Bertemu Gus Ahmad itu sangat menyenangkan. Beliau orang yang selalu berwajah cerah, teduh dan penuh senyum. Di samping itu pula luas hati dan cerdas pemikirannya. Karenanya beliau selalu mampu menyelesaikan persoalan yang hampir pasti caranya berbeda dengan orang awam.
Aku beberapa kali sempat juga bertemu dengannya. Ketika bertemu, yang mendapat banyak ilmu dan pengalaman selalu aku. Sedang beliau sendiri pasti sangat sedikit memperolehnya dariku. Aku yakin itu. Diriku dan dirinya ibarat cangkir dan tangki.
Di siang itu kami terlibat perbincangan yang santai. Gus Ahmad duduk medongkrong di depanku. Duduk di kursi besi warna biru. Aku sendiri duduk di kursi kayu yang usianya sudah tua. Entahlah, beliau memperlakukanku seperti tanpa sekat. Medongkrong pun tidak menjadi masalah, kesepakatan etika kami memang seperti itu.
Saat itu beliau yang lebih banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Terutama tentang kebiasaannya yang tidak suka berhutang. Baginya berhutang itu sebuah praktikum kehidupan yang lebih baik dijauhi.
Beliau tidak pernah berhutang. Apalagi kalau urusannya ingin membeli sesuatu yang diidamkannya. Misalnya motor, mobil atau rumah. Beliau tidak pernah memilih untuk mengkredit.
“Saya selalu menjauhi untuk berhutang di bank atau koperasi, Mas. Kredit pun saya tidak pernah.”
“Sae itu Gus. Tetapi mungkin bagi orang lain hal tersebut berat.”
“Ya itu terserah bagaimana masyarakat memandangnya. Yang saya amalkan ini terbukti tidak memberatkan hidup. Dan satu lagi, ini adalah wasiat bapak saya.”
“Maksudnya, Gus? Apakah ayah panjenengan juga orang yang tidak suka berhutang?”
“Betul Mas. Bapakku dulu prinsip hidupnya seperti itu.”
Aku mendengar ulasan Gus Ahmad dengan memasang kuping penuh antusias. Jarang-jarang memperoleh kisah yang menurutku aneh ini. Aneh, sebab di zaman sekarang ini hampir semua orang punya beban hutang ke orang lain atau bank atau koperasi. Slogannya kan sudah terkenal bahwa “hutang itu akan meningkatkan semangat hidup”.
“Bapakku dulu, Mas, jika ingin punya apapun selalu memendamnya dalam hati. Maksudnya, beliau tidak memaksakan diri. Selalu melihat keadaan yang ada pada dirinya.”
“Misalkan ingin punya motor, itu bagaimana Gus ayah panjenengan?”
“Kalau beliau ingin punya motor karena memang kebutuhan penting yang harus ada, maka beliau akan menabung. Istilahnya nyelengi dengan sekuat tenaga.”
“Sampai kemudian terkumpul, lalu tabungan itupun dipakai beli motor? Itukan bisa lama Gus? Nah bagaimana jika itu mendesak?”
Sebelum menjawab pertanyaan nyerocosku, Gus Ahmad memungut cangkir kopinya. Beliau menyeruput kopi hangat buatan Bu Dewi, pemilik warung kopi sebelah rumah Gus Ahmad. Setelah itu dikeluarkanlah sebatang rokok Sampoerna Mild dan disulut pakai korek api merek Tokai. Beliau menikmati itu. Sedang aku hanya melihatnya. Maklum, aku hanya suka minum kopi. Tapi tidak suka rokok dan tidak pernah merokok.
“Bapakku itu orang yang prinsipnya kuat, Mas. Sekali ia bilang A, seumur hidup pasti akan terus bilang A.” Kembali beliau meneruskan cerita.
“Kalau kasusnya seperti yang sampeyan tanyakan, maka sampeyan akan terheran. Sebab bapak dulu itu akan ikhlas untuk menggunakan kendaraan yang ada. Kalau adanya cuma sepeda angin, ya itu yang akan beliau pakai. Tidak ada kejaiman sama sekali.”
Aku terhenyak mendengarnya. Heran akan kisah ayahnya Gus Ahmad yang luar biasa. Padahal aku tahu dari cerita beberapa orang, ayah Gus Ahmad itu seorang kiai yang kegiatannya padat. Terbanyak mengisi pengajian tafsir al-Qur’an di beberapa tempat. Muridnya banyak. Di antara mereka banyak pula yang sudah jadi muballigh.
Untuk ukuran kiai yang punya banyak kegiatan dan murid, ketidakjaiman ayah Gus Ahmad yang bernama Kiai Jainuddin itu luar biasa. Bayangkan, ke mana-mana beliau tidak malu mengayuh pedal sepedanya. Sementara aku lihat banyak kiai sekarang yang mobilnya bagus-bagus. Edisi terbaru. Harganya melangit, tak sanggup aku menggapainya.
“Nah, bapakku dulu berwasiat kepadaku dan semua saudara, agar hidup itu tidak usah memaksakan diri. Kalau belum punya uang banyak, jangan berpikir membangun rumah. Jika celengan masih sedikit, tidak usah mikir beli motor. Tidak usah berpikir untuk kredit, sebab kredit itu banyak madharatnya. Salah satunya menggerus harta jatah kebutuhan sehari-hari.”
“Sae Gus. Betul wasiat bapak panjenengan. Sekarang zamannya kredit ini, kredit itu, sudah di mana-mana. Bahkan anak-anak muda sekarang banyak yang nekad.”
“Maksud ente apa nekad itu, Mas?”
“Gus, kalau pas ada di jalan raya, coba panjenengan lihat. Panjenengan pasti sering melihat banyak motor yang mahal-mahal. Motor yang CC-nya tinggi. Perawakannya besar. Motor sepert itu harganya di atas lima puluh jutaan. Nah itu Gus, mereka, anak-anak muda tersebut rela membayar uang muka yang berpuluh juta dan cicilan yang jutaan pula. Sampai-sampai sering mereka tidak memegang rupiah sepeserpun dari gajinya, karena sudah habis buat bayar cicilan dan pemeliharaan motor mahalnya itu.”
“Nah terus berarti mereka tidak pernah membagikasih kepada, misalnya tetangganya yang miskin atau bapak ibunya?”
“Bisa jadi seperti itu Gus.”
Sebentar kemudian kembali Gus Ahmad menghisap rokoknya menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya ditepuk-tepukkan ke paha kakinya. Nampak tergurat sebuah keprihatinan. Tapi itu menurut pikiranku.
“Sekarang, urusan memenuhi style dalam hidup memang sering mengalahkan kewajiban kita berbuat baik kepada sesama, Mas.” Tiba-tiba saja Gus Ahmad mengucapkan kalimat luar biasa itu. Sangat makjleb. Mengena dalam lubuk hati siapapun yang membacanya.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi tentang realita sosial anak-anak muda kita yang aku sampaikan tadi. Sepertinya memang itu sudah selesai. Sudah mendapatkan kesimpulan dari Gus Ahmad. Kesimpulan yang bernas.
“Gus, apakah panjenengan sama sekali tidak pernah hutang di bank atau koperasi?” Sebuah pertanyaan yang dari tadi kepingin aku sampaikan.
“Alhamdulillah Mas, sampai detik ini saya tidak pernah. Saya tidak ingin membuat beban untuk istri dan anak-anak. Dulu, karena prinsip ini, saya pernah disangka sebagai orang yang aneh. Orang yang tidak nuruti arus masyarakat. Sebab teman-temanku sesama pegawai, semuanya punya tanggungan hutang di bank.”
“Subhanallah, betul Gus seperti itu?”
“Benar Mas. Dan itulah yang menyebabkan setiap akhir bulan, gaji bulananku sebagai pegawai tidak pernah terpotong hutang. Yang muncul di buku rekening bank selalu utuh. Alhamdulillah inilah rezeki yang menjadi nafkah untuk keluargaku.”
Mendengar cerita yang menarik dari Gus Ahmad itu sampai tak terasa kopi susu yang disuguhkan istri Gus Ahmad belum aku minum. Akupun kemudian mengambil cangkir berwarna putih motif bunga itu. Aku menyeruputnya sedikit. Menikmati kelegitan kopi yang mulai dingin.
Kembali Gus Ahmad menambah ceritanya. “Dari gaji yang utuh itulah segala kebutuhan makan dan menyekolahkan anak-anakku bisa terpenuhi Mas. Dari gaji yang tanpa sepeserpun terkurangi hutang itu juga, pernah beberapa minggu lalu sempat meminjami seorang kiai pengasuh pesantren tahfidz, untuk merenovasi bangunan pondoknya. Coba kalau saya punya hutang, tentu aku tidak akan mungkin bisa meminjami Kiai Thohir demi memperbaiki pondoknya. Padahal saat ke sini, saya lihat Kiai Thohir sangat kalut. Mungkin karena kepepet persoalan biaya bangunan itu.”
Tidak ada yang bisa aku omongkan lagi. Sekali lagi penutup Gus Ahmad sangat mengena. Pernyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Bahwa menjauhi hutang bisa menjadi maslahat kepada banyak orang. Contohnya berupa bantuan hutang Gus Ahmad kepada Kiai Thohir.
Mojokerto, 7 Maret 2018
Aku beberapa kali sempat juga bertemu dengannya. Ketika bertemu, yang mendapat banyak ilmu dan pengalaman selalu aku. Sedang beliau sendiri pasti sangat sedikit memperolehnya dariku. Aku yakin itu. Diriku dan dirinya ibarat cangkir dan tangki.
Di siang itu kami terlibat perbincangan yang santai. Gus Ahmad duduk medongkrong di depanku. Duduk di kursi besi warna biru. Aku sendiri duduk di kursi kayu yang usianya sudah tua. Entahlah, beliau memperlakukanku seperti tanpa sekat. Medongkrong pun tidak menjadi masalah, kesepakatan etika kami memang seperti itu.
Saat itu beliau yang lebih banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Terutama tentang kebiasaannya yang tidak suka berhutang. Baginya berhutang itu sebuah praktikum kehidupan yang lebih baik dijauhi.
Beliau tidak pernah berhutang. Apalagi kalau urusannya ingin membeli sesuatu yang diidamkannya. Misalnya motor, mobil atau rumah. Beliau tidak pernah memilih untuk mengkredit.
“Saya selalu menjauhi untuk berhutang di bank atau koperasi, Mas. Kredit pun saya tidak pernah.”
“Sae itu Gus. Tetapi mungkin bagi orang lain hal tersebut berat.”
“Ya itu terserah bagaimana masyarakat memandangnya. Yang saya amalkan ini terbukti tidak memberatkan hidup. Dan satu lagi, ini adalah wasiat bapak saya.”
“Maksudnya, Gus? Apakah ayah panjenengan juga orang yang tidak suka berhutang?”
“Betul Mas. Bapakku dulu prinsip hidupnya seperti itu.”
Aku mendengar ulasan Gus Ahmad dengan memasang kuping penuh antusias. Jarang-jarang memperoleh kisah yang menurutku aneh ini. Aneh, sebab di zaman sekarang ini hampir semua orang punya beban hutang ke orang lain atau bank atau koperasi. Slogannya kan sudah terkenal bahwa “hutang itu akan meningkatkan semangat hidup”.
“Bapakku dulu, Mas, jika ingin punya apapun selalu memendamnya dalam hati. Maksudnya, beliau tidak memaksakan diri. Selalu melihat keadaan yang ada pada dirinya.”
“Misalkan ingin punya motor, itu bagaimana Gus ayah panjenengan?”
“Kalau beliau ingin punya motor karena memang kebutuhan penting yang harus ada, maka beliau akan menabung. Istilahnya nyelengi dengan sekuat tenaga.”
“Sampai kemudian terkumpul, lalu tabungan itupun dipakai beli motor? Itukan bisa lama Gus? Nah bagaimana jika itu mendesak?”
Sebelum menjawab pertanyaan nyerocosku, Gus Ahmad memungut cangkir kopinya. Beliau menyeruput kopi hangat buatan Bu Dewi, pemilik warung kopi sebelah rumah Gus Ahmad. Setelah itu dikeluarkanlah sebatang rokok Sampoerna Mild dan disulut pakai korek api merek Tokai. Beliau menikmati itu. Sedang aku hanya melihatnya. Maklum, aku hanya suka minum kopi. Tapi tidak suka rokok dan tidak pernah merokok.
“Bapakku itu orang yang prinsipnya kuat, Mas. Sekali ia bilang A, seumur hidup pasti akan terus bilang A.” Kembali beliau meneruskan cerita.
“Kalau kasusnya seperti yang sampeyan tanyakan, maka sampeyan akan terheran. Sebab bapak dulu itu akan ikhlas untuk menggunakan kendaraan yang ada. Kalau adanya cuma sepeda angin, ya itu yang akan beliau pakai. Tidak ada kejaiman sama sekali.”
Aku terhenyak mendengarnya. Heran akan kisah ayahnya Gus Ahmad yang luar biasa. Padahal aku tahu dari cerita beberapa orang, ayah Gus Ahmad itu seorang kiai yang kegiatannya padat. Terbanyak mengisi pengajian tafsir al-Qur’an di beberapa tempat. Muridnya banyak. Di antara mereka banyak pula yang sudah jadi muballigh.
Untuk ukuran kiai yang punya banyak kegiatan dan murid, ketidakjaiman ayah Gus Ahmad yang bernama Kiai Jainuddin itu luar biasa. Bayangkan, ke mana-mana beliau tidak malu mengayuh pedal sepedanya. Sementara aku lihat banyak kiai sekarang yang mobilnya bagus-bagus. Edisi terbaru. Harganya melangit, tak sanggup aku menggapainya.
“Nah, bapakku dulu berwasiat kepadaku dan semua saudara, agar hidup itu tidak usah memaksakan diri. Kalau belum punya uang banyak, jangan berpikir membangun rumah. Jika celengan masih sedikit, tidak usah mikir beli motor. Tidak usah berpikir untuk kredit, sebab kredit itu banyak madharatnya. Salah satunya menggerus harta jatah kebutuhan sehari-hari.”
“Sae Gus. Betul wasiat bapak panjenengan. Sekarang zamannya kredit ini, kredit itu, sudah di mana-mana. Bahkan anak-anak muda sekarang banyak yang nekad.”
“Maksud ente apa nekad itu, Mas?”
“Gus, kalau pas ada di jalan raya, coba panjenengan lihat. Panjenengan pasti sering melihat banyak motor yang mahal-mahal. Motor yang CC-nya tinggi. Perawakannya besar. Motor sepert itu harganya di atas lima puluh jutaan. Nah itu Gus, mereka, anak-anak muda tersebut rela membayar uang muka yang berpuluh juta dan cicilan yang jutaan pula. Sampai-sampai sering mereka tidak memegang rupiah sepeserpun dari gajinya, karena sudah habis buat bayar cicilan dan pemeliharaan motor mahalnya itu.”
“Nah terus berarti mereka tidak pernah membagikasih kepada, misalnya tetangganya yang miskin atau bapak ibunya?”
“Bisa jadi seperti itu Gus.”
Sebentar kemudian kembali Gus Ahmad menghisap rokoknya menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya ditepuk-tepukkan ke paha kakinya. Nampak tergurat sebuah keprihatinan. Tapi itu menurut pikiranku.
“Sekarang, urusan memenuhi style dalam hidup memang sering mengalahkan kewajiban kita berbuat baik kepada sesama, Mas.” Tiba-tiba saja Gus Ahmad mengucapkan kalimat luar biasa itu. Sangat makjleb. Mengena dalam lubuk hati siapapun yang membacanya.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi tentang realita sosial anak-anak muda kita yang aku sampaikan tadi. Sepertinya memang itu sudah selesai. Sudah mendapatkan kesimpulan dari Gus Ahmad. Kesimpulan yang bernas.
“Gus, apakah panjenengan sama sekali tidak pernah hutang di bank atau koperasi?” Sebuah pertanyaan yang dari tadi kepingin aku sampaikan.
“Alhamdulillah Mas, sampai detik ini saya tidak pernah. Saya tidak ingin membuat beban untuk istri dan anak-anak. Dulu, karena prinsip ini, saya pernah disangka sebagai orang yang aneh. Orang yang tidak nuruti arus masyarakat. Sebab teman-temanku sesama pegawai, semuanya punya tanggungan hutang di bank.”
“Subhanallah, betul Gus seperti itu?”
“Benar Mas. Dan itulah yang menyebabkan setiap akhir bulan, gaji bulananku sebagai pegawai tidak pernah terpotong hutang. Yang muncul di buku rekening bank selalu utuh. Alhamdulillah inilah rezeki yang menjadi nafkah untuk keluargaku.”
Mendengar cerita yang menarik dari Gus Ahmad itu sampai tak terasa kopi susu yang disuguhkan istri Gus Ahmad belum aku minum. Akupun kemudian mengambil cangkir berwarna putih motif bunga itu. Aku menyeruputnya sedikit. Menikmati kelegitan kopi yang mulai dingin.
Kembali Gus Ahmad menambah ceritanya. “Dari gaji yang utuh itulah segala kebutuhan makan dan menyekolahkan anak-anakku bisa terpenuhi Mas. Dari gaji yang tanpa sepeserpun terkurangi hutang itu juga, pernah beberapa minggu lalu sempat meminjami seorang kiai pengasuh pesantren tahfidz, untuk merenovasi bangunan pondoknya. Coba kalau saya punya hutang, tentu aku tidak akan mungkin bisa meminjami Kiai Thohir demi memperbaiki pondoknya. Padahal saat ke sini, saya lihat Kiai Thohir sangat kalut. Mungkin karena kepepet persoalan biaya bangunan itu.”
Tidak ada yang bisa aku omongkan lagi. Sekali lagi penutup Gus Ahmad sangat mengena. Pernyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Bahwa menjauhi hutang bisa menjadi maslahat kepada banyak orang. Contohnya berupa bantuan hutang Gus Ahmad kepada Kiai Thohir.
Mojokerto, 7 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda