Langsung ke konten utama

The Power of Pensiun

Seorang tetangga mengabarkan, bahwa seorang mantan polisi kenalannya, yang baru beberapa bulan ini pensiun, mengalami stroke. Kedua kakinya tidak kuat digunakan menyangga tubuh dan melangkah. Caranya salat kini harus duduk di kursi. Padahal sebelum pensiun, tubuhnya gagah perkasa.

Di waktu yang lain, ada sejawat yang bercerita, salah satu gurunya meninggal dunia. Konon, sang guru tersebut terserang penyakit jantung. Padahal baru saja ia pensiun. Sekira dua bulan ini. Apalah daya, takdir hidup dan maut semua dalam genggaman-Nya.

Pernah pula saya dengar dari tuturan seorang kerabat. Ia mengabarkan, menantu perempuannya sepertinya akan segera dipensiunkan dari perusahaannya. Untungnya cicilan bank sebentar lagi akan tuntas. Ia akan pusing tujuh keliling seandainya cicilan bank belum lunas, tapi menantunya sudah terlebih dulu dipensiun. Bisa nangis mereka semua menanggung beban yang besar itu.

***

Cerita di atas, boleh jadi realitas yang akrab terjadi di lingkungan kita. Lekat terjadi di tengah masyarakat kita. Sebagai salah satu contoh realitas sosial yang bisa kita ketahui dengan sangat faktual. Realitas yang seringkali dipermak menjadi problem bagi siapapun yang terkena pensiun itu.

Pensiun, memang menyedihkan. Apalagi bagi orang-orang yang sebelumnya melekat jabatan tinggi di tempat kerjanya. Menyedihkan pula bagi orang-orang yang sebelumnya mendapat gaji yang cukup besar dan menggiurkan. Hilangnya jabatan dan gaji itu, membuatnya nestapa.

Betul itu memang asumsi yang sifatnya subyektif. Tetapi masyarakat sudah kadung membenarkan asumsi ini. Sehingga asumsi ini lambat laun menjadi teori yang belum teruji. Namun sudah kadung terbukti kebenarannya.

Para pensiunan yang sakit mendadak, banyak. Yang kurus mendadak, juga banyak. Yang mati mendadak, juga sangat banyak. Ibaratnya di mata sebagian masyarakat, ada indikator-indikator tertentu yang dapat dilihat pada diri orang-orang yang pensiun dari jabatan atau pekerjaannya.

Masyarakat pun menandai rangkaian peristiwa itu. Sehingga jika terjadi tragedi betulan yang melanda para pensiunan, mereka pun menganggap, “Lumrah saja beliau sakit. Kan beliau pensiunan.”

***

Saya mengenal istilah post power syndrome (selanjutnya disingkat PPS) pertama kali dari salah satu ceramah mendiang KH. Zainuddin MZ. Saya sudah lupa judul ceramah tersebut. Namun yang pasti, ceramah tersebut banyak didengar oleh orang-orang seusia saya atau yang lebih tua dibanding saya.

Ya PPS, sebuah kondisi psikis, yang melanda banyak orang di zaman ini. Terutama pasca seseorang berkuasa atas jabatan tertentu. Sebuah penyakit yang ditandai status diri; pensiun.

Pertanyaannya, benarkah kondisi psikis ini terjadi dengan sendirinya tanpa faktor dari manusianya? Bagaimana cara menanggulangi dan mengobatinya?

Pertanyaan pertama bisa dijawab dengan mengajukan pertanyaan balik; adakah kondisi PPS terjadi sebelum seseorang pensiun? Saya kira semua orang akan tertawa dengan pertanyaan absurd tersebut. Sebab jelas, kondisi tersebut terjadinya setelah orang tersebut pensiun.

Seperti yang kita pahami dari studi psikologis, bahwa setiap kondisi psikis disebabkan oleh gagal pikir para pengidapnya (mohon ini dikoreksi oleh para ahli). Artinya, PPS ini juga lahir dan muncul karena diri orang itu sendiri. Jadi ada tidaknya sindrome ini, terserah bagaimana seseorang menjaga diri masing-masing.

Pertanyaan sepele bisa diajukan; pilih sehat atau sakit? Ya, lagi-lagi banyak orang pasti akan tertawa bahak dengan pertanyaan mengada-ada itu. Masak orang yang sehat memilih sakit. Atau yang sakit memilih tetap sakit. Semua orang, haqqul yakin akan memilih sehat. Sekalipun ajal akan segera merenggut hidupnya, alias sedang sakaratul maut.

Karena itulah seharusnya PPS bisa dihindari. Ia tidak usah dimunculkan di kehidupan ini. Mengapa? Sebab, seperti uraian di paragraf-paragraf awal tulisan ini, banyak penyakit fisik yang mengikuti salah satu kondisi psikis tersebut. Dan itu sangat berbahaya bagi masa depan peradaban manusia!?

PPS menjadikan seseorang jantungan. PPS mengakibatkan seseorang stroke, diabet, dan bahkan mati (iya saya tahu mati itu hak Allah). Apakah Anda mau seperti itu? Semoga kita semua disehatkan-Nya, lahir dan bathin.

***

Sebenarnya kesalahan orang-orang yang terkena PPS adalah, ia menganggap kekuasaan, jabatan atau posisi apapun yang ia genggam, sebagai sesuatu yang sangat penting. Ia adalah segala-galanya bagi kehidupannya. Kekuasaan itu miliknya. Kepunyaannya.

Mereka mungkin kurang teliti, bahwa menurut aturan di tempat kerjanya saja, kekuasaan itu pasti akan sirna pada saatnya nanti. Sebab pergantian jabatan atau pelengseran kekuasaan itu normal dan wajar. Oleh karena itu belum ada seorang pun yang selamanya akan menjadi pimpinan sebuah instansi atau presiden sebuah negara.

Artinya, para pengidap PPS bisa jadi tidak menginginkan pergantian jabatan itu. Bagi mereka, jabatan adalah hak dirinya sendiri. Orang lain tak boleh menggantikannya.

Memang tidak semua orang sesuai dengan anggapan atau dugaan di atas. Tetapi, di dalam batin sebagian banyak orang, sangat dimungkinkan ada satu keinginan terpendam itu. Keinginan agar ia bisa menjabat selama mungkin. Kalau bisa hingga ditiupnya sangkakala.

Nah, keinginan terpendam itulah yang mengakibatkan banyak orang terkena PPS. Sepertinya ia ikhlas saja menerima kenyataan tidak lagi menjabat. Tetapi di hatinya tidak seperti itu. Maka yang terjadi, pikiran-pikiran itu yang menjadikan berbagai macam penyakit fisik saling berdatangan. Penyakit-penyakit yang bersambungan dengan gejolak psikis.

***

Kalimat yang pas, mungkin banyak orang harus segera memahami apa esensi jabatan itu. Bahwa ia sekedar pangkat sementara di dunia. Bahkan hanya beberapa tahun saja jabatan itu dimbannya. Selebihnya, ia akan berpindah ke orang lain.

Adalah hal sangat biasa pergantian itu. Jadi tidak perlu membuat mental jatuh. Derajat jatuh. Kesehatan jatuh. Sebab hanya sekedar sementara saja.

Contohlah saja Gus Dur. Baca sejarah hidupnya. Terutama ketika beliau dilengserkan dengan cara-cara politik kancil oleh para seterunya. Ternyata, sama sekali beliau tidak berusaha mati-matian mempertahankan jabatan presiden itu. Beliau santai-santai saja.

Beliau pun tidak bersedih sama sekali dengan kehilangan itu. Padahal saat peristiwa bersejarah tersebut berlangsung, ribuan orang pecintanya rela mengkorbankan jiwanya. Tapi Gus Dur tidak ingin pertumpahan darah terjadi. Ia mengikhlaskan saja. Menurutnya untuk apa mempertahankan jabatan yang temporer secara mati-matian, hingga mengorbankan nyawa orang lain?

Dan yang terjadi kemudian, pasca Gus Dur tidak lagi menjabat presiden, beliau tetap mempunyai aktifitas yang menyita waktu. Kunjungan ke sana, kunjungan ke sini. Mengisi seminar ke mana-mana. Seperti sebelum menjadi presiden. Era pensiun Gus Dur sama sekali tidak merubuhkan mental, inovasi dan kemerdekaan berpikirnya.

Iya, pasti itulah yang bisa dijadikan suplemen bagi orang-orang yang pensiun. Bahwa mental, inovasi dan kemerdekaan berpikir tidak boleh ikut pensiun juga, ketika seseorang pensiun dari jabatan atau pekerjaan. Ketika mental, inovasi dan kemerdekaan berpikir itu masih utuh dan sehat, maka kita bebas mengaktualisasikan diri kita. Sekalipun kita menjadi orang biasa saja. Tanpa embel-embel jabatan. Dan itulah The Power of Pensiun.

Apalagi kita mesti menyadari, tidak ada kekuasaan yang hakiki di dunia ini. Semua hanya amanat atau mandat. Artinya ada yang memberikannya, menganugerahkannya dan kapan saja akan diambilnya kembali. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah Swt, dzat pemilik sah bumi dan langit beserta seluruh isinya. Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...