Zaman berubah sangat drastis. Perubahan yang terlihat bukan
pada kematangan berpikir, tetapi pada semakin membengkaknya tubuh disebabkan
perut terisi bertumpuk-tumpuk makanan; informasi. Diandaikan sebagai sebuah
ceruk, maka zaman ini terlihat super mongkok dan akan meledak. Ibarat lever
yang bengkak dan mengeras. Kata medis, menunjukkan sirosis menempel di lever
kita dan usia tak lebih 6 bulan berjalan.
Karena gemuk dan obesitas, maka zaman ini sulit berjalan. Kaki-kaki
pegal menahan tubuh yang terus menggelembung. Sementara jantung sangat sulit
berdetak. Sesak napas karena lemak menutupi jantung dan paru. Kadar gula terus
bertambah. Entah kapan zaman yang kaya informasi tapi miskin nalar ini akan
menemui malaikat izrailnya.
Saya tidak kepingin zaman ini mati secepatnya. Kasihan anak-anak
saya. Kasihan juga dengan ponakan-ponakan saya. Mereka masih kecil. Belum tau
enaknya bermain facebook. Belum pernah merasakah bahagianya diri ketika foto narsis
di instagram dikagumi banyak orang. Belum bisa menikmati kemajuan zaman, tapi
sudah terhancurkan dan termatikan.
Kalau boleh saya berharap, seharusnya kita yang terkenal sebagai
man zaman now, menyisakan ruang-ruang kosong buat mereka. Atau kalau perlu
sedot saja tumpukan-tumpukan informasi yang sudah kita telan mentah-mentah. Toh
memang harus seperti itu. Kita perlu sedot lemak dan diet frontal.
Mengapa? Ini akibat dari geragasnya kita. Hanya untuk memilah
saja kita tidak bisa. Mana makanan sehat, mana makanan berlemak, mana makanan
kadaluarsa, mana makanan beracun, kita tidak bisa memilah dan menelitinya. Pokoknya
kita kunyah saja semuanya. Yang penting sebagai man zaman now, penguasaan
informasi di segala bidang, adalah kebanggaan. Tak perlu dipikir hoax dan
aslinya. Tanpa perlu menelaah berbahaya tidaknya bagi persaudaraan. Pokoknya telan
saja, sampai kekenyangan.
Lalu bagaimana dengan nalar kita, akal untuk berpikir yang
kita punyai? Hemm, bagaimana kabar nalar kita itu, ya? Apa ia masih ada dalam
kepala kita? Atau sebenarnya sudah terbunuh sejak lama, karena bagi kita yang
terpenting itu mengisi kepala dan perut dengan informasi, informasi dan
informasi? Peduli amat dengan nalar, toh nalar yang sehat sekarang tak pernah
dihargai. Yang tepat sebagai man zaman now itu harus mengikuti arus. Apakah kita
rela dimusuhi jutaan orang hanya karena mempertahankan nalar kita?
Oh my god. Aneh kita ini. Zaman yang sudah membengkak atau
ibarat bisul mau meletus, eh kita masih mikir ikut-ikut arus. Bagaimana cara
gerak kita? Lha untuk maju selangkah saja sudah ngos-ngosan. Oh maunya kita ini
akan dinaikkan perahu super raksasa atau bus super jumbo. Bisa-bisa saja. Namun
perlu kita nalar – kalau masih percaya pada keberadaan nalar – bahwa
sebesar-besarnya perahu atau bus tersebut, toh jika mengangkut tubuh kita yang
berkwintal-kwintal, pasti akan meletus pula rodanya. Pasti akan jebol juga
lapisan kapalnya. Lalu kita karam di lautan. Atau tercebur jurang. Dan mati.
Kematian bukan pada fisik kita, kemudian dikubur, lalu arwah
kita ditahlili para kerabat. Kematian yang lebih mengerikan itu ya arus-arus
itu. Ke mana kapal menuju, di situ kita bertaut. Ke barat bus melaju, di dalamnya
kita terpekur. Sampai tujuan kita gembira. Tujuan yang ditentukan sopir. Bukan dari
rencana matang kita.
Itulah kematian. Kematian diri sama pula kematian zaman. Sama
pula kematian generasi. Kematian nalar. Kematian untuk berani berpikir. Kematian
untuk berani berpikir beda.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda