Tadi malam aku, istriku dan anakku yang barep, sedang santai menonton tivi. Hitung-hitung malam Mingguan. Berkumpul bersama keluarga, dalam satu kegiatan yang sama, akan menjadi terapi emosi yang sangat berguna. Apalagi terus terang saja, kumpul bersama keluarga untuk nonton bareng acara tivi, memang sudah lama tidak aku lakukan. Maklumlah, aku sangat jarang nonton tivi.
Tetapi moment kebersamaan nobar acara tivi tadi malam, yang jarang kami lakukan, ternyata tidak sesempurna yang aku kira. Lelah dan payah memang sirna. Gejolak emosi juga seperti merendah. Namun, ada salah satu pemberitaan tivi yang kami tonton tadi malam, yang benar-benar membuat emosi saya bergeliat.
Salah satu berita tivi yang membuat saya sedikit emosi tersebut tentang kasus pembunuhan seorang staf sebuah kampus di Makasar. Pembunuhnya seorang dosen yang nota bene kawannya sendiri di kampus tersebut. Modusnya, pelaku yang dosen itu, sakit hati atas beberapa ucapan dan tindakan korban yang menurutnya pantas dibalas, berupa kematian. Maka dibunuhlah korban yang seorang perempuan itu.
Aku tidak habis pikir, tentang pelakunya yang berprofesi sebagai dosen itu. Sebab bagaimanapun dosen itu tergolong orang yang terdidik. Sekolahnya tinggi. Bacaannya banyak. Pengalaman kehidupannya juga banyak. Tapi mengapa tega membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, hanya karena sakit hati?
Ada sebuah argumen dari istriku yang ia sampaikan dan tiba-tiba saja memecah suasana emosionalku. Menurutnya dosen itu manusia biasa. Ia punya hati seperti manusia-manusia lainnya. Ia juga punya nafsu dan emosionalitas. Maka tidaklah aneh si pelaku dosen tersebut bisa terpeleset dalam keputusan hidup yang murni kriminal dan tidak bisa dianggap benar itu.
Sedikit banyak aku membenarkan argumentasi istriku itu. Namun menurutku argumentasi tersebut harus diiringi penjelasan lainnya yang bisa menjadi lampu penerang buat banyak orang. Supaya kasus penghilangan nyawa orang lain yang melanggar hukum pidana ini, tidak diulangi lagi oleh orang lain.
Akupun teringat sebuah istilah unik yang diciptakan Gede Prama di dalam bukunya Hidup Sejahtera Selamanya. Motivator berkelas internasional ini bertutur, tentang adanya dua perampok di dalam diri kita!
Hah, perampok? Bawa senjata dong mereka? Dan jumlahnya pasti lebih dari satu orang? Juga pasti berbahaya kepada nyawa kita? Sama sekali tidak tepat. Perampok yang dimaksudkan itu bukan seperti perampok yang sukanya mengeroyok sopir kontainer di tengah jalan. Atau yang sering mengobrak-abrik rumah mewah, sehingga barang-barang berharga di dalamnya berhasil mereka gondol. Ini tentang perampok yang tak kasat mata, yang lebih berbahaya dibanding jenis perampok yang kasat mata itu.
Perampok pertama, apapun yang bersumber dari luar diri kita dan yang membawa masuk adalah panca indera kita sendiri, terutama mata dan telinga. Bagi orang dengan kedewasaan yang kurang atau nalar yang kurang sehat, apa saja yang diterima mata dan telinga, tidak serta merta ia kelola terlebih dahulu. Ia menerima apa adanya berita, tontonan atau warta yang didapat mata dan telinganya.
Karena tidak dikelola atau direnungkan, maka perolehan dari mata dan telinga tersebut langsung menyulut emosinya. Ia sangat percaya dengan mata dan telinganya. Sehingga perolehan dari luar itu tidak disaring, tapi langsung disimpulkan. Tidak ditelaah, tapi langsung dijadikan keputusan. Sekalipun salah dan dosa. Nampaknya pak dosen tersebut, berhasil dikalahkan perampok yang pertama ini.
Sedang perampok jenis kedua, lain lagi. Ia bersumber dari dalam diri seseorang dan yang mengangkutnya adalah emosi, perasaan dan opininya sendiri. Apa yang diperoleh dari luar memang ia kelola dengan perangkat yang ada dalam dirinya. Namun, perangkat berwujud emosi, perasaan dan opini tersebut, ternyata tidak sesehat yang dikira.
Karena tidak sehat oleh sebab selama ini suka berternak rasa curiga, mudah meledak, sering tersinggung, senang dipuji dan sejenisnya itu, maka ketiga perangkat itu malah lebih menjerumuskan lagi pada orangnya. Emosi tidak bisa ditahan, perasaan sering curiga dan opini yang tidak sesuai hati nurani, akan membawa seseorang menghasilkan keputusan hidup yang gelap. Keputusan yang keliru besar.
Dan lagi-lagi dosen pelaku pembunuhan tersebut gagal untuk membendung perampok jenis yang kedua. Alhasil, dari luar ia keliru bersikap. Dan dari dalam ia salah menyimpulkan. Naasnya, salah kesimpulan yang fatal. Hingga tega menghilangkan nyawa orang lain.
Tapi untunglah, seperti yang aku dengar lebih lengkap di berita tersebut, pelaku merasa menyesal dengan tindakannya itu. Bahkan kepada penyidik kepolisian, ia kooperatif. Mau menjelaskan secara detail peristiwa sebenarnya yang terjadi itu.
Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih, ia diperkirakan akan menjalani hukuman yang lama. Sebab kuat perkiraan ia akan dijerat pasal pembunuhan dengan kesengajaan. Dengan kejadian itu, nama baik sebagai pengajarpun akan dipertaruhkan di hadapan publiknya sendiri. Aku sendiri berharap bapak dosen tersebut akan siap lahir batin dengan opini publik kepada dirinya itu.
Dan jangan pernah lupa, kita juga harus memastikan tentang diri kita sendiri. Kita harus tetap waspada terhadap dua jenis perampok yang hidupnya dalam diri kita, ala Gede Prama tersebut. Pasalnya, banyak orang yang kelihatannya sih aman dari jamahan dan jajahan dua perampok tersebut. Tetapi pada kenyataannya, ia malah suka berkongkalikong dengan dua perampok tersebut. Sehingga sang perampok menguasai keputusan-keputusannya. Keputusan yang bloon.
Kita tentu sering mendengar – bahkan mungkin kita sendiri pernah menjadi pelakunya – kasus-kasus kebohongan yang terjadi di sektor perdagangan gorengan. Salah satunya, ada mas-mas yang makan gorengan enam biji di sebuah warung gorengan di pinggir jalan, tapi ketika ia membayar kepada ibu penjualnya, ia mengaku cuma makan dua biji. Nah ketahuan, si mas-mas itu telah bermain-main dengan kedua perampok tersebut.
24 Maret 2019
Tetapi moment kebersamaan nobar acara tivi tadi malam, yang jarang kami lakukan, ternyata tidak sesempurna yang aku kira. Lelah dan payah memang sirna. Gejolak emosi juga seperti merendah. Namun, ada salah satu pemberitaan tivi yang kami tonton tadi malam, yang benar-benar membuat emosi saya bergeliat.
Salah satu berita tivi yang membuat saya sedikit emosi tersebut tentang kasus pembunuhan seorang staf sebuah kampus di Makasar. Pembunuhnya seorang dosen yang nota bene kawannya sendiri di kampus tersebut. Modusnya, pelaku yang dosen itu, sakit hati atas beberapa ucapan dan tindakan korban yang menurutnya pantas dibalas, berupa kematian. Maka dibunuhlah korban yang seorang perempuan itu.
Aku tidak habis pikir, tentang pelakunya yang berprofesi sebagai dosen itu. Sebab bagaimanapun dosen itu tergolong orang yang terdidik. Sekolahnya tinggi. Bacaannya banyak. Pengalaman kehidupannya juga banyak. Tapi mengapa tega membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, hanya karena sakit hati?
Ada sebuah argumen dari istriku yang ia sampaikan dan tiba-tiba saja memecah suasana emosionalku. Menurutnya dosen itu manusia biasa. Ia punya hati seperti manusia-manusia lainnya. Ia juga punya nafsu dan emosionalitas. Maka tidaklah aneh si pelaku dosen tersebut bisa terpeleset dalam keputusan hidup yang murni kriminal dan tidak bisa dianggap benar itu.
Sedikit banyak aku membenarkan argumentasi istriku itu. Namun menurutku argumentasi tersebut harus diiringi penjelasan lainnya yang bisa menjadi lampu penerang buat banyak orang. Supaya kasus penghilangan nyawa orang lain yang melanggar hukum pidana ini, tidak diulangi lagi oleh orang lain.
Akupun teringat sebuah istilah unik yang diciptakan Gede Prama di dalam bukunya Hidup Sejahtera Selamanya. Motivator berkelas internasional ini bertutur, tentang adanya dua perampok di dalam diri kita!
Hah, perampok? Bawa senjata dong mereka? Dan jumlahnya pasti lebih dari satu orang? Juga pasti berbahaya kepada nyawa kita? Sama sekali tidak tepat. Perampok yang dimaksudkan itu bukan seperti perampok yang sukanya mengeroyok sopir kontainer di tengah jalan. Atau yang sering mengobrak-abrik rumah mewah, sehingga barang-barang berharga di dalamnya berhasil mereka gondol. Ini tentang perampok yang tak kasat mata, yang lebih berbahaya dibanding jenis perampok yang kasat mata itu.
Perampok pertama, apapun yang bersumber dari luar diri kita dan yang membawa masuk adalah panca indera kita sendiri, terutama mata dan telinga. Bagi orang dengan kedewasaan yang kurang atau nalar yang kurang sehat, apa saja yang diterima mata dan telinga, tidak serta merta ia kelola terlebih dahulu. Ia menerima apa adanya berita, tontonan atau warta yang didapat mata dan telinganya.
Karena tidak dikelola atau direnungkan, maka perolehan dari mata dan telinga tersebut langsung menyulut emosinya. Ia sangat percaya dengan mata dan telinganya. Sehingga perolehan dari luar itu tidak disaring, tapi langsung disimpulkan. Tidak ditelaah, tapi langsung dijadikan keputusan. Sekalipun salah dan dosa. Nampaknya pak dosen tersebut, berhasil dikalahkan perampok yang pertama ini.
Sedang perampok jenis kedua, lain lagi. Ia bersumber dari dalam diri seseorang dan yang mengangkutnya adalah emosi, perasaan dan opininya sendiri. Apa yang diperoleh dari luar memang ia kelola dengan perangkat yang ada dalam dirinya. Namun, perangkat berwujud emosi, perasaan dan opini tersebut, ternyata tidak sesehat yang dikira.
Karena tidak sehat oleh sebab selama ini suka berternak rasa curiga, mudah meledak, sering tersinggung, senang dipuji dan sejenisnya itu, maka ketiga perangkat itu malah lebih menjerumuskan lagi pada orangnya. Emosi tidak bisa ditahan, perasaan sering curiga dan opini yang tidak sesuai hati nurani, akan membawa seseorang menghasilkan keputusan hidup yang gelap. Keputusan yang keliru besar.
Dan lagi-lagi dosen pelaku pembunuhan tersebut gagal untuk membendung perampok jenis yang kedua. Alhasil, dari luar ia keliru bersikap. Dan dari dalam ia salah menyimpulkan. Naasnya, salah kesimpulan yang fatal. Hingga tega menghilangkan nyawa orang lain.
Tapi untunglah, seperti yang aku dengar lebih lengkap di berita tersebut, pelaku merasa menyesal dengan tindakannya itu. Bahkan kepada penyidik kepolisian, ia kooperatif. Mau menjelaskan secara detail peristiwa sebenarnya yang terjadi itu.
Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih, ia diperkirakan akan menjalani hukuman yang lama. Sebab kuat perkiraan ia akan dijerat pasal pembunuhan dengan kesengajaan. Dengan kejadian itu, nama baik sebagai pengajarpun akan dipertaruhkan di hadapan publiknya sendiri. Aku sendiri berharap bapak dosen tersebut akan siap lahir batin dengan opini publik kepada dirinya itu.
Dan jangan pernah lupa, kita juga harus memastikan tentang diri kita sendiri. Kita harus tetap waspada terhadap dua jenis perampok yang hidupnya dalam diri kita, ala Gede Prama tersebut. Pasalnya, banyak orang yang kelihatannya sih aman dari jamahan dan jajahan dua perampok tersebut. Tetapi pada kenyataannya, ia malah suka berkongkalikong dengan dua perampok tersebut. Sehingga sang perampok menguasai keputusan-keputusannya. Keputusan yang bloon.
Kita tentu sering mendengar – bahkan mungkin kita sendiri pernah menjadi pelakunya – kasus-kasus kebohongan yang terjadi di sektor perdagangan gorengan. Salah satunya, ada mas-mas yang makan gorengan enam biji di sebuah warung gorengan di pinggir jalan, tapi ketika ia membayar kepada ibu penjualnya, ia mengaku cuma makan dua biji. Nah ketahuan, si mas-mas itu telah bermain-main dengan kedua perampok tersebut.
24 Maret 2019
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda