dengan anak-anak. Dia sudah standby di atas motor Honda Supra 125-nya. Namun, ketika hendak menghidupkan motor yang irit bensin itu, tiba-tiba datanglah Miftahul yang memang rumahnya tidak jauh dari yayasan. Ia gopoh menghampiri Pak Carik, sambil menenteng sandal milik Pak Carik yang sudah diikhlaskan itu. Ternyata eh ternyata, Miftahul telah membeli sandal japit warna hijau yang terlihat sudah dipakainya, dan sandal milik Pak Carik dengan ikhlas dikembalikannya. Katanya pakai sandal jepit saja gak masalah kok dia. Dan ini kenyataan menarik yang kedua.

Saya dan Pak Carik akhirnya tertawa bahak. Ini peristiwa yang membingungkan dan aneh. Tapi juga penuh hikmah. Tiada yang membuat hikmah selain Dzat yang paling berhak mempunyai nama al-Hakim. Dan sebelum Pak Carik kembali pamitan yang kedua, ia sempat berbisik.

“Ketahuilah duhai Bapak, sandal saya ini pernah hilang lima kali. Anehnya lima kali juga kembali lagi ke pemiliknya.”

Saya hanya menjawab, “Ha ha ha.”

SuwelasJuniRongewuwolulas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...