Langsung ke konten utama

Kita dan Modus Pengibulan yang Kita Percayai


Sekira dua bulan yang lalu, saya membaca postingan di sebuah akun facebook yang menurut saya lumayan lucu. Postingan itu berupa foto seorang kakek tua, duduk di atas motor Yamaha Jupiter warna merah miliknya. Wajah si kakek yang terpotret, nampak butuh pertolongan.

Si pemilik akun melengkapi dengan sebuah cerita, bahwa kakek tua itu ia temui di sebuah pom bensin. Si kakek mengaku sedang mencari salah satu anggota keluarganya di sebuah daerah di Mojokerto. Namun di tengah jalan, ia kehabisan uang. Padahal rumahnya jauh, di Nganjuk. Iapun belum sampai ke tempat tujuan dimaksud.

Kontan saja karena iba, si pemilik akun itu memberikan sebagian uangnya ke kakek yang wajahnya melasi itu. Dilambari doa, semoga si kakek cepat menemukan salah satu anggota keluarganya itu. Semoga pula tidak ada kendala di sana sini, khususnya risiko kehabisan bensin di tengah jalan.

***

Selanjutnya, postingan bernada kepedulian kepada sesama itupun mendapat banyak respon. Tentu saja berupa komentar-komentar dari netizen pemerhati postingan itu. Banyak yang iba dan mendukung si penulis status, sebab itu perbuatan mulia. Sungguh, menurut mereka, itu sikap yang pantas dijadikan tauladan. 

Disamping muncul banyak dukungan, ternyata tidak sedikit yang berkomentar lain. Pada intinya berisi himbauan, agar netizen jangan mudah tertipu. Sebab kini sering terjadi modus penipuan. Pelakunya beragam, lintas usia. Dan bisa jadi si kakek yang fotonya terpampang aduhai itu, adalah salah satu tukang modus dimaksud.

Tak bisa dihindari, komentar yang inipun langsung mendapat “serangan balik”. Mereka yang tidak sepakat dengan komentar pesan hati-hati itu memandang, bahwa yang dilakukan penulis status itu sudah benar. Karena si kakek tersebut jelas-jelas berwajah pantas dikasihani.

Maka yang terjadi kemudian, bertarunglah para komentator itu membela isi komentarnya masing-masing. Mereka menganggap setiap komentarnya adalah tepat. Sehingga tidak bisa dibantah oleh siapapun, bahkan oleh orang yang paham jati diri si kakek yang melasi itu.

***

Comment wars itulah yang menurut saya lucu. Apalagi di sela-sela ratusan komentar itu ada juga terselip komentar yang lebih menggelikan. Isinya, mereka menganggap berbuat baik itu sah-sah saja meskipun kepada seorang penipu, seandainya si kakek memang tukang modus. Wwwkkkkkk.

Begini wahai Netizen. Ketika menjelajah postingan itu, saya memang tidak berkomentar sama sekali. Saya hanya menscroll akun facebook itu dari atas hingga ke bawah. Sambil, sekali lagi, tertawa ngakak melihat perang komentar yang tak tentu arah itu.

Saya merasa geli dan lucu, sebab perlu Netizen ketahui bahwa sebelum saya membaca postingan dan perang komentar itu, sebetulnya saya sudah pernah bertemu dengan kakek tua yang melasi itu. Saya bertemu dengannya di bulan Ramadhan, ketika saya sedang mampir ke sebuah masjid. Catat ini baik-baik ya.

Ceritanya, ketika saya belok di depan sebuah masjid di daerah Krian Sidoarjo, untuk melaksanakan salat dzuhur, si kakek yang melasi itu sudah terlebih dulu ada di situ. Ia duduk di teras dan memandangi saya. Bahkan ketika saya melepas sepatu, ia menghampiri saya.

Ia membuka omongan, hari itu ia sudah menambal ban motornya dua kali. Saya tanya dari mana dan mau ke mana. Ia menjawab dari Surabaya mau ke Nganjuk. Tapi ia akan mampir dulu ke cucunya di sebuah panti asuhan di Mojokerto. Ketika saya tanya panti asuhan mana, tetapi jawabannya tidak jelas.

Singkat cerita, sayapun usai berwudlu dan melaksanakan salat. Seusai salat itulah, ketika saya melangkah ke tempat sepatu saya, si kakek ini mencegat saya. Dan dengan terang-terangan meminta sedekah dari saya. Tanpa banyak berpikir panjang, saya memberinya sedekah dua puluh ribu.

Tetapi peristiwa selanjutnya, benar-benar memunculkan tanda tanya besar di benak saya. Sebab setelah saya beri sedekah, si kakek itu juga meminta sedekah ke orang lain yang saat itu baru tiba di masjid. Ia seorang sopir mobil box, yang ketika saya lirik, juga mengeluarkan uang dari sakunya. Lalu diberikan kepada kakek yang lumayan viral itu.

Makanya ketika saya baca postingan yang memunculkan comment wars dan juga melihat foto si kakek yang aduhai itu, sayapun langsung terpingkal. Sayapun menertawai diri sendiri, juga pemosting status, dan tidak lupa para komentator yang riuh itu. Karena kami semua telah menjadi korban modus si kakek yang wajahnya mirip aktor sepuh dari Hongkong itu. hahaha

***

Kasus kakek modus yang lupa tidak saya tanya namanya itu, mengingatkan kita pada beberapa kasus modus lainnya yang juga berhasil mengibuli kita di tahun ini. Pertama, Pak Amir (Amirudin) yang berjalan kaki ratusan kilo meter dari Medan menuju Banyuwangi (silahkan cari sendiri berita lebih lengkapnya). Betapa kita saat itu telah digarap habis oleh Pak Amir. Bahkan aparat juga menjadi korban pengibulan itu.

Dan kedua, penipuan oleh Livi Zheng yang sedang hangat-hangatnya. Seperti diberitakan banyak media, Livi Zheng mengakui jika ia adalah seorang sutradara negeri kita ini, yang berhasil menembus perfilman Hollywood. Prestasi itu kemudian membawanya bisa foto bareng dengan beberapa tokoh nasional. Beberapa diantara tokoh nasional ada pula yang mengakui prestasi wanita cantik ini.

Namun seperti kita ketahui juga, pada akhirnya kedoknya terbongkar. Jika ia bukan sutradara film yang berhasil memenangkan Piala Oscar atau penghargaan di festival-festival film internasional lainnya. Dia hanya sutradara film-film biasa. Yang kebetulan bisa ditayangkan di Hollywood.

Jujur saja, saya dan mungkin Sodara semua, tiba-tiba merasa geli dengan kedua orang yang berhasil mengibuli kita. Kita seperti terhipnotis, dan menerima apapun tampilan dan topeng yang mereka dramakan. Awalnya kita terpukau. Namun setelah kita paham wajah di balik topeng itu, mendadak kita jadi malu sendiri. Maka mari kita ketawa bersama-sama: Huhahahaha.

***

Kasua Pak Amir, Livi Zheng dan si kakek yang viral itu, menunjukkan jati diri sebagian besar dari kita bahwa ada kelemahan yang jelas-jelas ada pada kita. Apa itu? Ketidakhobian kita meneliti guna menggali informasi dan data-data sebenarnya tentang obyek yang sedang terpampang di depan kita.

Kebanyakan dari kita hanya terpukau dan terhipnotis oleh informasi awal. Biasanya informasi yang mempengaruhi sisi emosi atau perasaan kita. Kita benarkan informasi itu melalui emosi dan perasaan. Kemudian perasaan kitapun jadi mengikuti alur pengibulan itu.

Lho, tapi kan kasus Pak Amir dan Livi Zheng, informasinya kita terima dari media, masa kita harus ikut menggali informasi sebenarnya tentang keduanya? Tentu saja itu pekerjaan yang berat bagi netizen. Karena itu tulisan ini juga sebagai himbauan kepada para “kuli tinta”, supaya kalau memberitakan, mbok yao diteliti dulu kebenarannya. Diteliti dulu sejatinya seperti apa.

Dan kepada kita semua, para Netizen yang mulia, kiranya kita juga perlu meneliti dengan seksama terhadap informasi yang kita terima di awal. Caranya, endapkan dulu kepercayaan. Hingga datang kemudian informasi paling mutakhir dan paling valid kebenarannya. Entah informasi lanjutan dari media, atau hasil dari penelitian kita sendiri. Supaya tidak terjadi lagi peristiwa “kemaluan” secara massal terhadap kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...