Istriku hamil. Itu aku dengar entah di hari apa, tanggal
berapa, aku lupa. Pokoknya di suatu pagi, istriku sedang menghampiriku. Ketika
itu di tangannya terpegang test pack. Sungguh aku termasuk suami yang
bodoh ketika disuruh membaca simbol di alat itu. Apalagi disuruh memaknainya. Otakku
tak sanggup bekerja jika alat yang pipih sepanjang 10 sentimeter itu tiba-tiba
dihadapkan di depanku.
Tanpa perlu berpikir, akupun langsung menanyakan apa
maksudnya. Ia menjawab dengan memasang wajah tersenyum cerah. Bahwa ia positif
hamil. Telah ada nafas kehidupan di rahimnya.
Tiba-tiba cahaya memendar, seakan keluar dari raut wajah
seorang ibu yang melahirkan kedua anakku itu. Iya, ia mengandung anak kami yang
ketiga. Anak edisi mutakhir yang memang kami idamkan sejak lama. Aku langsung
mengucap syukur dalam hati.
Ya Tuhan Yang Maha Menganugerahkan nikmat, inilah rezeki
yang sejati buat kami sebagai manusia. Inilah bukti pengakuan ketidaksamaan
kami dibanding keunikan-Mu duhai Tuhan. Inilah nikmat yang tepat dan presisi
yang Kau berikan kepada kami. Tepat dan presisi, sesuai dengan kondisi kami.
Maklumlah, secara ekonomi, baik moneter, mikro dan makro, kami
merasa telah didera kesulitan di sana-sini. Deraan itu sebetulnya lumrah-lumrah
saja. Itu disebabkan hari-hari ini kami berdua dalam proses menyelesaikan
kewajiban “luru ilmu”. Yang dua-duanya butuh bea atau ongkos yang tidak
sedikit.
Adanya janin yang mudah-mudahan sehat jasmani dan ruhani di
perut ibunya anak-anak, meyakinkanku bahwa Tuhan sudah merubah status kami. Setelah
beberapa tahun ini kami terpukul telak. Sehingga tak mampu membahagiakan orang
tua dan kerabat. Tetapi setelah segumpal darah itu Dia pasangkan di rahim istriku,
di situlah kami sadar, jika kami telah menjadi kaya raya.
Kamilah konglomerat. Kamilah orang terkaya sekalipun
dibanding dengan pemilik Amazon.com, Jeff Bezos, manusia dengan kekayaan Rp.
1.350 triliun. Karena kami telah Dia berikan kekayaan yang tidak ternilai,
tiada tepermanai. Bahkan kami berani memastikan, jika menara Eiffel di Paris
sengaja dijual pemerintahnya, pasti harganya tak akan semahal janin anak kami.
Berapa sih harga Eiffel? Atau yang lebih tua Piramida Giza
di Mesir? Dibanding nilai jual Neymar seharga 3,5 triliun dari Barcelona ke Paris
Saint-Germain, kota tempat Eiffel berdiri, pula para bintang basket NBA yang
nilai transfernya juga triliunan, tentu saja lebih mahal bangunan bersejarah
itu. Taruhlah harga jualnya seratus kali lipatnya nilai jual Neymar, maka akan
ketemu beratus-ratus triliun rupiah.
Namun perlu juga ada pertanyaan lainnya: akankah bangunan raksasa
buatan manusia yang menjadi keajaiban dunia itu bisa dijual? Orang gila saja
yang mengatakan bisa. Bangunan itu bukan saja milik Perancis dan Mesir. Mereka
telah menjadi milik masyarakat dunia yang akan dikenang dan dijaga dari
kerusakan.
Adapun janin anak kami, sudahlah tentu ia lebih dan lebih
dan lebih mahal dibanding mereka itu. Seandainya, sekali lagi seandainya, aku
menjadi gila, atau menurut Nietzsche aku menjadi orang yang “dekaden”, terus
janin yang akan menjadi jabang bayi itu aku jual. Boleh jadi aku akan
menghargainya seratus kali lipat dari harga Eiffel yang seratus kali lipatnya
harga mega transfer Neymar.
Super super super mahal. Dan harga itu sah-sah saja aku
pasang. Maklum, aku menjadi orang yang dekaden, seandainya. Tetapi ketika aku
waras, normal, sehat ruhani, pastilah harga ketika dekaden itu akan aku up
sedemikan kali lipat. Mengapa? Karena aku tahu, tak akan ada yang mampu
menebusnya.
Ketidakpunyaan anak, ketidakpunyaan pula gairah hidup.
Padahal hidup itu dihidupkan dan dinyalakan dengan gairah, kekuatan mental dan
semangat menatap masa depan. Ketika ia kita padamkan, kita akan mati sampai
kita dihidupkan lagi saat para malaikat mengelilingi kita di alam barzakh.
Sebab inilah janin anak kami. Calon anak manusia yang akan
menjaga dan melestarikan alam raya. Yang akan menetaskan budi baik bagi sesama.
Yang akan menegaskan keagungan Penciptanya.
Ini adalah sebuah misteri ilahi yang tidak semua orang
diberikan-Nya sebagai anugerah terindah. Camkan. Tidak semua orang sukses, kaya
raya di dunia, sejahtera ekonomi, bisa mempunyai anak kandung dari rahim
istrinya. Banyak orang yang tajir tapi tak mempunyai keturunan. Betapapun
mereka telah mengusahakan dengan peran rekayasa medis yang wah, canggih, dan
tentu saja super mahal.
Kaya raya tapi tidak mempunyai anak seorangpun, itu takdir
yang sering sulit diterima. Aku sempat membahas dengan istriku perihal itu. Membanding-bandingkan
antara orang tua yang miskin tapi punya anak dengan orang yang tajir tapi tidak
punya anak. Siapakah yang berhak menancapkan menara kebahagiaan di ruang
kehidupannya? Kami kompak: yang pertamalah pilihan kami.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda