Langsung ke konten utama

Postingan

Hidayah Orang Tua di Tangan Anaknya

Sebutlah namanya Pak Anton (bukan nama asli). Usianya sekira 50 tahun. Dia ini bekerja sebagai sopir serabutan. Pokoknya kalau ada order atau job yang hubungannya dengan setir menyetir, pasti dia sanggup diajak bekerjasama. Aku sendiri beberapa kali menyewa jasanya. Suatu saat, ketika aku menyewa jasanya mengantarkan kami ke Surabaya, entah apa yang mendasarinya menceritakan banyak hal dihadapanku. Yang menurutku cerita itu banyak yang berisi pengalaman menarik. Pengalaman kehidupan yang berwarna warni, baik ia sebagai suami dari istrinya maupun bapak dari anak-anaknya. Juga sopir sewaan bagi pelanggannya. Menjadi tanggung jawab sebagai pendengar yang baik, akupun dengan seksama mendengar uraian lancar itu. Mulai dari hal-hal yang biasa-biasa saja, sampai cerita yang dipenuhi jungkir balik dalam mengarungi hidup di buminya Tuhan ini. Cerita Pak Anton benar-benar menjadi catatan buatku, terutama bagaimana sebenarnya sikap kita kepada keluarga. Pak Anton mengawali cerita tentang b...

Ribet itu Berkah

Salah satu poin perbedaanku dan istri bisa dilihat pada saat akan bepergian jauh. Terutama bepergian dalam rangka berwisata bersama banyak orang. Di saat seperti itulah saya menyadari jika perbedaanku dan istri memang ada dan terjadi. Saya tidak bisa menghindarinya. Setelah membaca paragraf awal pasti ada yang menebak-nebak, kira-kira apa perbedaan itu? Saya jawab langsung saja bahwa yang membedakan itu adalah ribet dan tidak ribet. Istri saya yang berposisi ribet dan saya yang kebagian tidak ribet. Keribetan istri itu terlihat dengan jelas saat menyiapkan segala bekal. Bayangkan untuk empat orang saja - saya dan istri serta dua anak - dia menyiapkan bekal yang seukuran sepuluh orang. Kalau diabsen satu persatu kira-kira bekal itu berupa: nasi dengan lauk mie goreng sama telur ceplok empat box, snack yang berjubel, teh hangat satu botol besar, air mineral dua botol besar, permen sebungkus, dan tentunya pakaian kami yang dihitung perhari. Alhasil tas yang kami bawa selalu menyulitka...

Guru, Profesionalitas dan Buku

Memasuki tahun 2018 yang sudah berjalan beberapa hari ini, penulis menyimak dan mendengar, bahwa jutaan guru di negeri ini baru saja mendapatkan hak-hak mereka dari pemerintah. Berupa pencairan tunjangan dengan berbagai jenis nama. Alhasil, penulispun melihat jika para guru tersebut tentu merasakan satu kebahagiaan. Bahkan sebenarnya, banyak pula para guru yang sudah lama mengidam-idamkan tunjangan dari pemerintah itu dicairkan. Kebetulan istri penulis juga seorang guru swasta. Kebetulan pula beberapa minggu yang lalu memperoleh hak-haknya berupa tunjangan profesi, sesuai undang-undang yang berlaku. Dari cerita yang disampaikan istri, banyak guru – terutama swasta – telah mendapatkan cairan tunjangan profesi tersebut. Dan banyak pula yang memperoleh berupa tunjangan impassing yang jika dikalkulasi bisa mencapai puluhan juta rupiah. Secara pribadi penulis ikut pula berbahagia dengan kegembiraan tersebut. Penulis merasa bahwa memang harus seperti itulah pemerintah mengayomi para gur...

Para Lelaki Pencinta Burung

Depan belakang burung, nampak aku lihat semenjak motorku keluar dari By Pass Krian menuju Trosobo Sidoarjo. Lebih tepatnya di depan pabrik Charoen Pokphand Krian, aku sempat memperhatikan seorang bapak muda membonceng depan belakang dengan sangat mesra, di atas motornya. Saking mesranya, kelihatan ia melindungi benar boncengannya itu dengan mengikatkan tali di tubuhnya. Tapi jangan dikira yang diboncengnya itu istri dan anaknya. Yang diboncengnya depan belakang itu ternyata dua burung di dalam dua sangkar. Perkiraanku saat awal melihat kejadian itu mengira pasti burung-burung tersebut akan dibawa ke Surabaya. Dan ternyata benar, ia menuju ke Kota Pahlawan. Itu aku lihat saat melintas di depan gedung BNI Sukomanunggal, ia menyalip motorku. Di beberapa hari yang lalu ketika aku mengantar istri ke sebuah apotik di Mojokerto, aku juga mendapati peristiwa yang sama. Seorang mas-mas mengendarai motor juga membonceng dua sangkar burung, depan belakang. Walau dengan kondisi yang keli...

Pendapat Seimbang Tentang Ucapan “Selamat Natal”

Beberapa hari mendatang, tepatnya 25 Desember 2017, umat Kristiani seluruh dunia akan melaksanakan perayaan Natal. Perayaan tersebut sebenarnya adalah hari raya memperingati kelahiran Yesus atau Isa al-Masih, menurut anggapan mereka. Gegap gempita kebahagiaan mereka sudah nampak di beberapa minggu ini. Di negeri kita, perayaan Natal ini selalu diwarnai dengan pro kontra yang sepertinya sulit dihilangkan. Salah satunya dihembuskan oleh beberapa kalangan muslim yang berpendapat keharaman mengucapkan “selamat Natal”. Bahkan MUI juga telah memfatwakan haram pada muslim yang mengucapkan itu. Dengan alasan akan menodai ketauhidan, sebab umat Kristiani menganut trinitas. Di sekian media juga telah ditayangkan beberapa pendapat para ustad dan habib tentang keharaman tersebut. Mereka mendasari keharaman tersebut dengan berbagai macam argumentasi yang dikutip dari ulama-ulama terdahulu. Mereka mengambil hujjah dari kitab yang dibaca dan dijadikan referensinya. Tidak ada yang salah...

Palestina Adalah Perjuangan

Jangan dikira klaim Donald Trump akan sekejap mampu meruntuhkan Palestina. Jangan disangka koar-koar negara-negara maju di Eropa yang menolak klaim Trump, tapi tidak ada bukti nyata, mampu merobohkan nurani perang rakyat Palestina. Jangan dikira pula bantuan negara-negara Islam, sekalipun sekedar dukungan di wilayah-wilayah lain bukan dalam hal politik, akan membuat rakyat Palestina menyerah begitu saja. Sebenarnya klaim Donald Trump itu hanyalah sinyalemen bahwa presiden bedebah tersebut ingin mengukur, kira-kira berani gak negara-negara lainnya melawan keputusan Amerika Serikat. Ternyata benar menurut perkiraan Trump, bahwa mereka semua tidak ada yang berani melawan Amerika Serikat. Beraninya hanya menolak, menolak dan menolak, sama sekali tidak ada langkah perlawanan. Kecuali rakyat Palestina dan gerakan-gerakan lainnya. *** Palestina itu negeri dengan wilayah yang sangat sempit. Bahkan hampir tiap tahun mengalami penggerusan oleh langkah sepihak Israel yang terus melakukan p...

Maut Tidak Semerdu Musik Dangdut

Setiap menghadapi kemacetan di tengah jalan, selalu memasang sikap waspada adalah kunci utama. Seperti yang aku alami sore tadi. Ruteku pulang dari Surabaya mulai Medaeng sampai jembatan layang Trosobo macet. Padahal tidak ada penyebab yang nyata. Akupun memasang kewaspadaan dari seluruh arah, depan belakang samping kanan dan kiri, barangkali ada kendaraan yang nyelonong menyalahi aturan. Jadilah jalan raya jalur ke barat arah ke Mojokerto disesaki mobil-mobil besar. Seperti biasanya, diantara para mobil besar itu, bus umumlah yang paling merajai. Sesaat ada di sisi kanan, tiba-tiba sesaat kemudian ngebut menuju sisi kiri, menurunkan atau menaikkan penumpang. Bagi pengendara motor, saat bus ada di sisi kiri jalan raya, disitulah saatnya sikap sabar dipasang. Tapi memang sabar adalah satu-satunya alternatif, tidak ada lainnya. Sekarang coba dipikir kalau tidak sabar, apa mau kita berhadapan dengan sopir bus yang ugal-ugalan. Apa tidak dipikir ulang motor yang kecil berhadapan deng...