Langsung ke konten utama

Postingan

FILSAFAT SIAPA-SIAPA

Sore kemarin aku sowan emak. Seorang manusia sepuh yang jadi kebanggaanku. Seseorang yang telah meramut dan memeliharaku hingga segede ini. Emak agak kaget ketika aku menyambangi gubuknya. Maklum, karena biasanya aku sowan di pagi hari. Bukan di sore hari menjelang petang, seperti kemarin. Yang kata embah-embah dulu, surup itu waktunya setan-lelembut-garangan keluar dari persembunyiannya. Emak menyambutku dengan rona muka penuh tanda tanya. Aku meramal, sekejap aku duduk di bayang bambu milik emak, emak akan lekas menyorongkan pertanyaan. “Ada apa kamu Cung datang kemari surup-surup seperti ini?” Nah betul, kan. Emak tak sabar untuk bertanya padaku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaan emak. Yang aku lakukan malah menyentuh tangan dan pundaknya. Mengusap rambutnya yang memutih total. Juga mengusap-usap pipi kewut -nya. “Ada apa toh Cung kamu ini?” Lagi, emak bertanya padaku. Dan lagi-lagi aku tidak langsung menjawabnya. Karena yang aku lakukan ganti memegang tanganku send...

Andrea Pistilli feat Alip Ba Ta: Pagebluk

Andrea Pistilli, seorang musisi Itali, sekitar setahun lalu membuat video kolaborasi dengan Alip Ba Ta, gitaris fingerstyle dalam negeri yang kini dipuja di mana-mana. Keduanya memainkan Pagebluk, lagu yang dianggit Bang Alip. Tepat di saat Covid-19 menghantam dunia dengan hebatnya beberapa waktu silam. Dalam video yang diunggah di channel Andrea Pistilli itu, sangat kuat terkesan bahwa Andrea tidaklah serampangan dalam memainkan alat musiknya. Ia nampak kalem. Membersamai dan mengikuti permainan Bang Alip. Andrea memposisikan diri sebagai pemain pelengkap, bukan pemain utama. Ini memang video editan. Andrea mengambil video Bang Alip ketika memainkan Pagebluk. Kemudian, Andrea melengkapi permainan Bang Alip dengan gitar dan organ kecil yang dimainkannya. Petikan gitar Bang Alip pun menjadi tidak sendirian. Pagebluk tergiang dalam satu orchestra kecil yang sungguh asyik untuk dinikmati. Jadilah, kita bisa menyimak sendiri, kolaborasi dua musisi yang diidolakan banyak orang itu, t...

Misi Besar Menjaga Kualitas

Seorang temanku pernah bercerita tentang mendiang mertuanya. Bahwa mertuanya itu, pasca meninggal dunia beberapa bulan silam, mewariskan banyak sekali benda-benda berharga. Salah satunya sebuah mesin obras.   Mesin tersebut, seingatnya, ia beli sekira tiga puluh tahun silam. Mesin itu diproyeksikan sebagai perangkat kerja mertuanya. Yang luar biasa, walau sudah sepuh, tapi mesin tersebut masih bisa bekerja secara maksimal, hingga sekarang. Menurut pengakuannya, mesin itu pernah rusak hanya beberapa kali. Dan ketika rusak, begitu mudah untuk mereparasinya. Selebihnya, mesin itu bisa bekerja secara luar biasa tanpa terkendala. Menjadi penyokong utama ekonomi mertuanya, dari jasa menjahit dan mengobras pakaian.   Mendengar cerita itu, yang muncul di pikiranku hanya ketakjuban. Mengapa mesin yang dibuat puluhan tahun silam itu bisa tetap normal dalam jangka yang cukup lama? Apakah ada rahasia tertentu dalam pembuatannya di saat itu? Aku memang sangat yakin, pasti ada ...

Matinya Orang-orang Penting

Majelis manakiban di Jum’at malam itupun akhirnya dilaksanakan setelah dua kali libur. Maklum sebagai imam majelis, Gus Ahmad dan istri sedang pergi umrah. Beberapa jamaah juga ada yang ikut serta umrah bersama beliau. Majelis manakiban pun diputuskan tidak dihelat selama dua kali pertemuan. Maka di malam itu, majelis manakiban yang intinya meminta barakah kepada Allah melalui karamahnya Syekh Abdul Qadir Jailani, diikuti banyak orang. Mereka antusias setelah libur dua kali. Mereka merasa kangen dengan majelis yang di setiap usai pembacaan kitab manakib Nurul Burhan, selalu dibuka sesi tanya jawab oleh Gus Ahmad. Tapi tentu saja dengan suasana santai dan dipenuhi guyon. Saat dibacakan kitab manakib di malam itu, jamaah khusyuk menyimak dan sesekali menyahut pembaca kitab. Saat itu yang menjadi pembaca kitab adalah Kang Jupri. Bacaannya lumayan pelan, santuy, sehingga bisa diikuti rata-rata para jamaah. Yang paling spesial tentu saja lagu yang dipakainya, selalu membuat tenang jama...

Bertabligh Tapi Tidak Berfathanah

Selepas membaca koran pagi dan menyeruput kopi bikinan istrinya, Gus Ahmad beranjak ke halaman depan. Namun sebelum menuju halaman, Gus Ahmad terlebih dulu masuk ke gudang, mengambil “gantar”. Beliau hendak mengunduh beberapa mangga gadung di depan rumahnya yang kelihatan mulai matang. Sambil lirih mendendangkan shalawat, Gus Ahmad khusyuk mendongakkan kepalanya. Beliau mencari mangga mana saja yang akan “disunggeknya”. Rencananya beberapa akan dimakan sendiri dengan istri dan anaknya. Beberapa lainnya akan disimpannya untuk konsumsi acara manakiban yang rutin digelar setiap Jum’at malam di kediamannya. Ketika beliau sudah beberapa menit melakukan aktivitas itu, datanglah Kang Dargombes. Seorang murid manakiban yang rumahnya memang tak jauh dari kampung Gus Ahmad. Karena dekat itulah, Kang Dargombes termasuk murid yang paling sering ngobrol, paling sering sowan dan pasti pula paling sering “ngerepoti” Gus Ahmad dan keluarganya. Gus Ahmad sempat kaget dengan kedatangan Kan...

Kewasathiyahan Islam Sebagai Paramater Umat

Salah satu pangkal persoalan yang terjadi di tengah umat (Islam) adalah munculnya sikap beragama yang terlalu ke kanan atau ke kiri. Dalam terminologi umum, terlalu ke kanan disebut ekstrim kanan dan terlalu ke kiri disebut ekstrim kiri. Gerakan ekstrim kanan dalam Islam sering diwakili oleh kelompok-kelompok yang sedikit-sedikit mengharamkan dan membid’ahkan amaliah kelompok lain. Bahkan tidak jarang mengkafirkan. Hal itu terjadi berdasarkan cara mereka menafsirkan teks suci agama dengan tafsir yang kaku. Akal tidak difungsikan secara proporsional oleh mereka. Sedang ekstrim kiri, diwakili oleh kelompok-kelompok liberal. Sebuah kelompok yang mendasarkan pendapatnya terlalu banyak dari akal. Akal diposisikan berada di atas teks suci agama. Sehingga pendapat kelompok ini sering bertolak-belakang dengan pesan suci teks-teks agama, dalam hal ini al-Qur’an dan al-Hadits. Dari sekilas uraian pembuka di atas dapat diperoleh gambaran yang tegas, bahwa jika kedua gerakan ekstrim...

Militansi Nenek-nenek Muslimat NU

Sumber foto: seword.com SAYA DULU PERNAH MENULIS CATATAN singkat di laman facebook saya mengenai militansi ibu-ibu Muslimat NU (Nahdlatul Ulama). Tulisan tersebut saya saring dari tinjauan empiris, yang setiap hari lekat di kehidupan saya. Yang paling kuat, bersumber dari ibu saya dan seluruh kader Muslimat di kampung saya yang memang terkenal militan: ulet dan tanpa kenal lelah. Hingga sekarang kemilitanan itu masih terus dilakukan. Seperti hari Ahad dua minggu yang lalu, ibu saya dan anggota Muslimat lainnya mengadakan kegiatan foto untuk kartu anggota. Saya ingat betul ibu berangkat ke tempat acara sebelum pukul tujuh pagi. Pulangnya siang hari setelah dzuhur. Agenda penting tersebut sebetulnya sudah diawali beberapa hari sebelumnya. Ibu saya misalnya, sudah beberapa hari beliau menerima setoran foto copy Kartu Keluarga (KK) dari seluruh anggota Muslimat, yang akan dicatatnya dalam lampiran data calon penerima kartu anggota. Jumlah lembar foto copy KK yang diteri...

Biarpun Tua, Tapi Masih Hamil Juga: Resume Film Badhaai Ho

Jeetu (Gajraj Rao) dan Priamvada (Neena Gupta) adalah pasangan suami istri yang usianya lumayan tua. Dikatakan lumayan tua, karena usia keduanya itu berkisar antara 45 hingga 50 tahun. Keduanya tinggal di sebuah rumah di kompleks perumahan kelas menengah, yang lumayan padat. Mereka punya dua orang putra: Nakul (Ayushmann Khurrana) seorang jejaka matang siap menikah, dan Gullar (Shardul Rana), seorang remaja tingkat SMA. Bersama mereka, di rumah juga ada sang nenek renta, ibunda Jeetu. Awalnya di keluarga ini tidak terjadi masalah yang berarti. Mereka hidup sewajarnya, sesuai dengan aktivitas sehari-hari mereka. Jeetu yang berprofesi sebagai pegawai bagian tiket di perusahaan kereta api milik pemerintah, setiap hari melakukan pekerjaannya itu dengan rileks dan santai. Begitu pula dengan Nakul, ia juga bekerja di sebuah perusahaan swasta seperti biasanya. Demikian juga dengan Priamvada, ia seorang ibu rumah tangga yang sering bercengkrama dengan ibu-ibu lainnya di kompleks ...

Ilmu Pengetahuan Rasulullah

SEJAK KITA DUDUK DI BANGKU SEKOLAH DASAR atau Madrasah Ibtidaiyah, kita telah disodorkan beban belajar pada dua mata pelajaran penting: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kedua mata pelajaran ini punya muatan masing-masing, supaya para murid mengetahui apa yang terjadi di alam semesta dan supaya mereka bisa berhubungan secara harmonis dengan orang lain. Sepanjang yang saya ketahui, pelajaran ini kontinyu diajarkan hingga di bangku perkuliahan. Jika di level SD hingga SMA dikenal sebagai mata pelajaran IPA dan IPS, maka ketika di bangku perkuliahan berubah menjadi mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD) dan Ilmu Sosial Dasar (ISD). Saya sangat bersyukur pernah duduk di bangku kuliah dan merasakan betapa (tidak) berartinya dua mata kuliah ini. Wwwkkkkkk Saya perlu berpendapat seperti itu, karena menurut saya, dua mata kuliah fenomenal ini sangat tidak kontekstual lagi. Terlalu mengulur-ulur waktu kuliah mahasiswa. Juga sangat mudah dipelajari. Bahkan me...