Langsung ke konten utama

Bangunlah Rumahmu Sederhana Saja

“Bangunlah rumahmu sederhana saja,” sebuah nasihat yang disampaikan seorang kiai kepada saya. Kapan? Dua hari yang lalu. Sebuah nasihat yang masih hangat. Nasihat yang saya akui belum pernah saya dengar hingga detik itu . Agar tidak hilang, maka saya tuliskan saja, dan saya bagi.

Sebutlah nama kiai tersebut Gus Ahmad (nama asli). Seorang kiai kampung yang punya jadwal mengaji di beberapa desa sekitar. Kebetulan beberapa hari yang lalu istri beliau pulang dari umrah. Saya berkesempatan bertamu ke beliau, untuk hormat kepulangan umrah tersebut.

Kami terlibat obrolan yang hangat. Tentang cerita umrah istri beliau. Tentang kegiatan beliau yang padat merayap. Dan yang menarik pula, tapi tidak saya bahas dalam tulisan ini, tentang cerita bahwa baru saja beliau membeli puluhan buku dari sebuah pesantren di Kediri. Hasil menitip dari salah satu anak buahnya. Dan ketika kami – saya dan istri – masuk ke ruang tamu, kami lihat memang beliau sedang asyik membaca sebuah buku, sambil berdiri.

Dari rangkaian obrolan hangat itu tadi, satu yang mengena hingga sekarang ya nasihat tersebut. Berawal dari pertanyaan beliau apakah kami sudah mendaftar haji, yang masa tunggunya 25 tahun yang akan datang? Ya, apalah daya, kami pun menjawab belum. Beliau pun merayu bahwa kami harus punya cita-cita pergi ke sana, ke Makkah dan Madinah. Caranya mulai nabung dari sekarang.

Caranya yang lain, janganlah membangun rumah segede dan semewah mungkin. Menurut beliau membangun rumah itu cukup sederhana saja. Agar supaya harta kita tidak tergerus keseluruhannya di bangunan rumah itu.

Bagi saya, itu merupakan rumus yang rasional. Setiap orang harus punya cita-cita. Sebagai muslim, salah satu cita-cita utama itu adalah pergi haji, melaksanakan rukun Islam ke-lima. Untuk mencapai cita-cita itu, seseorang harus memenuhi syarat. Salah satunya punya biaya pergi ke sana.

Saya kira Gus Ahmad yang satu ini pasti telah meneliti diri saya dan realitas di tengah masyarakat lainnya. Realitas khas orang kampung. Ialah kemampuan finansial yang biasa-biasa saja. Tapi harus diakui, sebagai orang kampung yang berkemampuan finansial pas-pasan, banyak ditemui jika sebagian mereka tidak tepat dalam membelanjakan kemampuan keuangannya itu.

Mohon maaf jika tafsiran saya ini salah. Menurut saya Gus Ahmad paham betul bahwa memang banyak orang yang salah tempat ketika mendistribusikan hartanya. Orientasi mereka bukan haji, bukan umrah, bukan bersedekah ikut menyokong kebutuhan fakir miskin, dan lain-lainnya, yang nilainya demi kemaslahatan bersama. Tetapi, sering terjadi, yang menjadi orientasi mereka adalah rumah, rumah dan rumah.

Rumah dibangun sebesar mungkin. Tembok-tembok memenuhi pekarangan. Setelah berdiri, rumah bak istana raja itu diperhias dengan indah. Lantainya terpasang dari granit berharga ratusan ribu rupiah. Catnya termahal. Gentingnya genting paling kuat. Pintunya dari kayu paling sulit dicari, adanya cuma di hutan Kalimantan. Lampunya gemerincing kemilau indah dan mahal. Ber-AC, ber-CCTV, berteralis besi, dan lain-lainnya.

“Rumahku istanaku”, mungkin itulah semangatnya. Atau “rumahku surgaku”, itu yang mereka pahami, kalimat indah dari Rasulullah (barangkali keliru tolong saya diingatkan). Quote itu kemudian mereka artikan bahwa membangun rumah itu harus seistana dan sesurga mungkin. Dan yang menikmatinya, cukup keluarganya saja.

Karena bak istana dan surga, akhirnya pun rumah itu lengkap fasilitasnya. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani bagi penghuninya, rumah itu pun ibarat fasilitas perumahan elite di kota yang menyuguhkan kelengkapan. Gymnastik, wifi super cepat dan sound system super canggih disediakan sebagai fasilitas kehidupan.

Namun sayang, bersemangat membesarkan rumah, tetapi lalai dalam beberapa hal. Salah satunya tentang cita-cita agung yang saya sebutkan di awal. Lalai tidak berhaji, tidak bersedekah, tidak turut menyumbang pembangungan masjid, membantu pendirian fasilitas umum, dan lain-lainnya. Kelalaian itu terjadi karena orientasinya kurang tepat. Seyogyanya hartanya itu ada hak untuk yang lainnya, tetapi kenyataannya, tidak mau dibagi.

Sebagai kiai kampung yang punya madrasah diniyah di rumahnya, saya kira visi Gus Ahmad dalam memandang problema itu sangatlah tepat. Khas kiai kampung yang saban hari memang menyelami jiwa masyarakatnya. Bahkan tidak saja luas, pandangan dan analisisnya pun luas kitarannya. Beliau tahu problem yang terjadi di masyarakat kini. Dan beliau paham bagaimana solusinya.

Jadi bukan saja untuk urusan haji kita menyederhanakan rumah kita. Bagi saya, sekali lagi tafsiran atas nasihat Gus Ahmad, kadang bangunan rumah yang terlalu wah dan istimewa itu menyakitkan hati bagi orang lain. Saya bayangkan seandainya saya yang kedapuk sebagai fakir miskin yang punya rumah sangat mungil, bertembok gedeg bambu, yang berada di pinggir rumah besar dan mewah, milik seorang yang kaya raya. Wah, kemungkinan besar pikiran ini tidak sanggup membanding-bandingkannya. Bahkan bisa muncul sakit hati tiap hari.

Apakah kalau yang miskin itu anda, dan kebetulan yang kaya itu tetangga anda, dia punya rumah bak istana bercahaya, lalu anda tenang batin, ayem dan damai? Hebat. Jika seperti itu, anda termasuk orang miskin yang luar biasa. Sebab kecemburuan sosial itu tidak bisa dielakkan dan ditutup-tutupi. Apalagi jika yang punya rumah besar itu orang yang medit dan sombongnya minta ampun. Semakin besar saja kecemburuan dan kesakitan hati kita-kita ini.

Sebenarnya memiliki rumah mewah itu memang tidak dilarang. Karena hal itu hak asasi yang tidak bisa digugat. Namun seyogyanya si pemilik istana, mengharmonisasi dirinya dengan jiwa yang sebaliknya, jiwa yang tidak mewah. Jiwa yang terbuka, merakyat dan rendah hati. Saya kira masih ada dan banyak orang yang rumahnya mewah tapi jiwanya merakyat. Mereka selalu memikirkan orang-orang kecil dan terpinggirkan di sekitarnya. Ikut andarbeni membantu jika para saudara kita yang fakir itu butuh uluran tangan.

Dalam sejarah, salah satu contoh orang-orang semacam itu adalah Imam Abu Hanifah. Atau yang lekat kita kenal dengan nama Imam Hanafi, salah satu imam mazhab yang berkecenderungan rasional. Ceritanya, suatu ketika beliau memperoleh hadiah dari seorang bangsawan. Hadiah tersebut tergolong mewah, karena memang wujudnya rumah mewah dan besar. Beliaupun menerima hadiah itu dengan penuh kesyukuran.

Tidak dinyana, kira-kira tiga hari kemudian, datanglah seorang janda pengemis di depan rumah baru nan mewah itu. Ditemuilah pengemis itu langsung oleh sang Imam. Ternyata si janda pengemis itu menceritakan keluh kesah kehidupannya kepada sang Imam. Salah satunya bahwa ia belum mempunyai rumah sebagai tempat tinggal dan berteduh. Mendengar keluh kesah itu, Imam Hanafi pun langsung mensedekahkan rumah itu kepada si janda pengemis. Beliau menghadiahkan rumah mewah itu dengan cuma-cuma, tanpa perlu banyak pertimbangan.

Di situlah sebenarnya lebih menunjukkan lagi jika Gus Ahmad benar-benar mempunyai visi yang jauh. Terutama tentang hubungan sederhananya rumah dan peluang naik haji. Luar biasanya, nasihat rumah sederhana itu memang dipraktikkan langsung oleh beliau, dimana rumahnya ya yang itu-itu saja dari dulu. Sederhana dan tidak besar. Padahal sering ada tamu yang datang dan memberi sedekah. Wallahu a’lam bis shawab


Mojokerto, 11042018 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...