Langsung ke konten utama

Guru, Profesionalitas dan Buku

Memasuki tahun 2018 yang sudah berjalan beberapa hari ini, penulis menyimak dan mendengar, bahwa jutaan guru di negeri ini baru saja mendapatkan hak-hak mereka dari pemerintah. Berupa pencairan tunjangan dengan berbagai jenis nama. Alhasil, penulispun melihat jika para guru tersebut tentu merasakan satu kebahagiaan. Bahkan sebenarnya, banyak pula para guru yang sudah lama mengidam-idamkan tunjangan dari pemerintah itu dicairkan.

Kebetulan istri penulis juga seorang guru swasta. Kebetulan pula beberapa minggu yang lalu memperoleh hak-haknya berupa tunjangan profesi, sesuai undang-undang yang berlaku. Dari cerita yang disampaikan istri, banyak guru – terutama swasta – telah mendapatkan cairan tunjangan profesi tersebut. Dan banyak pula yang memperoleh berupa tunjangan impassing yang jika dikalkulasi bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Secara pribadi penulis ikut pula berbahagia dengan kegembiraan tersebut. Penulis merasa bahwa memang harus seperti itulah pemerintah mengayomi para guru. Terutama guru partikelir yang saban hari harus mendidik siswa siswinya, dengan gaji dari yayasan yang seadanya. Oleh karena itu, penulis berharap agar balas budi dari pemerintah ini bisa terus dilakukan.

Namun di dalam ikut serta bergembira dan berbahagia dengan bertambahnya kesejahteraan ekonomi para guru, tidak serta merta kita menutup persoalan yang terjadi dalam peristiwa itu. Salah satunya maksud dari balas budi pemerintah berupa berbagai tunjangan tersebut sudah tertunaikan atau belum.

Penulis berterus terang belum memahami apa sih nawaitu-nya pemerintah memberikan tunjangan-tunjangan tersebut dari sisi legal-formalnya. Tetapi kalau kita melihat dari kaca mata etis dan profesionalitas, tentu kita akan langsung bisa menerka dibalik nawaitu dimaksud. Ialah bertambahnya kesejahteraan dan sekaligus bertambahnya profesionalisme para guru.

Tentu pernyataan tersebut di atas, bagi para guru, akan mudah dipahami. Sebab yang disebut kesejahteraan dan profesionalisme itu merupakan hal yang sudah jelas. Guru sejahtera, artinya segala kebutuhan ekonominya terpenuhi sehingga mengajar di sekolahpun bisa enjoy. Guru profesional, artinya harus ada penguasaan-penguasaan skill mengajar dan materi pembelajaran yang harus dimiliki dengan berusaha senantiasa meningkatkannya.

Untuk guru yang sejahtera, boleh diklaim pemerintah telah berhasil mengangkat derajat ekonomi mereka dengan adanya tunjangan-tunjangan tersebut. Bila ingin membuktikan, perlu segera dibuat survey perbandingan tentang tingkat kesejahteraan tersebut, antara sebelum dan sesudah tunjangan digelontorkan.

Tapi sebelum survey tersebut dilaksanakan, penulis sangat yakin bahwa memang kesejahteraan para guru sungguh meningkat. Buktinya banyak guru pasca menerima tunjangan yang berasal dari pajak itu, kemudian berganti motor baru, baju baru, perhiasan baru, merenovasi rumah, dan lain-lainnya. Minimal saldo di rekening bank pasti bertambah.

Tetapi ketika guru dikatakan profesional, penulis kira inilah yang perlu dikaji. Apakah para guru benar-benar meningkat skill-nya? Apakah materi pembelajaran yang ia kuasai semakin bertambah? Atau, apakah guru sudah punya karya akademik, sebagai wujud nyata meningkatnya profesionalisme itu?

Penulis berpendapat, bahwa mengukur itu sangatlah mudah. Salah satunya memakai parameter bacaan buku yang sudah para guru lakukan. Artinya pula bisa diukur dari berapakah buku atau tulisan lainnya yang mereka koleksi. Sehingga memfokus pada, apakah ketika ia memperoleh tunjangan, ia tidak lupa menganggarkan untuk membeli buku sebagai jendela dunia yang paling utama?

Hal inilah yang menurut penulis menjadi sebuah pertanyaan yang sebenarnya mudah dijawab. Bahwa memang tingkat baca buku para guru kita masihlah rendah. Penguasaan wacana kontemporer juga rendah. Apalagi penguasaan atas pengetahuan-pengetahuan baru yang bergulir seiring majunya zaman. Kenyataan ini perlu diakui sebagai otokritik dan demi kemajuan pendidikan bangsa.

Penulis kira ini memang problem yang harus disadari oleh civitas akademika pendidikan bangsa ini, terutama para guru yang menjadi salah satu subjek pentingnya. Salah satu kesadaran tersebut tentu saja pemahaman akan nawaitu-nya pemerintah ketika memberikan tunjangan-tunjangan itu.

Memang sudah disediakan buku-buku diktat di setiap mata pelajaran. Tetapi untuk menambah wacana dan wawasan, tentu buku-buku diktat tersebut kurang luas. Guru masihlah membutuhkan banyak sekali asupan wawasan dan wacana yang akan disampaikan kepada muridnya, di luar buku diktat tersebut. Bahkan penulis mengidamkan, gurupun akan mampu menjawab problem bangsa, jika mereka mau menambah wawasan dan wacananya. Dan itu hanya bisa diwujudkan melalui baca buku sebanyak-banyaknya.

Oleh karenanya penulis mengangan saran dan kritik ini akan mampu dijalankan jika. Pertama, ada regulasi pemerintah yang mewajibkan ini. Artinya target baca buku bagi para guru perlu pemerintah buat dalam bentuk peraturan yang mengikat. Ada reward dan punishment di dalamnya. Tapi ini merupakan langkah terakhir dan drastis dari pemerintah. Dan kedua, sebaiknya para guru menyadari urgensitas baca buku tersebut. Sehingga langkah konkretnya adalah, para guru memulai menargetkan belanja buku dan menargetkan pula membacanya di tiap bulan. Penulis kira kalau langkah kedua ini dilaksanakan secara mandiri, maka cita-cita majunya pendidikan bangsa akan berwajah cerah.

Zaman semakin maju dan salah satu wujud kemajuan tersebut adalah fasilitas kemudahan bagi siapa saja. Salah satunya cara mendapatkan buku berkualitas. Penulis menyarankan kepada para guru untuk menggunakan kemudahan pasar buku online yang kini menyebar di hampir penyedia akun media sosial. Salah satu contohnya bisa ditemukan bertebaran di facebook. Kebetulan penulis juga kerap melakukan transaksi pembelian buku melalui pasar online tersebut.

Ya begitulah, memang guru yang berwawasan luas adalah keniscayaan. Tentu banyak guru di negeri ini yang sudah masuk kriteria berwawasan luas itu. Akan tetapi pasti masih banyak guru lainnya yang belum masuk kriteria expert tersebut. Wallahu a’lam

Salam bahagia untukmu para guru

Mojokerto, 7-01-2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...