Langsung ke konten utama

Puasa yang Curang

Sumber: Deviantart.com

Curang, kini menjadi salah satu kosa kata yang sangat populer. Banyak orang menggaungkan kosa kata ini. Ia digaungkan tidak saja di media massa, tapi juga di media sosial. Malahan, di media sosial itulah kosa kata ini mendapatkan panggungnya.

Sayangnya kosa kata yang familier digandengkan dengan tiga kosa kata lainnya – massif, terstruktur dan sistematis – ini menjadi kurang adil dalam pemakaiannya. Sebabnya, ia hanya diperuntukkan kepada orang lain. Berupa klaim-klaim yang tidak berdasar keputusan pengadilan. Sementara si pengeklaim sendiri, merasa bersih dari dugaan itu.

Ah, tapi itu sih bagian dari aroma politik yang sedang hot-hotnya. Semenjak pilpres yang belum selesai tahapannya ini, memang hawa politik tidak semakin dingin. Padahal harusnya bisa didinginkan. Sebab yang dingin-dingin itu menyegarkan.

Masyarakat pasti ingin yang dingin-dingin. Dalam arti hidupnya tidak terganggu oleh keriuhan semacam demo-demo demi capres yang sebenarnya tidak bermanfaat lagi itu. Menurut sebagian masyarakat, ada yang lebih tepat daripada itu semua, ialah bekerja, berinovasi dan berkreasi.

Masyarakat, karena itu, akan lebih bangga jika di antara mereka muncul orang-orang yang berprestasi. Sebab ada karya yang berhasil dibuatnya. Karya yang punya nilai manfaat buat kehidupan. Bukan gelut politik sepanjang tahun yang melelahkan dan memalukan.

Syukurlah, saya melihat, sekarang ini banyak kampus dan sekolah yang memupuk kreatifitas dan inovasi kepada mahasiswa dan murid-muridnya. Banyak pula anak-anak muda yang punya inovasi tinggi menjadi pengusaha, penulis, pendidik, dan lain-lainnya. Dan itu sungguh lebih bermanfaat dibanding demonstrasi di jalanan yang tiada henti.

***

Kembali lagi kepada bahasan awal tentang kosa kata curang.

Sekarang kita semua yang muslim sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebuah ibadah yang saya meyakini nilai kebaikan dan pahalanya berlimpah ruah. Buktinya Allah merahasiakan hitungan-hitungan tersebut. Namanya rahasia biasanya mahal harganya.

Di bulan ini juga keberkahan dan ampunan Allah dihamparkanNya begitu murahnya. Bayangkan saja, tidurnya orang yang berpuasa dihitung ibadah. Diamnya orang berpuasa dihitung bertasbih. Amal shalih orang yang berpuasa dilipatgandakan. Doanya orang yang berpuasa dijamin ijabah. Dan dosa orang yang berpuasa dijamin ampunan.

Jadi hamparan keberkahan dan ampunan itu selaksa paket lengkap demi kebahagiaan manusia, di dunia dan akhirat. Sungguh Allah tidak main-main memberikan fasilitas itu.

Fasilitas lainnya dari Ramadhan adalah dibukanya pintu surga lebar-lebar. Ditutupnya pintu neraka rapat-rapat. Dan dibelenggunya setan agar tidak bisa menggoda manusia. Fasilitas ini selaksa mengantarkan pejalan puasa tertuju pada surgaNya semata. Sepertinya Allah tak sudi pejalan puasa Ramadhan terjerumus ke dalam neraka.

***

Lalu apa hubungannya dengan curang? Kok bertele-tele sih?

Sodaraku yang budiman. Ramadhan yang suci memang telah menghiasi kehidupan kita di bulan ini. Tetapi peristiwa sosial yang negatif, yang sebenarnya bertolakbelakang dengan semangat kesucian Ramadhan yang dilakukan sebagian dari kita, masih saja terus terjadi. Lagi-lagi media sosial menjadi wadah penumpahan ulah negatif tersebut.

Coba hitung saja, berapa banyak makian, fitnahan, kabar bohong, bahkan ancaman yang menggelegar di media sosial yang terjadi di bulan Ramadhan ini? Ternyata masih banyak dan intensitasnya masih sama. Sama seperti sebelum bulan suci ini hadir di kehidupan kita.

Itulah wujud kecurangan-kecurangan yang saya maksudkan, yang dilakukan di bulan puasa ini. Sungguh sangat ironis, Ramadhan yang suci, tapi ulah kita tidak suci. Maka kecurangan-kecurangan itu harus kita pertanggungjawabkan sendiri langsung kepada Allah Swt, bukan kepada KPU, Presiden atau rakyat.

Oleh karena itu ingatlah sebuah sabda Nabi Saw.

“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, Aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa bermanfaat sebagai perisai, dan perisai itu wujudnya ucapan inni shaimun, aku sedang berpuasa. Perisai dari perilaku yang bisa mengurangi pahala puasa. Perisai dari peluang berkata keji, berbohong, memaki, memfitnah dan mengancam.

Tetapi apa yang terjadi dengan perisai itu? Apakah perisai itu tidak digunakan oleh para pelaku puasa, sehingga masih suka mengumpat, memaki, berbohong, memfitnah dan mengancam?

Saya tidak paham bagaimana jawaban dari hatinya. Namun yang nyata terlihat, keluarnya bahasa mulut yang negatif, bisa jadi menunjukkan bahwa perisai itu tidak dipakainya. Padahal ia mengaku berpuasa. Mengakui bahagia bila Ramadhan mendatanginya. Kecuranganpun terjadi dengan tanpa disadari.

Sehingga sebuah parodipun bisa ditampilkan untuk menggambarkan fenomena ini:

Saat pelaku puasa itu memaki orang lain sejadi-jadinya, datanglah seorang malaikat. Malaikat yang mendengar makian itupun menghampiri si pemaki tersebut. Kemudian ia menanyakan kebenaran puasanya itu.

“Hai Kisanak. Mengapa kamu memaki?”

“Aku memaki karena yang dimaki pantas untuk dimaki.”

“Kisanak puasa, kan?”

“Iya, sudah jelas aku berpuasa. Apa kamu tidak melihat tongkrongan kostumku ini?”

“Kalau Kisanak puasa, mengapa masih memaki dengan kata-kata kotor itu? Seharusnya, puasa Kisanak itu menjadi penahan nafsu Kisanak untuk tidak berperilaku yang tidak suci tersebut. Puasa itu suci. Sedang memaki itu najis. Tidak bisa digabung yang suci dengan yang najis.”

***

Perisai berupa inni shaimun, bisa dimaknai juga sebagai sikap kejujuran kita dalam berpuasa. Anda berpuasa secara lahir dan bathin, secara sungguh-sungguh, maka lahir dan bathin Anda juga akan mengikuti alur puasa. Mulut hanya berkata yang baik-baik. Kalau tidak bisa, ia diam. Tangan, kaki, pikiran, dan lain-lainnya, juga akan diam, manakala tahun yang akan dilakukannya itu mengotori kesucian Ramadhan.

Mengapa demikian? Sodaraku yang budiman. Jika pejalan puasa tidak jujur dalam berpuasa, boleh jadi kita tidak akan tahan akan godaan setan. Semakin tidak menggunakan perisai kejujuran dalam berpuasa, semakin terbuka godaan setan itu merasuki pikiran.

Memang setan dibelenggu, sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw. Tetapi menurut sebagian penafsir, salah satunya Ustaz Ahmad Sarwat, Lc, seperti diungkapkan di akun facebooknya, bahwa yang dimaksud setan dibelenggu itu hanya tangannya. Sementara mulutnya tidak. Sehingga setan masih bisa menggoda dengan orasi-orasi yang melenakan berupa kemaksiatan dan kemunkaran yang dibisikkan ke dada manusia. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat al-Nas ayat ke 5:

“Yang membisikkan ke dalam dada manusia.”

Ketika orasi atau motivasi yang menggiurkan itu memasuki dada, dan kita terpengaruh, maka bisa jadi kita akan terpelanting dari hakikat puasa kita. Alias kita hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi tak sanggup menyerap nilai luhur puasa. Sebagaimana sabda Nabi Saw.

“Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apapun dari puasanya selain lapar dan haus.” (HR. Imam Ahmad)

Oleh karena itu jangan sampai kita mengkoar-koarkan kecurangan terhadap orang lain. Sedangkan kita sendiri tak menyadari sering bersikap curang dalam berpuasa. Wallahu a’lam
 
Mojokerto, 20 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...