Salah satu poin perbedaanku dan istri bisa dilihat pada saat akan bepergian jauh. Terutama bepergian dalam rangka berwisata bersama banyak orang. Di saat seperti itulah saya menyadari jika perbedaanku dan istri memang ada dan terjadi. Saya tidak bisa menghindarinya.
Setelah membaca paragraf awal pasti ada yang menebak-nebak, kira-kira apa perbedaan itu? Saya jawab langsung saja bahwa yang membedakan itu adalah ribet dan tidak ribet. Istri saya yang berposisi ribet dan saya yang kebagian tidak ribet.
Keribetan istri itu terlihat dengan jelas saat menyiapkan segala bekal. Bayangkan untuk empat orang saja - saya dan istri serta dua anak - dia menyiapkan bekal yang seukuran sepuluh orang. Kalau diabsen satu persatu kira-kira bekal itu berupa: nasi dengan lauk mie goreng sama telur ceplok empat box, snack yang berjubel, teh hangat satu botol besar, air mineral dua botol besar, permen sebungkus, dan tentunya pakaian kami yang dihitung perhari.
Alhasil tas yang kami bawa selalu menyulitkan kami sendiri. Dibanding dengan tas peserta lainnya, tas kamilah yang paling berat. Saya sering ngedumel, ini berangkat saja menyulitkan diri sendiri, apalagi pas kepulangan nanti. Haduh, boleh dianggap antara pergi dan pulang, kami selalu dalam keadaan berat.
Adanya itu saya sering menasihati istri agar tidak usah bawa bekal berlebih. Apalagi persoalan makan. Urusan makan bisa dicari ketika turun. Demikian pula urusan minum, cukup membawa satu botol kan bisa. Kedua urusan mulut dan perut itu bisa diperoleh saat turun istirahat. Kalau baju itu kondisional, kita lihat medan wisatanya. Jika medannya tidak mengotori pakaian, ngapain bawa baju banyak-banyak.
Saya menasihati tentu dengan segala kebanggaan pada diri saya, yang saya anggap bisa berpikir lebih efektif dan efisien. Dari pada istri yang sukanya ribet dan ubet-ubet. Pasti istri saya jengkel dengan nasihat yang menurutnya cenderung rewel itu. Tapi menurut saya masukanku merupakan nasihat yang sangat penting karena akan mempermudah perjalanan kami.
Saya berpikir jika perjalanan yang seharusnya santei tapi kita direpoti dengan banyaknya bawaan, justru akan menghilangkan nilai kesantaian itu. Artinya santei itu bisa diwujudkan kalau kita mau efektif dan efisien. Khususnya menyiapkan bekal secara sederhana. Toh, si sopir bis tahu kapan waktunya istirahat dan kapan meneruskan perjalanan.
Anda semua pasti banyak yang pro dengan pendapat saya. Alias anda akan meniru nasihat saya agar di setiap bepergian tidak usah merepotkan diri dengan bekal melimpah. Pasti sebagian dari anda ada juga yang berpikiran, di zaman now, segala kebutuhan di perjalanan itu mudah didapat. Sebagai manusia yang hidup di zaman now, mazhab efektifitas dan efisiensi saya itu mantap pula dicoba. Semantap pesan makanan melalui layanan kurir.
Tapi tunggu dulu, ke-taqlid-an anda dengan pendapat saya itu janganlah langsung diaplikasikan. Anda perlu mempertimbangkan alasan-alasan lain. Tentulah alasan lain di luar pemikiran anda. Dan tentu pula alasan yang keluar dari seseorang yang anda anggap pembawa keribetan, semisal istri saya.
Saya perlu menegaskan ini sebab banyak kejadian lucu yang benar-benar saya alami. Kejadian yang seharusnya membuat saya tersadar bahwa masing-masing orang itu punya alasan atau argumen. Tidak ada yang salah atau benar. Yang ada hanya tepat dan tidak tepat.
Jadi ketika kami naik ke bus wisata, dengan memanggul tas yang berat itu, kamipun kemudian duduk di kursi yang sudah ditentukan. Kami selalu memperoleh kursi depan, minimal di belakang sopir, sebab kedua anak kami sering mabuk kalau duduk di kursi belakang.
Seperti biasanya ketika di dalam bus, si kernet akan menyetel video di monitor yang selalu menancap di langit-langit bus. Sesuai keinginan penumpang, yang distelpun berganti-ganti. Kadang konser dangdut, kadang ludruk atau lawakan, dan terkadang pula nyanyian pop lawas yang tentulah menjadi kesukaan peserta yang terdiri bapak-bapak dan ibu-ibu. Dengan iringan video itulah, mereka bernyanyi-nyanyi riang. Menirukan lirik lagu yang ditayangkan pula di video tersebut.
Karena tidak semua orang suka menyanyi, saya melihat banyak yang tak ikut sing song itupun mengisi waktu dengan nyemil makanan. Ada juga yang makan nasi yang jadi bekalnya. Apalagi anak-anak kecil, menyemil snack bawaan yang bermacam rupa itu memang mengenakkan.
Tidak terkecuali anak-anak saya. Keduanya terlihat sangat menikmati cemilan bawaan ibunya. Istri saya juga sama, nyemil snack. Bahkan dia membuka satu kotak nasi dan memakannya. Sambil menyuapi kedua anak-anak kami. Sungguh riang suasana saat perjalanan wisata.
Dan dalam waktu-waktu seperti itu, saya kenapa kok seperti tidak sadar ikut larut dalam aktivitas mulut dan perut itu. Secuil dua cuil, tangan saya merogoh snack milik anak saya, kemudian memakannya. Kemudian cuilan-cuilan selanjutnya tidak bisa dihitung lagi. Anak-anak ikhlas saja melihat bapaknya ikut-ikutan menikmati jatahnya.
Bahkan tak sungkan saya menanyakan ke istri tentang satu box nasi campur mie goreng dan telur ceplok tadi. Tanpa ba bi bu diapun mengambilkan box itu, sekaligus sendoknya. Saya pun membuka dan memakannya. Ternyata nikmat banget rasanya. Saat saya menikmati masakan dan bekal yang disiapkan istri itu. Sambil makan saya melihat ia diam saja. Tidak ada respon.
Setelah beberapa menit akhirnya sayapun mentandaskan satu box nasi itu. Istri saya kemudian mengambilkan sebotol air mineral. Saya meminumnya dengan volume yang banyak. Dan lega rasanya. Minum banyak air setelah menghabiskan makanan memang rezeki keberkahan dari Tuhan. Namun sebelum saya bersantai lagi menikmati suara bapak-bapak dan ibu-ibu bernyanyai cempreng, istri saya menguping, “Bagaimana, ternyata ribet itu berkah, kan?”
Oh may God, saya pun malu-malu kucing mendengar pertanyaan yang esensi sebenarnya menohok kemunafikan saya.
Setelah membaca paragraf awal pasti ada yang menebak-nebak, kira-kira apa perbedaan itu? Saya jawab langsung saja bahwa yang membedakan itu adalah ribet dan tidak ribet. Istri saya yang berposisi ribet dan saya yang kebagian tidak ribet.
Keribetan istri itu terlihat dengan jelas saat menyiapkan segala bekal. Bayangkan untuk empat orang saja - saya dan istri serta dua anak - dia menyiapkan bekal yang seukuran sepuluh orang. Kalau diabsen satu persatu kira-kira bekal itu berupa: nasi dengan lauk mie goreng sama telur ceplok empat box, snack yang berjubel, teh hangat satu botol besar, air mineral dua botol besar, permen sebungkus, dan tentunya pakaian kami yang dihitung perhari.
Alhasil tas yang kami bawa selalu menyulitkan kami sendiri. Dibanding dengan tas peserta lainnya, tas kamilah yang paling berat. Saya sering ngedumel, ini berangkat saja menyulitkan diri sendiri, apalagi pas kepulangan nanti. Haduh, boleh dianggap antara pergi dan pulang, kami selalu dalam keadaan berat.
Adanya itu saya sering menasihati istri agar tidak usah bawa bekal berlebih. Apalagi persoalan makan. Urusan makan bisa dicari ketika turun. Demikian pula urusan minum, cukup membawa satu botol kan bisa. Kedua urusan mulut dan perut itu bisa diperoleh saat turun istirahat. Kalau baju itu kondisional, kita lihat medan wisatanya. Jika medannya tidak mengotori pakaian, ngapain bawa baju banyak-banyak.
Saya menasihati tentu dengan segala kebanggaan pada diri saya, yang saya anggap bisa berpikir lebih efektif dan efisien. Dari pada istri yang sukanya ribet dan ubet-ubet. Pasti istri saya jengkel dengan nasihat yang menurutnya cenderung rewel itu. Tapi menurut saya masukanku merupakan nasihat yang sangat penting karena akan mempermudah perjalanan kami.
Saya berpikir jika perjalanan yang seharusnya santei tapi kita direpoti dengan banyaknya bawaan, justru akan menghilangkan nilai kesantaian itu. Artinya santei itu bisa diwujudkan kalau kita mau efektif dan efisien. Khususnya menyiapkan bekal secara sederhana. Toh, si sopir bis tahu kapan waktunya istirahat dan kapan meneruskan perjalanan.
Anda semua pasti banyak yang pro dengan pendapat saya. Alias anda akan meniru nasihat saya agar di setiap bepergian tidak usah merepotkan diri dengan bekal melimpah. Pasti sebagian dari anda ada juga yang berpikiran, di zaman now, segala kebutuhan di perjalanan itu mudah didapat. Sebagai manusia yang hidup di zaman now, mazhab efektifitas dan efisiensi saya itu mantap pula dicoba. Semantap pesan makanan melalui layanan kurir.
Tapi tunggu dulu, ke-taqlid-an anda dengan pendapat saya itu janganlah langsung diaplikasikan. Anda perlu mempertimbangkan alasan-alasan lain. Tentulah alasan lain di luar pemikiran anda. Dan tentu pula alasan yang keluar dari seseorang yang anda anggap pembawa keribetan, semisal istri saya.
Saya perlu menegaskan ini sebab banyak kejadian lucu yang benar-benar saya alami. Kejadian yang seharusnya membuat saya tersadar bahwa masing-masing orang itu punya alasan atau argumen. Tidak ada yang salah atau benar. Yang ada hanya tepat dan tidak tepat.
Jadi ketika kami naik ke bus wisata, dengan memanggul tas yang berat itu, kamipun kemudian duduk di kursi yang sudah ditentukan. Kami selalu memperoleh kursi depan, minimal di belakang sopir, sebab kedua anak kami sering mabuk kalau duduk di kursi belakang.
Seperti biasanya ketika di dalam bus, si kernet akan menyetel video di monitor yang selalu menancap di langit-langit bus. Sesuai keinginan penumpang, yang distelpun berganti-ganti. Kadang konser dangdut, kadang ludruk atau lawakan, dan terkadang pula nyanyian pop lawas yang tentulah menjadi kesukaan peserta yang terdiri bapak-bapak dan ibu-ibu. Dengan iringan video itulah, mereka bernyanyi-nyanyi riang. Menirukan lirik lagu yang ditayangkan pula di video tersebut.
Karena tidak semua orang suka menyanyi, saya melihat banyak yang tak ikut sing song itupun mengisi waktu dengan nyemil makanan. Ada juga yang makan nasi yang jadi bekalnya. Apalagi anak-anak kecil, menyemil snack bawaan yang bermacam rupa itu memang mengenakkan.
Tidak terkecuali anak-anak saya. Keduanya terlihat sangat menikmati cemilan bawaan ibunya. Istri saya juga sama, nyemil snack. Bahkan dia membuka satu kotak nasi dan memakannya. Sambil menyuapi kedua anak-anak kami. Sungguh riang suasana saat perjalanan wisata.
Dan dalam waktu-waktu seperti itu, saya kenapa kok seperti tidak sadar ikut larut dalam aktivitas mulut dan perut itu. Secuil dua cuil, tangan saya merogoh snack milik anak saya, kemudian memakannya. Kemudian cuilan-cuilan selanjutnya tidak bisa dihitung lagi. Anak-anak ikhlas saja melihat bapaknya ikut-ikutan menikmati jatahnya.
Bahkan tak sungkan saya menanyakan ke istri tentang satu box nasi campur mie goreng dan telur ceplok tadi. Tanpa ba bi bu diapun mengambilkan box itu, sekaligus sendoknya. Saya pun membuka dan memakannya. Ternyata nikmat banget rasanya. Saat saya menikmati masakan dan bekal yang disiapkan istri itu. Sambil makan saya melihat ia diam saja. Tidak ada respon.
Setelah beberapa menit akhirnya sayapun mentandaskan satu box nasi itu. Istri saya kemudian mengambilkan sebotol air mineral. Saya meminumnya dengan volume yang banyak. Dan lega rasanya. Minum banyak air setelah menghabiskan makanan memang rezeki keberkahan dari Tuhan. Namun sebelum saya bersantai lagi menikmati suara bapak-bapak dan ibu-ibu bernyanyai cempreng, istri saya menguping, “Bagaimana, ternyata ribet itu berkah, kan?”
Oh may God, saya pun malu-malu kucing mendengar pertanyaan yang esensi sebenarnya menohok kemunafikan saya.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda