Entahlah, pagi ini saya kok tiba-tiba saja teringat sebuah
cerita dari seorang teman. Sebuah cerita yang terjadi beberapa tahun silam. Pasti
temanku – bahkan saya sendiri – tak bisa melupakan peristiwa bersejarah itu.
Sebelum saya menceritakan kembali kisah itu, meskipun hanya
cuplikan, saya minta yang membaca tulisan ini bersiap-siap menahan diri. Sebab
cuplikan itu bisa membuat hidung mampet dan mata berkunang-kunang. Ceritanya
memang agak-agak berbau.
Di pagi hari itu, beberapa tahun silam, teman saya kaget
bukan main. Ia kaget manakala keluar rumah, ia melihat sebuah pemandangan yang sangat
menjengkelkan bagi dirinya dan keluarganya. Tak ayal batinnya berkecamuk. Emosi
dan ramalan perkiraan siapa pelakunya, berseliweran di pikirannya.
Apa sih sebetulnya yang ia lihat? Ia mendapati “kerumunan”
tai manusia terlabur di tembok sebelah luar kamar mandinya. Laburan kotoran bau
tersebut memenuhi seluruh luas tembok tersebut. Pemandangan itu tentu saja
tidak mengasyikkan. Maka tidak bisa mengelak, di pagi itu iapun harus bekerja
keras menghilangkan benda bau itu.
Hatinya pun medongkol. Tuduhan, serta merta ditujukan kepada
orang lain. Yang paling kuat terkena “awu anget” itu tentu saja para tetangga
dekatnya. Merekalah yang paling masuk akal dijadikan tersangka “perilaku keji”
itu. Dan menurutnya, itu kesalahan yang tidak bisa ditolerir.
Dalam kacamata hukum, perbuatan tidak senonoh tersebut
pantas dianggap sebuah pelanggaran. Pelaku pelaburan tai bisa masuk penjara.
Akan tetapi, dan ini pasti kita sadari, bahwa pola kehidupan kita di tengah
masyarakat itu tidak saja berisi hukum, hukum dan hukum. Sebab ada pula moral,
interaksi sosial, kekeluargaan, dan persaudaraan.
Sederhananya, tidak ada akibat tanpa ada sebab. Tidak ada
persoalan hukum menyeruak, tanpa adanya awalan sebab. Teori kausalitas ini
nyata terjadi di semua lekuk kehidupan manusia. Seseorang akan menemui realitas
baik atau buruk, sesuai dengan kelakukannya.
Seseorang diperlakukan baik, tandanya ia memang baik
sehari-harinya, kepada keluarga dan tetangga. Seseorang menjadi musuh bersama
bagi banyak orang, pasti selama ini ia telah berbuat kesalahan kepada orang
lain tersebut. Jadi kelakuan dirinyalah yang menjadi sebab terjadinya berbagai
rupa realitas yang menderanya.
Sayangnya kita sering tidak pandai mencandra itu semua.
Selalu yang kita ototkan, kalau ada persoalan, orang lainlah pelakunya. Kalau
ada masalah, orang lainlah si pembuat masalah. Kita, selamanya tidak akan
menjadi produsen persoalan dan masalah itu.
Kita yang seperti itu, saya ibaratkan seperti orang yang
tidak pernah menyelam ke dalam laut. Menurut kita, semua laut adalah keindahan.
Di dalamnya berisi terumbu karang alami terawat. Ikan-ikannya beraneka rupa,
berkembang biak dengan baik. Ekosistemnya terjaga-terpelihara.
Padahal realitas kekinian tidak semua laut seindah itu. Anggapan
kitapun salah. Sekarang, banyak laut yang sudah terjajah modernisasi. Ada yang
rusak ekosistemnya disebabkan bom ikan oleh nelayan. Ada yang rusak berat,
bahkan hilang wujudnya akibat reklamasi tiada henti. Semua demi keinginan
memperluas ruang huni bagi manusia.
Maka untuk membuktikan adanya laut yang tak indah,
menyelamlah ke dalam laut Jakarta misalnya, yang selama ini akrab dengan
modernisasi kebablasan tersebut. Pasti dari pandangan mata akan menyadarkan
kita, bahwa tidak semua laut seindah laut Banda. Tidak semua laut
mempertontonkan kekayaan alam yang luar biasa. Sebab, banyak juga laut yang
kotor, penuh sampah plastik, ikan-ikannya tercemar, terumbu karangnya hancur,
ekosistemnya ambruk.
Lautan ibarat hati dan pikiran kita. Sama seperti kondisi
lautan selama ini, hati dan pikiran kita pun tidak seluruhnya menyimpan
keindahan. Memang ada wajah kebaikan dan keharmonisan di dalamnya. Akan tetapi tidak
bisa dipungkiri ada pula wajah kejelekan dan permusuhan.
Satu contoh sederhana saja, kepada keluarga kita sendiri,
yang hidup dalam satu rumah dengan kita, kita sering sangat baik. Seluruh
kemauan mereka kita tepati. Semua fasilitas hidup, kita penuhi. Rasa sayang
kita, teramat sangat besar. Tutur kata kita bernada kelembutan.
Lain itu, lain pula kepada orang lain; para tetangga, teman
kerja satu kantor, rekan satu organisasi, kompetitor bisnis, dan lain-lainnya.
Kepada mereka, sebenarnya ada juga gurat masalah yang sering kita produksi atau
mereka yang memproduksi. Dan itu sebenarnya tidak aneh. Sebab manusia yang hidup
selalu menjadi gudangnya masalah. Namun, mengapa itu tidak kita sadari? Atau,
tidak kita akui?
Ya, lagi-lagi, bisa jadi kita memang tidak pernah menyelam
ke dalam lautan hati. Untuk mengobservasi semua temuan yang ada di dalamnya.
Jika yang kita temukan adalah mutiara, maka sebaiknya peliharalah dengan penuh
rasa cinta. Jika yang kita temukan berupa serakan sampah di mana-mana, maka
perlu segera kita bersihkan. Supaya resiko besar berupa kepunahan ekosistem
hati tidak terjadi pada diri kita.
Saya tidak paham apakah teman saya tersebut sudah mengerti
pesan terpendam di balik cerita bau busuk itu. Kalaupun iya, dugaan saya pasti
ia telah berhasil menyelami lautan hatinya. Bahkan mampu membersihkan
sampah-sampah yang memenuhi ekosistem hatinya itu. Dan itu adalah prestasi yang
luar biasa.
Namun seandainya cerita itu masih tersimpan dan menjadi noktah
sejarah yang belum hilang, saya berharap ia segera menyewa kapal untuk
secepatnya menuju ke tengah lautan, sambil membawa perlengkapan menyelam. Saya
khawatir jika itu tidak cepat dilakukan, Tuhan sang pemilik lautan akan murka.
Kemudian mengisi lautan itu hanya dengan gurita-gurita raksasa yang kejam dan
durjana.

Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda