Langsung ke konten utama

BERATNYA JUJUR PADA DIRI SENDIRI

Tulisan kali ini adalah kisah tentang diri saya. Siapa tahu kisah saya ini bisa menjadi pelajaran penting. Sekalipun kisah ini menunjukkan jati diri saya yang sebenarnya. Jati diri yang memberitahukan bahwa saya ini pernah pula nakal dan bandel.

Kisah ini terjadi sekira 14 tahun silam. Tepat ketika saya masih mengenyam bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Lebih tepatnya lagi terjadi tatkala bulan Ramadhan di tahun tersebut masih berjalan di pertengahan.

Seperti yang terjadi di beberapa Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, saat itu cuaca sangat tidak bersahabat. Bayangkan saja, ketika semua muslim berpuasa, justru panas matahari benar-benar menyiksa. Entahlah, berapa derajat suhu udara setiap siang di bulan itu. Pokoknya ketika kita berada di tengah jalan raya, sangat terasa kulit seperti terbakar.

Saya masih teringat, bahkan sumur di kos-kosan pun menjadi kering, tidak kunjung muncul air hingga satu bulan. Hal itu membuat saya dan teman-teman pontang panting mencari cara agar setiap waktunya mandi, bisa memperoleh air secara cuma-cuma. Walhasil, masjid dan pondok pesantrenlah yang menjadi jujugan. Kalau di masjid bisa ikut mandi di kamar mandi, jangan lupa ikut jamaah shalat. Dan kalau di pesantren, “nebeng” teman yang menjadi santri untuk minta izin ikut mandi..

***

Nah, satu hari, setelah sehari pulang kampung, saya memutuskan diri kembali ke Surabaya. Saat itu saya belum mempunyai motor. Karena itulah angkutan umum menjadi mode transportasi satu-satunya yang saya pakai.

Di depan rumah saya naik angkutan umum dan turunnya di terminal Lespadangan Mojokerto. Dari terminal tersebut saya berlanjut naik Byson umum yang rutenya langsung sampai ke terminal Joyoboyo di Wonokromo. Tapi karena bukan bus, Byson itu pun sering berhenti di banyak titik untuk menaikkan penumpang, sehingga perjalanan bisa lebih lama setengah jam dibanding naik bus.

Di tengah perjalanan saya memasang rencana tidak langsung pulang ke kos-kosan, melainkan melanjutkan perjalanan ke Jalan Semarang. Apalagi tujuannya kalau bukan berburu buku. Saya masih ingat, di pojok paling utara Jalan Semarang terdapat satu kios buku yang koleksinya banyak. Kios buku tersebut berdempetan dengan pagar Stasiun Pasar Turi yang berada di sisi utaranya. Saya terbiasa mencari buku di toko tersebut, sekalipun, harganya sulit ditawar.

Maka ketika turun dari Byson umum di depan Graha Pena, sayapun kemudian mencegat bus DAMRI jurusan Jembatan Merah Plaza (JMP), rute yang melewati Jalan Semarang. Setengah jam kemudian sampailah saya di depan kios buku tersebut. Masuk ke dalam, mencari-cari buku, dapat, membayar dan kemudian keluar dari kios tersebut.

Kemudian saya berjalan kaki melintasi depan Stasiun Pasar Turi, melewati para pedagang kaki lima berjejer, menawarkan aneka ragam penganan dan minuman yang menggugah selera. Maklumlah Surabaya itu kota yang penduduknya heterogen, ada yang muslim dan non muslim. Jadi yang tidak puasa pastilah banyak. Dan kenyataan itu coba dicuri para pedagang kuliner kaki lima tersebut, di moment puasa.

Entahlah, setan mana yang membisiki telinga saya, karena terbersit godaan agar saya membatalkan puasa. Tapi saya rasa sih setan itu tidak ada. Semua yang terjadi murni keputusan saya sendiri. Keputusan melalui pertimbangan hukum tentang kebolehan seorang musafir membatalkan puasa dengan alasan tidak kuat fisik. Singkat kata, sambil tolah-toleh takut kalau ada orang yang kenal melihat, saya pun “terpaksa” membeli segelas es cendol. Batal sudah puasa saya hari itu.

Jujur, batin saya saat itu serasa seperti medan perang. Satu sisi terdapat dua kompi pasukan yang menyerang, maju terus menerus, membawa misi agar puasa saya dibatalkan saja. Di sisi yang berlawanan terdampar kurang lebih lima orang pasukan, yang mencoba mempertahankan diri agar saya kuat mental, puasa tetap dijalankan meskipun tenggorokan kering kerontang.

Nasi sudah jadi bubur, es cendol segelas pun sirna dengan cepat. Antara menyesal dan tidak, mental saya tata sedemikian rupa, agar bahasa tubuh tetap seperti orang yang masih berpuasa. Toh di hari yang lain saya bisa mengganti puasa tersebut.

Mudah sepertinya merencanakan strategi itu. Tapi pada kenyataannya, batin ini terus saja bergejolak. Benar-benar bergejolak. Seakan-akan lima orang pasukan yang tergeletak itu menyemprot saya secara berbarengan, “Dasar orang dungu. Dirayu seperti itu saja sudah kalah. Kamu orang benar-benar tidak kuat mental. Malu diri kami menjadi tentara-tentara kamu.”

Di dalam bus kepulangan sayapun tercenung. Wajah ini serasa penuh noda, sehingga bertatap muka dengan kondektur bus pun seperti tidak sanggup. Hendak bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Yang penting, keyakinan saya, semua kekonyolan itu tidak boleh terulang lagi.

Tapi entahlah, lagi-lagi di batin ini ada saja yang mengusik, padahal baru saja memproklamirkan pertaubatan. Sebelumnya terusik agar membatalkan puasa, kini dirayu agar saat akan kembali ke kos-kosan terlebih dulu mampir ke masjid kampus. Tujuannya satu, demi mendapat jatah nasi bungkus untuk berbuka, yang memang selalu disediakan bagi para jamaah yang ikut kajian tiap sore.

Pikir saya, toh saya berhak mendapatkan jatah itu – meskipun nasi bungkus tersebut diperuntukkan khusus bagi yang berpuasa. Sebab saya menjadi jamaah shalat maghrib di situ. Sekalipun saya sudah tidak dalam keadaan berpuasa, tetapi adakah yang tahu kalau saya sudah batal puasa?! Tidak akan ada yang tahu, pikir saya.

Kemudian hal aneh terjadi pada saya, ketika saya berhasil mempraktekkan berlagak seperti orang yang puasa di masjid yang bernama Ulul Albab itu. Kejadian tersebut bagi saya akan selalu saya kenang, karena di luar nalar sehat saya.

Saat saya sudah mendapat jatah nasi bungkus, saya bergegas menuju tempat wudlu. Tiba-tiba ketika masih di teras masjid yang kerap dipakai para mahasiswa berdiskusi tersebut, ada seorang anak kecil mendatangi saya. Tanpa saya perkirakan sebelumnya, dia menendangi pantat saya terus menerus, sambil mengikuti gerak tubuh saya, hingga masuk ke area wudlu.

Si anak tersebut tidak saja menendang, dia juga mengata-ngatai saya, “Nakal, nakal, nakal...”, terus menerus seperti itu. Kejadian mistik itu sungguh membuat saya deg-degan. Apalagi saat keluar dari tempat wudlu dan pasca shalat maghrib berjamaah, saya tidak melihat lagi anak kecil itu. Dia hilang begitu saja.

***

Tidak, saya tidak hendak menyuruh pembaca – pasca membaca tulisan ini – agar mengikuti jejak kebandelan saya. Saya juga tidak menyuruh agar pembaca merasa ketakutan jika menginjakkan kaki di masjid legendaris itu, berdasar pengalaman mistik saya tersebut. Saya hanya ingin pembaca merasakan apa yang saya rasakan pasca rentetan peristiwa tersebut.

Pertama, bersalah dalam hidup itu biasa dialami setiap orang, lebih-lebih yang kecil dan tidak berdasar kesengajaan. Tetapi khusus bagi saya, kesalahan tersebut bukan hal yang biasa, melainkan sebuah kekonyolan yang saya ciptakan sendiri. Sebab hanya karena terbuai pemandangan kuliner di siang bolong, kekuatan mental puasa saya menyerah begitu saja. Karena itu saya menyadari, kemenyerahan saya adalah kesalahan yang tidak boleh terulang lagi.

Kedua, menjadi orang yang berpura-pura sebenarnya sangat menyulitkan diri sendiri. Ketika saya memutuskan diri mampir ke masjid dan berpura-pura seperti orang yang berpuasa, justru di situlah saya telah membohongi diri sendiri, bukan membohongi orang lain. Sudah tahu tidak berpuasa, tapi berlagak seperti puasa. Sungguh diri ini seperti membalurkan, mohon maaf, tai sapi ke muka sendiri.

Dan ketiga, saya menyimpulkan bahwa selamanya Tuhan tidak berhenti untuk mengingatkan hamba-Nya. Sekalipun terkesan irasional, tetapi percaya atau tidak, peristiwa sepakan kaki dan cemoohan anak kecil tersebut bagi saya sebagai “pengiling” atau tanbih, agar tidak usah sok bersih, sok benar, dan pura-pura menjadi orang baik, karena di ujung sana pasti ada yang mengetahui apa saja yang kita lakukan. Sekalipun kita berusaha menutup-nutupi dan merahasiakannya.

Apa yang bisa kita sembunyikan dari pandangan Tuhan yang meliputi hal yang terkecil sampai yang terbesar? Tidak ada. Kecuali kita mau jujur kepada diri sendiri, tentang siapakah diri kita yang sebenarnya. Wallahu A’lam Bisshawab 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...