Gus Ahmad sebagai kiai yang linuwih sudah dikenal di mana-mana. Salah satu yang paling kesuwur tentu saja berita ketika beliau mampu menyingkirkan jin dan makhluk astral lainnya dari tubuh manusia. Kisah ini membuat banyak orang takjub. Mereka merasa heran atas banyaknya ilmu yang dikuasai kiai yang masih tergolong muda ini.
Masyarakat sekitar desa Gus Ahmad pun meyakini jika kemampuan beliau pasti lebih dari itu. Mereka menduga boleh jadi beliau itu punya ilmu bisa menghilang. Sangat mungkin pula beliau itu bisa terbang di udara. Atau, punya ilmu raga sukma, dimana raga beliau ada di rumahnya, sedang jiwanya bisa berpindah ke mana-mana, misalnya ke Makkah.
Menurut masyarakat desa tersebut dan juga masyarakat yang lebih luas lagi, yang rata-rata menyukai hal-hal yang berbau mistik atau klenik, merekapun mempercayai dugaan-dugaan kepada Gus Ahmad tersebut. Padahal dugaan itu muncul dari pemikiran mereka sendiri. Bukan berasal dari kenyataan yang mereka lihat dari diri Gus Ahmad.
Gosip inipun akhirnya masuk pula ke telinga keluarga Gus Ahmad. Terutama istri beliau, Nyai Rahmah. Nyai Rahmah merasa terganggu dengan gosip yang menyebar di masyarakat. Menurutnya gosip itu justru merendahkan sosok suaminya. Membenarkan gosip itu sama pula menyamakan Gus Ahmad seperti para dukun yang sukanya sama yang ghaib-ghaib.
Nyai Rahmah dilanda ketidaktenangan. Beliau resah jika ini yang hanya dipercayai masyarakat, akan bisa menimbulkan pengaruh buruk. Salah satunya , masyarakat pada akhirnya hanya melihat Gus Ahmad dari kemampuan karomahnya saja, bukan kemampuan ilmu syariat dan tasawufnya. Dan itu lebih gamblang lagi menyetarakan suaminya dengan paranormal atau dukun.
Hal ini pun disampaikan langsung kepada Gus Ahmad. Beliau sudah tidak kuat memendam rasa jengkel. Beliau ingin kabar ini sampai langsung ke telinga suaminya. Yang lebih penting lagi, sebenarnya beliau ingin menanyakan langsung tentang benar tidaknya gosip itu. Tentang kemampuan mistik yang bermacam-macam itu.
“Bi, hatiku resah. Mendengar omongan orang yang menganggap panjenengan itu sakti. Padahal menurutku panjenengan itu biasa-biasa saja.”
“Maksud Umi apa to? Kabar apa yang menyebar itu?”
“Begini lo Bi. Saya mendengar dari omongan para tetangga, jika panjenengan itu punya karomah yang sangat luar biasa. Menurut mereka panjenengan itu sanggup mengusir makhluk astral, bisa terbang ke udara, bisa menghilang, dan ini dan itu. Benar ta Bi?”
Menyimak curahan hati Nyai Rahmah, Gus Ahmad pun ingin tertawa, tetapi beliau tahan. Beliau menahan tawa karena cerita yang sampai di telinga istrinya itu hanya kabar kabur. Namanya kabar kabur, ia mudah menyebar dan mudah pula hilang. Gus Ahmad pun merasa istri tercintanya itu terlalu serius menerima apa saja yang disampaikan masyarakat.
“Oh jadi itu kegundahaanmu Mi?” Sambung Gus Ahmad.
“Betul Bi. Sekarang saya ingin menanyakan ke panjenengan langsung, benarkah itu semua?” Pertanyaan itu disampaikan Nyai Rahmah dengan memasang mimik wajah serius. Menandakan beliau ingin segera memperoleh jawaban.
Sebelum menjawab pertanyaan Nyai Rahmah, kembali Gus Ahmad menahan senyum. Beliau sangat bahagia jika urusan sekecil itu, justru menjadi perhatian yang sangat besar Nyai Rahmah kepadanya.
“Kalau sampeyan ingin jawaban itu, maka saya jawab iya Mi. Aku ini bisa berkomunikasi dengan banyak makhluk astral. Salah satunya lelembut.”
“Maksud Abi?”
“Begini Mi,” Gus Ahmad memulai cerita dengan wajah serius, “Tadi pagi, pas aku pulang dari rumah Kiai Soleh, aku bertemu dengan lelembut.”
“Lelembut Bi?”
“Iya, lelembut. Kejadian itu ketika aku ada di tengah perjalanan. Istilahnya, OTW itu lo Mi.”
“Berarti Abi bertemu lelembut ketika mengendarai motor?”
“Betul. Jadi ketika aku pulang dari rumah Kiai Soleh di Desa Buntek, di situ kan melewati area persawahan. Di situlah aku dikejutkan dengan kehadiran lelembut. Mereka ada di atas motorku. Jumlahnya banyak Mi, tidak hanya satu. Mereka berjumlah puluhan.”
Nyai Rahmah mendengar dengan seksama tuturan cerita dari Gus Ahmad. Mendengar lelembut berjumlah banyak di atas motor, membuat batin Nyai Rahmah merasa ngeri juga. Beliau tidak bisa membayangkan bagaimana puluhan lelembut menakutkan muncul begitu saja di hadapan suaminya.
“Aku sempat kaget Mi. Saat serius memilih jalan, karena banyak yang berlobang, tiba-tiba mereka muncul saja. Tapi bagaimana lagi Mi, namanya saja sesama makhluk Allah, aku tidak bisa mencegah kehadirannya.” Kembali Gus Ahmad melanjutkan ceritanya. Tidak lupa beliau menyeruput segelas teh hangat merek Tong Ji yang dibuatkan Nyai Rahmah. Kebetulan saat itu teh yang dipilih beraroma melati, aroma yang sangat disukai Gus Ahmad.
“Apakah lelembut itu panjenengan usir Bi?” Tanya Nyai Rahmah.
“Tidak Mi. Aku tidak kuat hati mengusir mereka. Biar mereka hadir dan pergi atas dasar kekarepannya sendiri. Aku tidak ingin mengusirnya secara paksa.”
“Kenapa Bi kok tidak diusir? Mereka kan mengganggu?”
“Diganggu dengan hal-hal seperti itu sudah biasa kan Mi. Namanya hidup, diganggu orang lain itu lumrah. Itu namanya ujian. Apalagi kita inikan sesama makhluk Allah, yang derajatnya rendah di hadapan-Nya. Jadi untuk apa aku mengusir-usir mereka? Tidak pantas aku mengusir mereka.”
“Terus, bagaimana mereka pergi dari hadapan panjenengan?”
Pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan Nyai Rahmah membuat Gus Ahmad tambah bersemangat. Beliau bersemangat memberikan penjelasan yang lebih gamblang agar gosip yang menyebar bisa memperoleh jawaban langsung dari dirinya.
“Aku tidak tahu Mi mereka pergi atau tidak. Sebab setelah sampai di rumah dan motor aku taruh di belakang, lelembut itu masih ada di atas motor. Aku tidak tahu sekarang mereka masih ada atau sudah pergi.”
Nyai Rahmah merasa agak lemas mendengar penjelasan terakhir itu. Beliau dilanda rasa takut jika lelembut itu akhirnya masuk rumah. Lalu mengganggu anak-anaknya. Tapi ia tidak bisa memaksa Gus Ahmad untuk mengusir mereka. Pernyataan Gus Ahmad sudah jelas, sesama makhluk kecil di hadapan-Nya, tidak usah saling mengusir.
Maka untuk menutupi kegundahan dan ketakutannya, Nyai Rahmah harus mempersiapkan diri. Artinya agar dirinya dan anak-anaknya tidak dilanda ketakutan yang berlebih, mereka harus mengetahui sebelumnya, bagaimana rupa dan bentuk para lelembut yang diceritakan Gus Ahmad. Pikirnya, kalau tahu rupa dan bentuknya, mereka akan dapat meminimalisir rasa takutnya.
“Bi, ketika panjenengan lihat tadi, para lelembut itu bentuknya seperti apa?”
“Benar Umi kepingin tahu?” Tanya balik Gus Ahmad.
“Ya iya ta Bi.” Jawab ngalem Nyai Rahmah.
“Bentuk lelembut itu Mi, kecil. Sekecil butir beras raskin. Mereka sukanya berjalan berurutan. Mereka suka ada di tembok. Dan satu lagi, mereka sukanya mengerubungi makanan seperti nasi, roti, kue dan gula.”
“Hemm, Abi....” Nyai Rahmah menyahut ngalem sambil tangannya gapyuk pundak Gus Ahmad.
Mojokerto, 15 Maret 2018
Masyarakat sekitar desa Gus Ahmad pun meyakini jika kemampuan beliau pasti lebih dari itu. Mereka menduga boleh jadi beliau itu punya ilmu bisa menghilang. Sangat mungkin pula beliau itu bisa terbang di udara. Atau, punya ilmu raga sukma, dimana raga beliau ada di rumahnya, sedang jiwanya bisa berpindah ke mana-mana, misalnya ke Makkah.
Menurut masyarakat desa tersebut dan juga masyarakat yang lebih luas lagi, yang rata-rata menyukai hal-hal yang berbau mistik atau klenik, merekapun mempercayai dugaan-dugaan kepada Gus Ahmad tersebut. Padahal dugaan itu muncul dari pemikiran mereka sendiri. Bukan berasal dari kenyataan yang mereka lihat dari diri Gus Ahmad.
Gosip inipun akhirnya masuk pula ke telinga keluarga Gus Ahmad. Terutama istri beliau, Nyai Rahmah. Nyai Rahmah merasa terganggu dengan gosip yang menyebar di masyarakat. Menurutnya gosip itu justru merendahkan sosok suaminya. Membenarkan gosip itu sama pula menyamakan Gus Ahmad seperti para dukun yang sukanya sama yang ghaib-ghaib.
Nyai Rahmah dilanda ketidaktenangan. Beliau resah jika ini yang hanya dipercayai masyarakat, akan bisa menimbulkan pengaruh buruk. Salah satunya , masyarakat pada akhirnya hanya melihat Gus Ahmad dari kemampuan karomahnya saja, bukan kemampuan ilmu syariat dan tasawufnya. Dan itu lebih gamblang lagi menyetarakan suaminya dengan paranormal atau dukun.
Hal ini pun disampaikan langsung kepada Gus Ahmad. Beliau sudah tidak kuat memendam rasa jengkel. Beliau ingin kabar ini sampai langsung ke telinga suaminya. Yang lebih penting lagi, sebenarnya beliau ingin menanyakan langsung tentang benar tidaknya gosip itu. Tentang kemampuan mistik yang bermacam-macam itu.
“Bi, hatiku resah. Mendengar omongan orang yang menganggap panjenengan itu sakti. Padahal menurutku panjenengan itu biasa-biasa saja.”
“Maksud Umi apa to? Kabar apa yang menyebar itu?”
“Begini lo Bi. Saya mendengar dari omongan para tetangga, jika panjenengan itu punya karomah yang sangat luar biasa. Menurut mereka panjenengan itu sanggup mengusir makhluk astral, bisa terbang ke udara, bisa menghilang, dan ini dan itu. Benar ta Bi?”
Menyimak curahan hati Nyai Rahmah, Gus Ahmad pun ingin tertawa, tetapi beliau tahan. Beliau menahan tawa karena cerita yang sampai di telinga istrinya itu hanya kabar kabur. Namanya kabar kabur, ia mudah menyebar dan mudah pula hilang. Gus Ahmad pun merasa istri tercintanya itu terlalu serius menerima apa saja yang disampaikan masyarakat.
“Oh jadi itu kegundahaanmu Mi?” Sambung Gus Ahmad.
“Betul Bi. Sekarang saya ingin menanyakan ke panjenengan langsung, benarkah itu semua?” Pertanyaan itu disampaikan Nyai Rahmah dengan memasang mimik wajah serius. Menandakan beliau ingin segera memperoleh jawaban.
Sebelum menjawab pertanyaan Nyai Rahmah, kembali Gus Ahmad menahan senyum. Beliau sangat bahagia jika urusan sekecil itu, justru menjadi perhatian yang sangat besar Nyai Rahmah kepadanya.
“Kalau sampeyan ingin jawaban itu, maka saya jawab iya Mi. Aku ini bisa berkomunikasi dengan banyak makhluk astral. Salah satunya lelembut.”
“Maksud Abi?”
“Begini Mi,” Gus Ahmad memulai cerita dengan wajah serius, “Tadi pagi, pas aku pulang dari rumah Kiai Soleh, aku bertemu dengan lelembut.”
“Lelembut Bi?”
“Iya, lelembut. Kejadian itu ketika aku ada di tengah perjalanan. Istilahnya, OTW itu lo Mi.”
“Berarti Abi bertemu lelembut ketika mengendarai motor?”
“Betul. Jadi ketika aku pulang dari rumah Kiai Soleh di Desa Buntek, di situ kan melewati area persawahan. Di situlah aku dikejutkan dengan kehadiran lelembut. Mereka ada di atas motorku. Jumlahnya banyak Mi, tidak hanya satu. Mereka berjumlah puluhan.”
Nyai Rahmah mendengar dengan seksama tuturan cerita dari Gus Ahmad. Mendengar lelembut berjumlah banyak di atas motor, membuat batin Nyai Rahmah merasa ngeri juga. Beliau tidak bisa membayangkan bagaimana puluhan lelembut menakutkan muncul begitu saja di hadapan suaminya.
“Aku sempat kaget Mi. Saat serius memilih jalan, karena banyak yang berlobang, tiba-tiba mereka muncul saja. Tapi bagaimana lagi Mi, namanya saja sesama makhluk Allah, aku tidak bisa mencegah kehadirannya.” Kembali Gus Ahmad melanjutkan ceritanya. Tidak lupa beliau menyeruput segelas teh hangat merek Tong Ji yang dibuatkan Nyai Rahmah. Kebetulan saat itu teh yang dipilih beraroma melati, aroma yang sangat disukai Gus Ahmad.
“Apakah lelembut itu panjenengan usir Bi?” Tanya Nyai Rahmah.
“Tidak Mi. Aku tidak kuat hati mengusir mereka. Biar mereka hadir dan pergi atas dasar kekarepannya sendiri. Aku tidak ingin mengusirnya secara paksa.”
“Kenapa Bi kok tidak diusir? Mereka kan mengganggu?”
“Diganggu dengan hal-hal seperti itu sudah biasa kan Mi. Namanya hidup, diganggu orang lain itu lumrah. Itu namanya ujian. Apalagi kita inikan sesama makhluk Allah, yang derajatnya rendah di hadapan-Nya. Jadi untuk apa aku mengusir-usir mereka? Tidak pantas aku mengusir mereka.”
“Terus, bagaimana mereka pergi dari hadapan panjenengan?”
Pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan Nyai Rahmah membuat Gus Ahmad tambah bersemangat. Beliau bersemangat memberikan penjelasan yang lebih gamblang agar gosip yang menyebar bisa memperoleh jawaban langsung dari dirinya.
“Aku tidak tahu Mi mereka pergi atau tidak. Sebab setelah sampai di rumah dan motor aku taruh di belakang, lelembut itu masih ada di atas motor. Aku tidak tahu sekarang mereka masih ada atau sudah pergi.”
Nyai Rahmah merasa agak lemas mendengar penjelasan terakhir itu. Beliau dilanda rasa takut jika lelembut itu akhirnya masuk rumah. Lalu mengganggu anak-anaknya. Tapi ia tidak bisa memaksa Gus Ahmad untuk mengusir mereka. Pernyataan Gus Ahmad sudah jelas, sesama makhluk kecil di hadapan-Nya, tidak usah saling mengusir.
Maka untuk menutupi kegundahan dan ketakutannya, Nyai Rahmah harus mempersiapkan diri. Artinya agar dirinya dan anak-anaknya tidak dilanda ketakutan yang berlebih, mereka harus mengetahui sebelumnya, bagaimana rupa dan bentuk para lelembut yang diceritakan Gus Ahmad. Pikirnya, kalau tahu rupa dan bentuknya, mereka akan dapat meminimalisir rasa takutnya.
“Bi, ketika panjenengan lihat tadi, para lelembut itu bentuknya seperti apa?”
“Benar Umi kepingin tahu?” Tanya balik Gus Ahmad.
“Ya iya ta Bi.” Jawab ngalem Nyai Rahmah.
“Bentuk lelembut itu Mi, kecil. Sekecil butir beras raskin. Mereka sukanya berjalan berurutan. Mereka suka ada di tembok. Dan satu lagi, mereka sukanya mengerubungi makanan seperti nasi, roti, kue dan gula.”
“Hemm, Abi....” Nyai Rahmah menyahut ngalem sambil tangannya gapyuk pundak Gus Ahmad.
Mojokerto, 15 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda