Langsung ke konten utama

Energi Wa 'Afiniy

Menurut sebagian orang berhitung secara matematis itu tidak penting. Mereka menambahi, terlalu menghamba pada hitungan secara matematis sering membuat si penghitung menjadi manusia yang materialis. Yang pada akhirnya menciptakan manusia-manusia yang doyan pada angka-angka.

Pasti orang-orang yang kesal terhadap hitungan matematis tersebut inginnya kehidupan ini dinilai secara kualitas atau mutu saja. Kuantitas atau angka-angka itu memang ada di dunia ini. Tetapi menurut mereka kualitas atau mutulah yang sebenarnya hakikat dari kehidupan ini. Posisi kualitas lebih terhormat daripada posisi kuantitas.

Tidak salah orang berpendapat seperti itu, tergantung aspek yang digunakan. Namun pendapat tersebut tidak boleh didesakkan begitu rupa kepada pikiran orang lain. Sebab, jika kita mau merenung dengan jernih, sering pula Allah Swt meminta hambanya untuk berhitung secara matematis!

Salah satunya melalui pemahaman sebuah do’a yang tercantum di rukun shalat duduk di antara dua sujud. Bunyi kalimah doa tersebut: Wa ‘afiniy, yang artinya, “dan sehatkahlah aku”. Tercantum pada doa lebih lengkapnya, Rabbighfirliy, warhamniy, wajburniy, warfa’niy, warzuqniy, wahdiniy, wa’ afiniy, wa’fuanniy. Artinya, ya Tuhan ampunilah aku, rahmatilah aku, tutupilah aib-aibku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku dan maafkan aku.

Saudara, kesehatan adalah kebutuhan hidup mendasar yang pasti kita idamkan. Makanya, orang akan selalu bahagia ketika jasmani dan rohaninya sehat. Sebaliknya, akan bersedih ketika tubuhnya dalam keadaan sakit.

Orang-orang tua dulu sering berkata, “Kita butuh tubuh yang sehat. Karena tubuh yang sehat akan gampang digunakan untuk beribadah. Caranya makanlah yang banyak dan penuh gizi.” Atau menurut orang-orang masa kini, “Fisik yang sehat, akan bisa digunakan untuk mengais rezeki sebanyak-banyaknya. Maka dari itu jaga fisik kita dengan istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan jangan lupa berolahraga.”

Pertanyaannya: Sehatkah kita sekarang ini?

Tentu jawabannya akan berbeda-beda. Kalau saya, maka jawaban saya, “Oh iya saya sehat. Karena sehat, menjadikan saya bisa membuat status sederhana ini. Alhamdulillah.” Boleh jadi jawaban saya sama pula dengan jawaban Saudara-saudara semuanya. Tetapi akan berbeda dengan jawaban dari orang-orang yang kebetulan sedang sakit, “Maaf, saya sekarang sedang sakit. Kini saya terbaring di brangkar rumah sakit. Biasalah, lambung saya kumat.”

Akan berbeda jika diajukan pertanyaan kedua: Berapakah yang sakit dan yang sehat?

Nah, untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tersebut kita butuh hitungan matematis. Tapi tidak perlu terlalu presisi atau tepat berapa perbedaan jumlah yang sehat dan yang sakit sekarang ini. Cukup dibutuhkan kata “lebih banyak” dan “lebih sedikit”. Dan saya meyakini kita semua akan menjawab pertanyaan kedua tersebut, “Tentu saja lebih banyak yang sehat dan lebih sedikit yang sakit. Buktinya antara yang berobat atau ngamar di rumah sakit dengan yang sehat wal afiat dan bisa beraktifitas di luar rumah sakit, tetap masih banyak yang sehat wal afiat dan bisa beraktifitas di luar rumah sakit.”

Akan lebih menjurus lagi tatkala diajukan pertanyaan lanjutannya kepada pribadi Saudara-saudara semuanya: Antara sehat dan sakit, Saudara sering mengalami yang mana, minimal dalam rentang waktu satu bulan ini saja?

Jawaban saya jelas lebih banyak sehatnya dalam satu bulan ini. Pernah sih sakit, tapi bukan penyakit parah. Hanya flu biasa dan sembuh kembali setelah diberi obat oleh dokter sebuah klinik. Ya tiga harilah saya sakit. Selebihnya saya sehat-sehat saja.

Saudara semuanya pasti jawabannya sama dengan saya. Iya kan, sama? Taruhlah ada beberapa Saudara yang saat sekarang sudah menjalani ngamar di rumah sakit, ya katakanlah seminggu. Namun itu hanya seminggu. Selebihnya, selama tiga minggu lainnya Saudara sehat-sehat saja.

Atau, taruhlah ada beberapa Saudara yang sudah satu bulan ini bolak-balik kontrol ke dokter. Tetapi Saudara perlu menghitung pula di bulan-bulan lainnya, Saudara pasti dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Saya sangat percaya dengan perkiraan hitungan saya tentang Saudara.

Jika ingin memperoleh jawaban yang lebih presisi, maka pakailah rumus pengurangan, pasti jumlah yang sehat ketika dikurangi jumlah yang sakit, masih tersisa banyak yang sehat. Misalnya, si Abdul selama 30 hari ini menderita sakit hanya 5 hari. Berapakah jumlah sehat Abdul. Maka rumusnya 30 – 5 = 25 hari Abdul mendapat rezeki kesehatan pemberian dari Allah Swt.

Sayangnya sering perhitungan matematis kita salah kaprah. Kita, selalu menghitung yang sakit-sakit saja, tapi kelupaan menghitung yang sehat. Yang kita hitung yang tidak enak-tidak enak saja. Dan itu tidak bagus bagi kesehatan rohani kita. Jadi rumus kita terbalik, justru jumlah hari yang sakit kita kurangkan dengan jumlah hari yang sehat. Pakai saja kasusnya Abdul, maka penyelesaiannya: 5 – 30 = minus 25. Sungguh jawaban yang aneh karena salah menempatkan rumus.

Oh Allah, ternyata banyaknya jumlah sehat saya dan Saudara-saudara semuanya ini, adalah anugerah Wa ‘afiniy-Mu. Tiada yang bisa menguak kesadaran hitungan Wa ‘afiniy-Mu selain itu hidayah yang Kau berikan kepada kami. Jenengan memang top banget, Ya Allah. I love You, Allah. Kami bersyukur atas semua ini.

#RenunganKu
 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...