Tidak ada contoh empirik tentang parade nilai kemanusiaan di
enam hari ini kecuali yang aku cerap di Bonang 16. Bonang 16 adalah ruang
sosial, antropologi, psikologi, etika, dan tentu saja medis, yang ukurannya hanya
kisaran 10 meter kali 5 meter. Tentu luas ruangan yang tak akan mampu menampung
Indonesia. Tetapi di ruang yang tidak wah itulah aku mendapat satu gambaran
tentang wajah kehidupan yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia.
Penghuni yang sah di ruang itu hanya tiga orang: Cak Ni, Cak
So dan Cak Dul. Sementara penghuni yang tidak tercatat yang terdiri para
pensupport, pembantu, dan pendoa, jumlahnya melebihi mereka bertiga. Interaksi
fisik dan psikis merekalah yang menjadi gambaran tentang Indonesia yang apa adanya
dan yang seharusnya.
Pertama, Cak Ni. Lelaki 70 tahun ini sangat aku kenal sampai
di tulang sumsumku. Cak Ni adalah nama panggilan penuh akrab dari adik-adiknya.
Cak Ni baru saja mendapat anugrah dari Tuhan. Terbaring lunglai, sebab sudah 10
hari ini ia harus menemani seorang tamu. Tamu itu datang dan menginap. Cak Ni
dan keluarganya tidak tahu kapan tamu ini akan pamit pulang ke rumahnya, biar
Cak Ni bisa keluar dari Bonang 16. Tamu tersebut bernama “other cerebral
infraction” atau dikenal sebagai stroke.
Banyak perubahan pada diri Cak Ni semenjak si tamu menginap.
Kaki kanan Cak Ni sulit bergerak. Tangan kanan Cak Ni seperti tidak berotot.
Dan lidah Cak Ni terlalu bengkok ke kanan, sehingga pelat atau pelo jika sedang
bicara.
Kedua, Cak So. Lelaki yang kutaksir usianya 55 tahun ini
mempunyai ciri khas di rambutnya. Keriting berhamburan, alias tidak rapi, mirip
seorang artis sinetron di RCTI yang selalu jadi preman, tapi lucu. Aku lupa
siapa nama artis itu. Yang membedakan, wacah Cak So lebih pucat dan nasib kurang
mengenakkan yang menggelayutinya.
Cak So adalah penderita penyakit ginjal. Tiap hari selalu
ada jadwal tubuhnya dimasuki darah baru. Sudah dua kali ginjalnya dioperasi.
Dan sejatinya, ia akan menunggu operasi untuk ketiga kalinya, di Bonang 16
bersama dua kawannya.
Dan ketiga, Cak Dul. Lelaki yang juga usianya 55 tahunan
ini, lebih nyentrik dari dua kawan sebelumnya. Badannya besar. Lehernya kokoh,
mirip leher betonnya Mike Tyson. Kakinya juga besar. Suaranya super keras.
Sekali batuk, mampu mengguncangkan seisi Bonang 16. Tapi ironinya, ia tak kuat
berjalan. Badan super besarnya hanya terbaring lemah di ranjang Bonang 16. Sama
seperti Cak Ni, Cak Dul sedang ditamui stroke, yang membuat ucapannya sulit
dipahami.
Cerita dari Mbak Yu yang menunggunya, nasib Cak Dul lebih
tragis dari Cak Ni dan Cak So. Stroke, tamu yang datang mendadak sebenarnya adalah
sebuah rangkaian persitiwa setelah sebelumnya Cak Dul tak kuat mikir menghadapi
kenyataan istrinya minggat dari rumah. Mengikuti lelaki gendakannya,
meninggalkan Cak Dul yang bingung, resah dan tak berdaya. Kepincut lelaki lain akibat
obrolan di facebook.
Nasib boleh beda, tetapi ada satu kesamaan yang paling
utama. Mereka bertiga ditakdir tergeletak di ruang yang sama, di cita-cita yang
sama. Cita-cita meraih derajat sehat. Dengan berbagai upaya. Medis dan psikis.
Ini yang paling penting.
Tentu Cak Ni sebetulnya juga mikir berat. Mungkin mikir
kapan bisa segera kembali mengumandangkan adzan di masjid dekat rumahnya. Atau
Cak So, pasti ia mikir nasib perutnya yang akan kembali dibedah. Andaikata ada
keajaiban, Cak So tak akan lagi berpucat wajah. Cak Dul, seharusnya tak
perlulah istri minggat dipikir terlalu dalam. Biarkan saja dia minggat, itu
kenyataan, yang penting Cak Dul disehatkan dulu fisiknya. Harus. Setelah sehat
baru mikir langkah selanjutnya. Yang penting Cak Dul harus nerimo kenyataan
bahwa memang hari-hari ini banyak pasangan yang menyeleweng gegara komunikasi
lintas kota, beda jenis kelamin, antar suami atau istri orang, tanpa sekat
perasaan, tanpa benteng moral, dan tanpa rasa ibah-cinta-kasih kepada
pasangannya.
Di situlah peran kami-kami ini dituangkan. Kepada Cak Ni ungkapan
kami sekedar saran agar terus bersabar, nerimo, dan berdzikir. Minimal merapal
al fatihah sebanyak-banyaknya, sebab setahu yang pernah aku baca, Imam Ibnu
Qayyim al-Jauziyah sering menyembuhkan sakit pasiennya dengan bacaan fatihah.
Dan itu memang pengobatan cara nabi (al-Thib al-Nabawi).
Lain lagi dengan Cak So. Ada seorang adik perempuan yang
kadang menemaninya. Berbeda dengan Cak So dan istrinya yang muslim, adiknya ini
kebetulan penganut nasrani. Terdengar dari hafalan injil yang ia lantunkan tiap
malam. Juga ia lantunkan sambil memotivasi Cak So dan Cak Dul, agar tidak
menyerah dengan situasi yang mendera. Situasi ini adalah kemauan Tuhan, begitu
yang aku dengar dari ucapannya. Maka mintalah kepada Tuhan sambil berdoa,
khusyuk, penuh pengakuan, dan optimis, niscaya akan diangkat penyakitnya itu.
Aku mendengar si ibu memotivasi memakai injil, menjadi
teringat kembali ketika saya masih ikut “rewang” di sebuah instansi pemerintah
tingkat kecamatan. Pernah suatu ketika ada tugas resmi dari instansi untuk
mendatangi seorang modin di sebuah desa yang di desa tersebut harmoni antar
penganut agama terjaga dengan baik. Memang terbukti. Ketika aku asik duduk di
teras petugas desa bla bla bla itulah, sambil menunggu pak modin selesai ganti
pakaian, sayup-sayup aku dengar suara bapak pendeta berceramah. Tepat di sebuah
gereja yang berdiri di baratnya rumah pak modin. Di setiap Minggu pagi aku kira
pak Modin pasti sangat akrab dengan suara-suara ceramah bapak pendeta atau
nyanyian-nyanyian pujian dari para jemaahnya.
Tapi dua realita itu tidak bisa dijalankan dengan terbuka
seterbuka-bukanya. Setiap penganut agama punya akidah. Ialah yang menjadi
identitas terdalam dari setiap penganut agama, yang membedakan satu sama lain.
Kalau untuk urusan akhlak memang harus harmonis dan bekerjasama dalam semangat
kegotong royongan. Berbeda dengan soal akidah. Aku pun mencoba bersikap yang
semestinya, kepada Cak Ni, dihadapan ibu tadi, saya mendemostrasikan bahwa Cak
Ni punya keyakinan yang kuat pula terhadap Tuhan-nya. Dan itu terwujud nyata
dengan aku membisik kepada Cak Ni agar banyak-banyak dzikir dan merapal
fatihah. Aku melihat si ibu tadi memakluminya. Saya pun memaklumi tindakannya
juga.
Kadangkala ada pula para penunggu atau pendamping yang
kecapekan, stres dan payah. Memang wajar, menunggu dan melayani para
“pesakitan” lebih berat ketimbang main gadget handphone seharian atau nonton
sinetron semalaman atau main gaple sampai pagi atau nongkrong dengan sahabat
sampai larut. Tak ada enak-enaknya.
Tapi kok aneh juga. Tidak mengenakkan, jengah, lara, tapi
kok daya tahan mentalnya kuat. Padahal mereka sering berwisata dengan hal-hal yang
menjijikkan, dengan yang beresiko, atau dengan yang memekak emosi. Pasti ini
makna pengorbanan. Atau bahasa jawanya, mengalah pada situasi. Mengalah pada
dirinya sendiri. Lebih mendahulukan Cak Ni, Cak So dan Cak Dul, dari pada
dirinya sendiri.
Pak Agus Sunyoto, pakar sejarah Wali Sanga, pernah
menjelaskan bahwa “mengalah” itu bukan dibentuk dari kata dasar kalah. Tetapi
dibentuk dari kata dasar Allah atau Tuhan. Jadi “mengalah” itu “ngalah”. Makna
dari “ngalah”, ia hendak menuju Allah. Sama maknanya dengan “ngalor”, mau
menuju lor, “ngadem” mau menuju tempat yang adem, “ngulon” mau menuju kulon,
dll.
Salah satu potret kemanusiaan lainnya di Bonang 16 adalah
saling tolong menolong. Dan ini perwujudan humanisme yang paling mendasar.
Mereka saling berdialog, bekerja sama, dan tolong menolong dengan tanpa
paksaan. Semuanya bertindak karena kejujuran dan kemanusiaan. Di Bonang 16
setiap orang mendapatkan makna melalui komunikasi dan interaksi dengan lainnya.
Mungkin, akan ada perbedaan setelah mereka berpisah dari ruang itu. Mereka akan
bertambah bijak, sabar dan nerimo ing pandum. Dan itu wujud kristalisasi dari
interaksionisme simbolik, sebuah teori sosial yang layak diketengahkan.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda