Depan belakang burung, nampak aku lihat semenjak motorku
keluar dari By Pass Krian menuju Trosobo Sidoarjo. Lebih tepatnya di depan
pabrik Charoen Pokphand Krian, aku sempat memperhatikan seorang bapak muda
membonceng depan belakang dengan sangat mesra, di atas motornya. Saking
mesranya, kelihatan ia melindungi benar boncengannya itu dengan mengikatkan
tali di tubuhnya.
Tapi jangan dikira yang diboncengnya itu istri dan
anaknya. Yang diboncengnya depan belakang itu ternyata dua burung di dalam dua
sangkar. Perkiraanku saat awal melihat kejadian itu mengira pasti burung-burung
tersebut akan dibawa ke Surabaya. Dan ternyata benar, ia menuju ke Kota
Pahlawan. Itu aku lihat saat melintas di depan gedung BNI Sukomanunggal, ia
menyalip motorku.
Di beberapa hari yang lalu ketika aku mengantar
istri ke sebuah apotik di Mojokerto, aku juga mendapati peristiwa yang sama.
Seorang mas-mas mengendarai motor juga membonceng dua sangkar burung, depan
belakang. Walau dengan kondisi yang kelihatan kurang nyaman itu, ia nampak
enjoy dan kemudian memarkir motornya. Lalu memasuki apotik.
Kali ini aku bukan ingin menafsir peristiwa pria
pembonceng burung tersebut. Tapi yang ingin aku sampaikan adalah realitas,
bahwa memang banyak lelaki yang mencintai burung. Dengan segenap besarnya rasa
cinta tersebut, keluar biaya jutaan bahkan puluhan jutapun, ia akan mau saja.
Sebuah realitas yang tidak boleh diumpat, terutama para ibu yang kesal dengan
suami yang hobi mengelus-ngelus burungnya tersebut!!??
Realitas itu aku kira sangat sebanding dengan para
ibu yang menyukai tas, baju, kerudung, dan asesoris lainnya. Yang karena
besarnya cinta itu membuat mereka ingin mengoleksi sebanyak mungkin. Harganya
tentu tidak kalah mahal dengan burung-burung suaminya.
Kebetulan aku juga punya teman seorang guru
perempuan yang sangat cinta mati dengan segala benda yang ada gambarnya
Doraemon. Apapun barang atau benda yang terlukis gambar si kucing ajaib asal
Jepang yang tidak pernah tua itu, akan ia beli dengan sekuat modalnya. Namanya
kesenangan atau hobi, itu sah-sah saja, asal tidak benda yang dilarang
pemerintah.
Oleh karenanya, protes banyak ibu-ibu ke suaminya
yang kebetulan doyan koleksi burung lalu disangkanya tidak hemat,
menghambur-hamburkan harta, itu aku katakan tidak adil. Sebuah justifikasi yang
bias. Sebuah tuduhan yang double standard
ala Donald Trump: lha kalau suaminya gak boleh koleksi burung, ngapain si ibu malah
getol banget koleksi baju dan tas mahal? Hayo!
Tapi juga tidak bisa diadilkan-adilkan secara
ngawur. Misalkan, kedua pasangan yang sama-sama punya hobi koleksi mengkoleksi,
kemudian bersepakat untuk bebas melampiaskan hasrat tersebut. Bebas, sebagai
bentuk keadilan.
Akhirnya keduanyapun membeli segala apa yang
disukainya. Membeli dengan edan-edanan. Sampai lupa bahwa pengeluaran keuangan
keluarga tidak hanya untuk benda koleksi, tapi harus disisihkan untuk fakir
miskin, jariyah di mushalla pinggir rumah, infaq di panti asuhan dan
lainnya. Dan terutama untuk makan keluarganya. Atau diusahakanlah mengerem
untuk tidak belanja gila-gilaan, sebab itu juga sebagai bentuk praktik
keadilan.
Jadi ingat sama ceritanya Mbah Nun tentang seorang
penjual yang aneh. Ia aneh sebab setiap kali dagangannya laku, uang dari pembeli
itu langsung dibagi ke tiga pos: urusan makan, urusan sedekah dan urusan jatah
kulakan. Nampaknya lelaku hidup ala pedagang yang diceritakan Mbah Nun tersebut
– tapi aku lupa detail ceritanya –bisa pula diadopsi.
Atau paling minimal, cukuplah kesenangan dan hobi
yang sebenarnya urusan kepuasan saja, bisa diminimalisir dengan cerdas.
Misalnya bulan ini waktunya si istri beli baju, maka bulan selanjutnya waktuya
si suami menggelorakan hobinya, semisal membeli buruk cucak rowo. Bisa pula
distrategikan untuk melihat kondisi keuangan yang ada. Kalau memang mepet hanya
untuk urusan makan dan sekolah anaknya, ya tidak usah punya pikiran aneh-aneh.
Misalnya si ibu memaksa ingin beli kacamata seperti yang dipakai Syahrini, kan
sama pula salah langkah. Ingat segala macam yang menempel di Syahrini itu mahal!
Seandainya ada yang protes, perkara hobi itu kan hak
asasi manusia, masak orang lain ikut campur. Ya kalau ada yang bicara seperti
ini mau bagaimana lagi. Kita memang tak punya hak mencampuri urusan HAM orang
lain. Memang boros atau hemat itu HAM, semua orang bebas memilih di antara dua
pilihan yang sangat nyata di sisi mana yang paling positif.
Andaikata semua ibu atau bapak memilih boros, ya itu
pilihannya. Kita, seperti yang aku tulis di atas, hanya menulis saja. Mencari
strategi yang matang tentang cara menghemat. Menyusun metode bagaimana memanage
keuangan keluarga yang terbaik. Kan itu.
Artinya tulisan ini memang membidik para bapak yang
suka mengkoleksi burung dan mau mendengar ocehan orang lain yang care dengan kebiasaannya. Bagi yang
merasa terganggu HAMnya ya tulisan ini tidak usah digubris. Gampang to?
Tapi harus juga diakui, ternyata seorang lelaki
penghobi koleksi burung, dengan segala kelakuannya, banyak pula yang lucu. Bahkan
bagi orang seusia bapak-bapak yang sudah punya anak cewek siap dimantukan,
kecintaan yang possesif terhadap burung-burung koleksinya itu kadang terlampau
konyol.
Aku punya dua koleksi cerita lucu mengenai kekonyolan
dan kelucuan tersebut. Pertama, seorang teman pernah kehilangan burung
kesayangannya. Burung itu mendadak keluar sangkar saat juragannya menaruh
makanan. Biasanya burung peliharaan yang keluar sangkar akan mudah dicari dan
ditangkap lagi. Tapi burung yang satu ini lain. Ia berhasil berontak, keluar
sangkar dengan paksa, dan hilang entah ke mana. Pelariannya jelas beda dengan
Setnov yang memang ingin menghindari hukum. Sementara pelarian si burung ini,
mungkin, karena ingin bebas saja.
Nah, menurut cerita yang disampaikan istri temanku
ini, pasca hilangnya si burung, suaminya itu semalaman tidak bisa tidur. Ia bersedih
dengan raibnya si burung. Semua terlihat dari raut mukanya yang memang memendam
kesedihan karena kehilangan “kekasih” tercintanya itu.
Dan kedua, cerita dari temanku yang lain. Teman
yang satu ini juga punya koleksi burung yang banyak dan mahal. Saking cintanya,
perhatian yang diberikan kepada burungnya sangat luar biasa. Tiap hari
burung-burung itu dirawat penuh sayang. Pagi dan sore, waktu di mana ia
menyurutkan kehidupannya untuk burung-burungnya. Untuk istri dan keluarganya
sementara tidak.
Suatu ketika ia akan bepergian jauh, rekreasi ke
luar daerah yang menghabiskan beberapa hari perjalanan. Karena itulah ia
menitip ke anak laki-lakinya agar tiap sore semua burung disemprot dengan air
yang sudah disediakan. Tapi nahas ia lupa tidak memberitahu secara lengkap dengan
botol yang mana si burung harus disemprot.
Amanah itu ditunaikan, si anak itupun menyemprot burung
secara rutin dengan botol semprotan yang pertama kali ia pandang. Tiap sore ia
memenuhi amanah bapaknya itu. Namun beberapa hari kemudian terjadi tragedi. Semua
burung mahal milik bapaknya itu mendadak mati. Ia bingung, lalu menelepon
bapaknya yang masih belum pulang.
Mendapat laporan matinya burung-burung yang
dicintainya itu, sontak membuat temanku itu kaget. Ini ada apa? Kok bisa air
membunuh burung? Kemudian ia menanyakan ke anaknya perihal botol semprotan
warna apa yang dipakai anaknya. Si anak menjawab bahwa botol warna
merah yang nyantol dekat tangga yang ia pakai. Mendengar itu temankupun
langsung lunglai. Sebab ternyata botol yang warna merah itu berisi minyak
tanah. Sementara botol khusus menyemprot burung itu berwarna kuning dan
kebetulan kelupaan masih tersimpan di dalam kresek. Hiks hiks...
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda