Mereka sangat pantas disebut manusia-manusia puasa. Pasalnya mereka terus saja berpuasa. Padahal bulan Ramadhan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa sudah beberapa minggu ini berlalu. Mereka tak henti-henti puasa.
Setelah Ramadhan usai, umat memasuki babak kehidupan yang baru. Sejak Idul Fitri dan seterusnya, maka rutinitas puasa akan umat tinggalkan. Kecuali orang-orang yang punya hobi puasa sunnah Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa-puasa lainnya. Umat berganti dengan rutinitas yang selama ini mereka jalani.
Bahkan, banyak pula yang menganggap setelah Ramadhan usai, saatnya lagi mengegas semangat makan, minum, ngerokok, dan lain-lainnya. Tidak sedikit pula yang kembali ke habitat aslinya. Yang biasa menyewa PSK, berjudi, sabung ayam dan minum-minuman keras, mereka kembali ke “selera asal”. Sebelum Ramadhan tidak shalat, pun ketika usai bulan suci itu, ia kembali lagi tidak melakukan shalat.
Lain, mereka, para manusia-manusia puasa itu tetap berpuasa sekalipun Ramadhan telah pamitan. Mereka tetap jarang makan, minum, merokok, apalagi yang negatif itu. Mereka tetap konsisten hidup dengan menikmati ketiadaan. Apanya yang harus diadakan, lha wong untuk mencari alat mengadakan saja tidak mereka punyai.
Salah satu contohnya Mak Dukah, bukan nama asli. Perempuan tua ini janda mati. Suaminya meninggal kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ia sebenarnya punya anak angkat, tapi tidak tahu kabarnya bagaimana. Sudah enakkah hidupnya? Di manakah tinggalnya? Kerja apa dia? Punya anak berapa? Semua pertanyaan itu tidak diketahui jawabannya.
Yang ia tahu hanya satu kepastian, bahwa anak angkatnya itu tidak pernah menengoknya. Selama puluhan tahun setelah ia dinikahkan dengan gadis pujaannya, anak itu menghilang entah ke mana. Mak Dukah mungkin sudah lupa dengan peristiwa itu. Mungkin pula tak menghiraukan lagi rasa sesak itu.
Yang terjadi kini, Mak Dukah hidup sendiri. Di rumah yang terbuat dari gedeg bambu, kecil, sederhana, tanpa kawan. Jangan berpikir soal permakanan. Fisik rentanya, tak mungkin mampu bekerja. Persoalan makan biasanya dibantu adiknya. Yang saya dengar, adiknya itu juga mengalami kemunduran ekonomi. Apalah daya, urusan permakanan sering tersendat. Dan jika itu yang terjadi, boleh jadi nenek tua itu tidak akan makan. Alias puasa. Puasa berhari-hari.
Adakah orang lainnya yang senasib Mak Dukah, di pinggir-pinggir kehidupan kita, di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini? Seperti jawabanku sebelum-sebelumnya, mereka ada dan banyak jumlahnya. Kita, yang bolehlah disebut sejahtera, sebenarnya diberikan beban untuk menyelidiki kenyataan kemanusiaan itu.
Hikmah puasa, salah satunya, agar kita yang berpuasa merasakan rasa lapar seperti yang dirasakan orang-orang fakir dan miskin itu. Jika dibahasakan dengan konteks sekarang, mereka ialah orang-orang terlantar, nenek dan kakek yang tidak mempunyai harta dan keturunan, para gelandangan homeless, dan lain-lainnya.
Hikmah puasa itu sebenarnya memerintahkan kita agar mengitari lingkungan kita, menyelidiki satu persatu, minimal rumah-rumah yang sederet di lingkungan kita. Untuk apa? Tentu saja kita diminta untuk memperoleh gambaran yang detail dan ilmiah bahwa kemiskinan dan kefakiran itu tidak hanya berada di alam gagasan atau ide kepala kita. Kemiskinan dan kefakiran itu sebenarnya terjadi di dunia riil kehidupan kita. Kita disuruh untuk mawas diri dengan itu semua.
Maka sebagai orang yang berderajat sejahtera, seyogyanya kita ini memegang erat dalam genggaman tangan kita, dalam file memori otak kita, data ilmiah tentang nama-nama mereka, jumlah mereka dan narasi kesengsaraan nyata yang mereka rasakan. Kalau kita tidak berikhtiar seperti itu, boleh jadi hikmah puasa sebenarnya tak sampai ke hati kita. Sungguh rugi satu bulan kita berpuasa, namun hikmah itu tidak bisa kita raih.
Sebab merekalah para shaim yang sejati. Yang berpuasa, tidak saja diniati oleh dirinya sendiri, tapi pula disebabkan keadaan yang tidak bisa mereka tolak. Nasib yang tidak berdekatan dengan urusan perut, membuatnya jauh panggang dari rezeki berupa menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Merekalah peta kelaparan yang sejati.
Merekalah orang-orang yang terhina, tertindas, terabaikan, terdiskriminasi, oleh kita yang heboh dengan gelut politik selama ini. Atau larut luruh hanya di lingkaran kenikmatan hidup kita saja.
Ada orang yang mengaku, “Lho saya sudah membantunya. Saya sering memberikan sepiring nasi. Kadang pagi atau sore. Kadang saya tambah dengan sebungkus teh hangat. Pula kerupuk.”
Pengakuan itu mendapat pertanyaan responsif dari temannya sendiri. “Baik kalau kamu bisa membantu. Tapi apakah kamu rutin seperti itu, dalam arti setiap hari? Mengapa hanya satu orang yang kamu bantu? Padahal lima, sepuluh, tiga puluh, atau lima puluh orang lainnya, sama-sama senasib kemiskinannya dengan orang yang kamu bantu itu, tetapi mengapa mereka tidak kamu tolong pula?
“Aku juga sama dengan kamu. Tiap pagi dan sore, aku selalu menengok tetangga belakang rumah yang miskinnya luar biasa. Aku selalu membawa nasi bungkus. Tapi aku kira dan memastikan, manusia-manusia puasa bukan hanya tetanggaku dan tetanggamu. Keberadaan mereka di desa ini saja banyak. Nah kalau kita kalkulasi se-kabupaten saja, bisa ribuan.”
Dia termenung. Memikirkan pertanyaan reflektif yang sebenarnya bukan tanggungan dia saja yang harus menjawab. Sebab urusan manusia-manusia puasa ini areanya luas, bukan urusan fardlu ‘ain semata. Jika disangka fardlu’ain, yakin tak akan sanggup memeratakan distribusi bantuannya, karena jarang orang yang bisa berpikir sama. Kemiskinan, kefakiran, kemelaratan dan kelaparan, adalah problema sistemik. Penanggulangannya pun sewajarnya sistemik, jika tidak kepingin gagal total di tengah jalan.
Kita butuh kerja bersama. Kerja tim atau kerja umat, yang berisi banyak orang. Sistem itu sebagai wujud fardlu kifayah umat bertanggungjawab terhadap keberadaan manusia-manusia puasa itu. Komitmen fardlu kifayah bukan sebagai keterwakilan beberapa orang kepada umat. Komitmen ini bertujuan agar siapapun yang ada di dalam umat mempunyai tanggung jawab bersama, perihal sebagian anggota umat yang dilanda masalah kehidupan itu.
“Orang berpuasa terus menerus kan bagus? Sulit loh berusaha banyak-banyak berpuasa, di tengah situasi orang-orang yang rakus kuliner. Biarkan manusia-manusia puasa tetap seperti itu. Merekalah para pelaku Ramadhan sepanjang waktu.” Diskusi berlanjut, kali ini dipantik teman satunya lagi.
Jawab teman di pinggirnya, “Betul berpuasa itu baik. Seperti Kanjeng Nabi, jika tidak ada makanan di rumah beliau, pasti beliau berniat puasa. Tapi ingat beliau itu Nabi. Sedang para fakir dan miskin, mereka itu sama dengan kita. Janganlah dikau memaksa mereka berlaku seperti Nabi. Ya, sebelum mereka, dikau dulu lah coba meniru puasanya Nabi. Sanggup, tidak?”
Dia menggelengkan kepala. Pasti dia tak sanggup berlaku seperti Nabi. Tidak saja dia, kita semua pasti tak sanggup menggapai semua sunnah Nabi kesehariannya. Kita ini manusia yang sangat normal, kena lapar sedikit saja sudah tidak kuat. Nah, fakir miskin, orang-orang melarat, kakek nenek kere, manusia-manusia puasa itu, malah hampir tiap hari sulit menemukan nasi dan lauk di meja rumahnya. Standar mereka sebenarnya lebih hebat dari kita.
Mereka berpuasa sepanjang waktu, karena dipuasakan oleh situasi. Dan yang memuasakan adalah kita semua. Tidak kah kita mulai berpikir membangun sistem infaq dan sedekah, yang bisa membantu kesengsaraan mereka secara kontinyu? Karena sudah saatnya kita membatalkan puasa mereka. Dan tak usah berpikir tentang negara.
05072018
Setelah Ramadhan usai, umat memasuki babak kehidupan yang baru. Sejak Idul Fitri dan seterusnya, maka rutinitas puasa akan umat tinggalkan. Kecuali orang-orang yang punya hobi puasa sunnah Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa-puasa lainnya. Umat berganti dengan rutinitas yang selama ini mereka jalani.
Bahkan, banyak pula yang menganggap setelah Ramadhan usai, saatnya lagi mengegas semangat makan, minum, ngerokok, dan lain-lainnya. Tidak sedikit pula yang kembali ke habitat aslinya. Yang biasa menyewa PSK, berjudi, sabung ayam dan minum-minuman keras, mereka kembali ke “selera asal”. Sebelum Ramadhan tidak shalat, pun ketika usai bulan suci itu, ia kembali lagi tidak melakukan shalat.
Lain, mereka, para manusia-manusia puasa itu tetap berpuasa sekalipun Ramadhan telah pamitan. Mereka tetap jarang makan, minum, merokok, apalagi yang negatif itu. Mereka tetap konsisten hidup dengan menikmati ketiadaan. Apanya yang harus diadakan, lha wong untuk mencari alat mengadakan saja tidak mereka punyai.
Salah satu contohnya Mak Dukah, bukan nama asli. Perempuan tua ini janda mati. Suaminya meninggal kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ia sebenarnya punya anak angkat, tapi tidak tahu kabarnya bagaimana. Sudah enakkah hidupnya? Di manakah tinggalnya? Kerja apa dia? Punya anak berapa? Semua pertanyaan itu tidak diketahui jawabannya.
Yang ia tahu hanya satu kepastian, bahwa anak angkatnya itu tidak pernah menengoknya. Selama puluhan tahun setelah ia dinikahkan dengan gadis pujaannya, anak itu menghilang entah ke mana. Mak Dukah mungkin sudah lupa dengan peristiwa itu. Mungkin pula tak menghiraukan lagi rasa sesak itu.
Yang terjadi kini, Mak Dukah hidup sendiri. Di rumah yang terbuat dari gedeg bambu, kecil, sederhana, tanpa kawan. Jangan berpikir soal permakanan. Fisik rentanya, tak mungkin mampu bekerja. Persoalan makan biasanya dibantu adiknya. Yang saya dengar, adiknya itu juga mengalami kemunduran ekonomi. Apalah daya, urusan permakanan sering tersendat. Dan jika itu yang terjadi, boleh jadi nenek tua itu tidak akan makan. Alias puasa. Puasa berhari-hari.
Adakah orang lainnya yang senasib Mak Dukah, di pinggir-pinggir kehidupan kita, di negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini? Seperti jawabanku sebelum-sebelumnya, mereka ada dan banyak jumlahnya. Kita, yang bolehlah disebut sejahtera, sebenarnya diberikan beban untuk menyelidiki kenyataan kemanusiaan itu.
Hikmah puasa, salah satunya, agar kita yang berpuasa merasakan rasa lapar seperti yang dirasakan orang-orang fakir dan miskin itu. Jika dibahasakan dengan konteks sekarang, mereka ialah orang-orang terlantar, nenek dan kakek yang tidak mempunyai harta dan keturunan, para gelandangan homeless, dan lain-lainnya.
Hikmah puasa itu sebenarnya memerintahkan kita agar mengitari lingkungan kita, menyelidiki satu persatu, minimal rumah-rumah yang sederet di lingkungan kita. Untuk apa? Tentu saja kita diminta untuk memperoleh gambaran yang detail dan ilmiah bahwa kemiskinan dan kefakiran itu tidak hanya berada di alam gagasan atau ide kepala kita. Kemiskinan dan kefakiran itu sebenarnya terjadi di dunia riil kehidupan kita. Kita disuruh untuk mawas diri dengan itu semua.
Maka sebagai orang yang berderajat sejahtera, seyogyanya kita ini memegang erat dalam genggaman tangan kita, dalam file memori otak kita, data ilmiah tentang nama-nama mereka, jumlah mereka dan narasi kesengsaraan nyata yang mereka rasakan. Kalau kita tidak berikhtiar seperti itu, boleh jadi hikmah puasa sebenarnya tak sampai ke hati kita. Sungguh rugi satu bulan kita berpuasa, namun hikmah itu tidak bisa kita raih.
Sebab merekalah para shaim yang sejati. Yang berpuasa, tidak saja diniati oleh dirinya sendiri, tapi pula disebabkan keadaan yang tidak bisa mereka tolak. Nasib yang tidak berdekatan dengan urusan perut, membuatnya jauh panggang dari rezeki berupa menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Merekalah peta kelaparan yang sejati.
Merekalah orang-orang yang terhina, tertindas, terabaikan, terdiskriminasi, oleh kita yang heboh dengan gelut politik selama ini. Atau larut luruh hanya di lingkaran kenikmatan hidup kita saja.
Ada orang yang mengaku, “Lho saya sudah membantunya. Saya sering memberikan sepiring nasi. Kadang pagi atau sore. Kadang saya tambah dengan sebungkus teh hangat. Pula kerupuk.”
Pengakuan itu mendapat pertanyaan responsif dari temannya sendiri. “Baik kalau kamu bisa membantu. Tapi apakah kamu rutin seperti itu, dalam arti setiap hari? Mengapa hanya satu orang yang kamu bantu? Padahal lima, sepuluh, tiga puluh, atau lima puluh orang lainnya, sama-sama senasib kemiskinannya dengan orang yang kamu bantu itu, tetapi mengapa mereka tidak kamu tolong pula?
“Aku juga sama dengan kamu. Tiap pagi dan sore, aku selalu menengok tetangga belakang rumah yang miskinnya luar biasa. Aku selalu membawa nasi bungkus. Tapi aku kira dan memastikan, manusia-manusia puasa bukan hanya tetanggaku dan tetanggamu. Keberadaan mereka di desa ini saja banyak. Nah kalau kita kalkulasi se-kabupaten saja, bisa ribuan.”
Dia termenung. Memikirkan pertanyaan reflektif yang sebenarnya bukan tanggungan dia saja yang harus menjawab. Sebab urusan manusia-manusia puasa ini areanya luas, bukan urusan fardlu ‘ain semata. Jika disangka fardlu’ain, yakin tak akan sanggup memeratakan distribusi bantuannya, karena jarang orang yang bisa berpikir sama. Kemiskinan, kefakiran, kemelaratan dan kelaparan, adalah problema sistemik. Penanggulangannya pun sewajarnya sistemik, jika tidak kepingin gagal total di tengah jalan.
Kita butuh kerja bersama. Kerja tim atau kerja umat, yang berisi banyak orang. Sistem itu sebagai wujud fardlu kifayah umat bertanggungjawab terhadap keberadaan manusia-manusia puasa itu. Komitmen fardlu kifayah bukan sebagai keterwakilan beberapa orang kepada umat. Komitmen ini bertujuan agar siapapun yang ada di dalam umat mempunyai tanggung jawab bersama, perihal sebagian anggota umat yang dilanda masalah kehidupan itu.
“Orang berpuasa terus menerus kan bagus? Sulit loh berusaha banyak-banyak berpuasa, di tengah situasi orang-orang yang rakus kuliner. Biarkan manusia-manusia puasa tetap seperti itu. Merekalah para pelaku Ramadhan sepanjang waktu.” Diskusi berlanjut, kali ini dipantik teman satunya lagi.
Jawab teman di pinggirnya, “Betul berpuasa itu baik. Seperti Kanjeng Nabi, jika tidak ada makanan di rumah beliau, pasti beliau berniat puasa. Tapi ingat beliau itu Nabi. Sedang para fakir dan miskin, mereka itu sama dengan kita. Janganlah dikau memaksa mereka berlaku seperti Nabi. Ya, sebelum mereka, dikau dulu lah coba meniru puasanya Nabi. Sanggup, tidak?”
Dia menggelengkan kepala. Pasti dia tak sanggup berlaku seperti Nabi. Tidak saja dia, kita semua pasti tak sanggup menggapai semua sunnah Nabi kesehariannya. Kita ini manusia yang sangat normal, kena lapar sedikit saja sudah tidak kuat. Nah, fakir miskin, orang-orang melarat, kakek nenek kere, manusia-manusia puasa itu, malah hampir tiap hari sulit menemukan nasi dan lauk di meja rumahnya. Standar mereka sebenarnya lebih hebat dari kita.
Mereka berpuasa sepanjang waktu, karena dipuasakan oleh situasi. Dan yang memuasakan adalah kita semua. Tidak kah kita mulai berpikir membangun sistem infaq dan sedekah, yang bisa membantu kesengsaraan mereka secara kontinyu? Karena sudah saatnya kita membatalkan puasa mereka. Dan tak usah berpikir tentang negara.
05072018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda