Beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan pengalaman saya berkunjung ke Kampoeng Ilmu yang berada di Jalan Semarang Surabaya. Tulisan sederhana tersebut – yang tampil di Facebook sebagai status harian – memang merupakan narasi pengalaman paling perdana saya mengunjungi dan berburu buku di tempat yang sangat ikonik di Kota Surabaya itu. Sukurlah hari ini saya bisa kembali berkunjung untuk kedua kalinya. Tentu ada beberapa peristiwa yang membedakan dengan pengalaman pertama saya dulu dan akan saya narasikan dengan uraian sederhana di paragraf-paragraf selanjutnya.
Saya memang bersukur dengan kesempatan kedua ini. Kesempatan yang dipenuhi harapan agar saya bisa menemukan lebih banyak lagi buku-buku unik dan menarik. Situasi yang menyuguhkan banyaknya lapak dan banyaknya buku yang disusun-display, membawa bisikan positif tersebut kepada diri saya. Bisikan itu berupa optimisme bahwa ketika saya pulang dari tempat menyenangkan tersebut, saya bisa mengusung berpuluh-puluh judul buku.
Demi harapan besar itu, sayapun menerapkan strategi kunjungan total ke semua lapak yang ada. Satu persatu lapak tersebut akan saya datangi silih berganti. Sekali lagi ini sebuah harapan bahwa dengan strategi mendatangi semua lapak, kemungkinan besar saya bisa mendapatkan buku-buku yang sesuai dengan keinginan akan gampang tercapai.
Di lapak pertama yang berada di selatan pintu masuk, sayapun melihat-lihat buku yang bertumpuk kurang rapi itu. Sepuluh menit saya “mengubek” tumpukan buku milik seorang ibu yang terus mengekor dan menawarkan dagangannya kepada saya. Dari lapak tersebut saya mendapatkan empat buku. Tiga buku terdiri dari novel, buku agama dan biografi. Satunya lagi novel sejarah, yang menurut si ibu tersebut menjadi “bestseller” di lapaknya.
Mendengar kata bestseller diucapkan, sayapun tertarik untuk mengajak ngobrol perempuan setengah baya itu. Sayapun menanyakan alasan mengapa buku novel sejarah yang sepintas saya baca di cover belakang, jika setting kejadiannya di Amerika, itu menjadi bestseller. Si ibu menjelaskan kepada saya bahwa sebelumnya beliau punya novel tersebut sebanyak 25 eksemplar. Kini hanya tinggal dua eksemplar.
Dengan sedikit berkelakar saya menyatakan keraguan dengan statemen itu di hadapan si ibu tersebut. Ternyata beliau dengan sangat meyakinkan memberikan penjelasan lanjutan bahwa dia tidak berbohong. Buku tersebut bahkan dikulak oleh pemilik lapak lainnya, sebab banyak yang mencarinya. Wow, saya terkagum-kagum juga dengan penjelasan si ibu dan pada akhirnya saya mempercayai cerita si ibu. Ingin tahu apa judul buku tersebut? Buku tebal terbitan Serambi yang konon bestseller di lapak si ibu dan tercatat di cover buku juga bestseller di New York Times - bahkan rangking 1 - itu berjudul “All the President’s Men: Kisah Nyata Kejatuhan sang Presiden”.
Buku tebal tersebut saya beli satu eksemplar dan dimasukkanlah ke dalam kantung plastik berwarna hitam, ditambah tiga buku lainnya. Harganya? Sebagai hunter buku yang sudah berkunjung dua kali, sayapun harus mendapatkan pengalaman yang berbeda, salah satunya saya mendapatkan harga hanya Rp. 80.000,-. Perinciannya, satu buku novel karya penulis negeri sendiri 15 ribu, dua buku masing-masing 20 ribu sehingga totalnya 40 ribu dan satu buku bestseller tadi seharga 25 ribu. Berbeda dengan kunjungan yang pertama, karena semua buku yang dulu saya beli harganya dipukul rata 20 ribuan rupiah.
Saya bersukur kunjungan di lapak yang pertama lumayan lancar, sehingga memunculkan kecerahan di langit yang memayungi Kampoeng Ilmu, tepat di atas kepala ini. Sebagai simbol akan lancarnya proses hunting buku di lapak-lapak selanjutnya. Maka sayapun bergeser ke lapak-lapak lainnya untuk mengulik buku-buku yang menjadi obyek wisata saya siang itu.
Ya Tuhan, sekejap harapan besar tadi seperti tinggal menunggu waktu kemunculannya, ternyata semua terjadi tidak seperti yang saya perkirakan. Dan tidak seperti yang saya euforiakan. Saya sudah berusaha dengan sabar membolak balik tumpukan buku, menggeser, mengangkat, menelusuri seluruh ruang di masing-masing lapak, toh pada akhirnya belum ada yang memenuhi keinginan saya.
Memang judul bukunya banyak, genrenya juga bermacam-macam, tetapi rata-rata bukan buku orsinil. Realita itulah yang menjadi handicap bagi diri saya. Apalagi rencananya buku yang saya beli kali ini akan saya tawarkan kepada para peminat buku di linimasa, sebab sudah tiga bulan ini saya nambah profesi sebagai pedagang buku online. Sama juga seperti para pelapak buku di Kampoeng Ilmu.
Oh iya, mengenai buku yang bukan orsinil, saya sendiri pernah pula mengalaminya langsung. Tampak dari covernya memang sangat bagus. Awalnya saya menduga buku yang saya beli langsung dari tokonya – tapi saya tidak akan mengumumkan siapa identitas penjualnya – adalah buku asli. Namun saya benar-benar kecewa setelah saya buka segelnya ketika tiba di rumah, ternyata buku tersebut hasil foto copy-an dan nahas hasilnya sangat buruk. Pengalaman ini sama persis pernah melanda seorang teman kuliah saya.
Oleh karena pengalaman itulah saya tidak mau mengecewakan para peminat buku yang akan membeli buku jualan saya. Sebaik mungkin buku yang saya hadirkan merupakan buku yang layak baca dan orsinil, meskipun tidak lagi tersegel. (Mohon maaf tidak sengaja promosi. Mudah-mudahan Anda tidak terganggu dengan ketidaksengajaan ini. Namanya juga pedagang, sengaja dan tidak, bukan jadi persoalan....hehehe)
Kembali ke lapak, sayapun segera menutup kunjungan ke lapak yang paling pamungkas. Yang paling pamungkas ini sebenarnya juga tidak memuaskan. Tapi ada satu hal yang membuat saya memperoleh fakta berupa informasi menarik. Atau lebih tepatnya: tips. Menurut seorang bapak si empunya lapak, saya ini termasuk pengunjung yang telat.
“Kok bisa saya telat?” Begitu sahut saya kepada si bapak.
“Iya Mas, sampeyan ini memang telat. Kemarin semua buku bagus yang saya peroleh sudah diborong pedagang buku online dari Solo. Sekarang ya adanya yang seperti Sampeyan lihat itu.”
“Orang Solo berburu buku ke sini Pak?”
“Iya, Mas. Bahkan dari daerah lain juga ke sini.”
“Terus enaknya saya harus seperti apa Pak, biar tidak kalah momentum dengan yang lainnya?”
“Begini lo Mas. Lapak saya ini hampir setiap hari selalu kedatangan buku-buku baru. Maksudnya bukan bukunya yang baru, tetapi koleksinya yang baru. Kemarin saja ada tiga karung buku. Jadi menurut saya, Mas harus sering-sering ke sini.”
“Betul juga Sampeyan. Tapi begini lo Pak. Masalahnya rumah saya jauh. Nah kalau saya sering-sering ke sini, bahkan kalau bisa tiap hari, ya capek saya Pak. Tidak kuat badan saya kalau dipaksa ke Surabaya tiap hari.”
“Kalau begitu Mas, ya cari saja koleksi buku saya yang ada itu. Tapi mohon dimaklumi, yang ada itu mayoritas buku pelajaran sekolah dan kuliah teknik.”
“Iya Pak saya tahu. La wong saya sudah “mendelik” dari tadi kok!”
Mojokerto, 18-10-2017
Saya memang bersukur dengan kesempatan kedua ini. Kesempatan yang dipenuhi harapan agar saya bisa menemukan lebih banyak lagi buku-buku unik dan menarik. Situasi yang menyuguhkan banyaknya lapak dan banyaknya buku yang disusun-display, membawa bisikan positif tersebut kepada diri saya. Bisikan itu berupa optimisme bahwa ketika saya pulang dari tempat menyenangkan tersebut, saya bisa mengusung berpuluh-puluh judul buku.
Demi harapan besar itu, sayapun menerapkan strategi kunjungan total ke semua lapak yang ada. Satu persatu lapak tersebut akan saya datangi silih berganti. Sekali lagi ini sebuah harapan bahwa dengan strategi mendatangi semua lapak, kemungkinan besar saya bisa mendapatkan buku-buku yang sesuai dengan keinginan akan gampang tercapai.
Di lapak pertama yang berada di selatan pintu masuk, sayapun melihat-lihat buku yang bertumpuk kurang rapi itu. Sepuluh menit saya “mengubek” tumpukan buku milik seorang ibu yang terus mengekor dan menawarkan dagangannya kepada saya. Dari lapak tersebut saya mendapatkan empat buku. Tiga buku terdiri dari novel, buku agama dan biografi. Satunya lagi novel sejarah, yang menurut si ibu tersebut menjadi “bestseller” di lapaknya.
Mendengar kata bestseller diucapkan, sayapun tertarik untuk mengajak ngobrol perempuan setengah baya itu. Sayapun menanyakan alasan mengapa buku novel sejarah yang sepintas saya baca di cover belakang, jika setting kejadiannya di Amerika, itu menjadi bestseller. Si ibu menjelaskan kepada saya bahwa sebelumnya beliau punya novel tersebut sebanyak 25 eksemplar. Kini hanya tinggal dua eksemplar.
Dengan sedikit berkelakar saya menyatakan keraguan dengan statemen itu di hadapan si ibu tersebut. Ternyata beliau dengan sangat meyakinkan memberikan penjelasan lanjutan bahwa dia tidak berbohong. Buku tersebut bahkan dikulak oleh pemilik lapak lainnya, sebab banyak yang mencarinya. Wow, saya terkagum-kagum juga dengan penjelasan si ibu dan pada akhirnya saya mempercayai cerita si ibu. Ingin tahu apa judul buku tersebut? Buku tebal terbitan Serambi yang konon bestseller di lapak si ibu dan tercatat di cover buku juga bestseller di New York Times - bahkan rangking 1 - itu berjudul “All the President’s Men: Kisah Nyata Kejatuhan sang Presiden”.
Buku tebal tersebut saya beli satu eksemplar dan dimasukkanlah ke dalam kantung plastik berwarna hitam, ditambah tiga buku lainnya. Harganya? Sebagai hunter buku yang sudah berkunjung dua kali, sayapun harus mendapatkan pengalaman yang berbeda, salah satunya saya mendapatkan harga hanya Rp. 80.000,-. Perinciannya, satu buku novel karya penulis negeri sendiri 15 ribu, dua buku masing-masing 20 ribu sehingga totalnya 40 ribu dan satu buku bestseller tadi seharga 25 ribu. Berbeda dengan kunjungan yang pertama, karena semua buku yang dulu saya beli harganya dipukul rata 20 ribuan rupiah.
Saya bersukur kunjungan di lapak yang pertama lumayan lancar, sehingga memunculkan kecerahan di langit yang memayungi Kampoeng Ilmu, tepat di atas kepala ini. Sebagai simbol akan lancarnya proses hunting buku di lapak-lapak selanjutnya. Maka sayapun bergeser ke lapak-lapak lainnya untuk mengulik buku-buku yang menjadi obyek wisata saya siang itu.
Ya Tuhan, sekejap harapan besar tadi seperti tinggal menunggu waktu kemunculannya, ternyata semua terjadi tidak seperti yang saya perkirakan. Dan tidak seperti yang saya euforiakan. Saya sudah berusaha dengan sabar membolak balik tumpukan buku, menggeser, mengangkat, menelusuri seluruh ruang di masing-masing lapak, toh pada akhirnya belum ada yang memenuhi keinginan saya.
Memang judul bukunya banyak, genrenya juga bermacam-macam, tetapi rata-rata bukan buku orsinil. Realita itulah yang menjadi handicap bagi diri saya. Apalagi rencananya buku yang saya beli kali ini akan saya tawarkan kepada para peminat buku di linimasa, sebab sudah tiga bulan ini saya nambah profesi sebagai pedagang buku online. Sama juga seperti para pelapak buku di Kampoeng Ilmu.
Oh iya, mengenai buku yang bukan orsinil, saya sendiri pernah pula mengalaminya langsung. Tampak dari covernya memang sangat bagus. Awalnya saya menduga buku yang saya beli langsung dari tokonya – tapi saya tidak akan mengumumkan siapa identitas penjualnya – adalah buku asli. Namun saya benar-benar kecewa setelah saya buka segelnya ketika tiba di rumah, ternyata buku tersebut hasil foto copy-an dan nahas hasilnya sangat buruk. Pengalaman ini sama persis pernah melanda seorang teman kuliah saya.
Oleh karena pengalaman itulah saya tidak mau mengecewakan para peminat buku yang akan membeli buku jualan saya. Sebaik mungkin buku yang saya hadirkan merupakan buku yang layak baca dan orsinil, meskipun tidak lagi tersegel. (Mohon maaf tidak sengaja promosi. Mudah-mudahan Anda tidak terganggu dengan ketidaksengajaan ini. Namanya juga pedagang, sengaja dan tidak, bukan jadi persoalan....hehehe)
Kembali ke lapak, sayapun segera menutup kunjungan ke lapak yang paling pamungkas. Yang paling pamungkas ini sebenarnya juga tidak memuaskan. Tapi ada satu hal yang membuat saya memperoleh fakta berupa informasi menarik. Atau lebih tepatnya: tips. Menurut seorang bapak si empunya lapak, saya ini termasuk pengunjung yang telat.
“Kok bisa saya telat?” Begitu sahut saya kepada si bapak.
“Iya Mas, sampeyan ini memang telat. Kemarin semua buku bagus yang saya peroleh sudah diborong pedagang buku online dari Solo. Sekarang ya adanya yang seperti Sampeyan lihat itu.”
“Orang Solo berburu buku ke sini Pak?”
“Iya, Mas. Bahkan dari daerah lain juga ke sini.”
“Terus enaknya saya harus seperti apa Pak, biar tidak kalah momentum dengan yang lainnya?”
“Begini lo Mas. Lapak saya ini hampir setiap hari selalu kedatangan buku-buku baru. Maksudnya bukan bukunya yang baru, tetapi koleksinya yang baru. Kemarin saja ada tiga karung buku. Jadi menurut saya, Mas harus sering-sering ke sini.”
“Betul juga Sampeyan. Tapi begini lo Pak. Masalahnya rumah saya jauh. Nah kalau saya sering-sering ke sini, bahkan kalau bisa tiap hari, ya capek saya Pak. Tidak kuat badan saya kalau dipaksa ke Surabaya tiap hari.”
“Kalau begitu Mas, ya cari saja koleksi buku saya yang ada itu. Tapi mohon dimaklumi, yang ada itu mayoritas buku pelajaran sekolah dan kuliah teknik.”
“Iya Pak saya tahu. La wong saya sudah “mendelik” dari tadi kok!”
Mojokerto, 18-10-2017
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda