Langsung ke konten utama

Postingan

The Power of Pensiun

Seorang tetangga mengabarkan, bahwa seorang mantan polisi kenalannya, yang baru beberapa bulan ini pensiun, mengalami stroke. Kedua kakinya tidak kuat digunakan menyangga tubuh dan melangkah. Caranya salat kini harus duduk di kursi. Padahal sebelum pensiun, tubuhnya gagah perkasa. Di waktu yang lain, ada sejawat yang bercerita, salah satu gurunya meninggal dunia. Konon, sang guru tersebut terserang penyakit jantung. Padahal baru saja ia pensiun. Sekira dua bulan ini. Apalah daya, takdir hidup dan maut semua dalam genggaman-Nya. Pernah pula saya dengar dari tuturan seorang kerabat. Ia mengabarkan, menantu perempuannya sepertinya akan segera dipensiunkan dari perusahaannya. Untungnya cicilan bank sebentar lagi akan tuntas. Ia akan pusing tujuh keliling seandainya cicilan bank belum lunas, tapi menantunya sudah terlebih dulu dipensiun. Bisa nangis mereka semua menanggung beban yang besar itu. *** Cerita di atas, boleh jadi realitas yang akrab terjadi di lingkungan kita. ...

Energi Wa 'Afiniy

Menurut sebagian orang berhitung secara matematis itu tidak penting. Mereka menambahi, terlalu menghamba pada hitungan secara matematis sering membuat si penghitung menjadi manusia yang materialis. Yang pada akhirnya menciptakan manusia-manusia yang doyan pada angka-angka. Pasti orang-orang yang kesal terhadap hitungan matematis tersebut inginnya kehidupan ini dinilai secara kualitas atau mutu saja. Kuantitas atau angka-angka itu memang ada di dunia ini. Tetapi menurut mereka kualitas atau mutulah yang sebenarnya hakikat dari kehidupan ini. Posisi kualitas lebih terhormat daripada posisi kuantitas. Tidak salah orang berpendapat seperti itu, tergantung aspek yang digunakan. Namun pendapat tersebut tidak boleh didesakkan begitu rupa kepada pikiran orang lain. Sebab, jika kita mau merenung dengan jernih, sering pula Allah Swt meminta hambanya untuk berhitung secara matematis! Salah satunya melalui pemahaman sebuah do’a yang tercantum di rukun shalat duduk di antara dua sujud. Bunyi...

Di dalam Diri Muhammad Saw Tertanam Energi Allah

(Sumber foto: numojokerto) Sebenarnya tulisan ini sekedar review ceramah agama yang disampaikan Dr. KH. Mujayyid, MA dari Malang. Saat beliau menyampaikannya di acara Haul Mbah Ilyas, ayah dari KH. Husain Ilyas, Karangnongko, Mojokerto, beberapa minggu yang lalu. Sebuah ceramah yang ditaruh di bagian akhir, setelah sebelumnya tiga penceramah sudah terlebih dulu naik panggung. Ceramah Kiai Mujayyid lumayan panjang. Saya hitung berjalan sejam lebih. Anehnya jamaah yang hadir tidak mengeluhkan panjangnya ceramah di malam yang mulai larut itu. Maklum, beliau memulai ceramah sekira pukul 23.30 WIB. Tapi saya lihat jamaah tetap menyimak dengan tenangnya. Dari banyaknya uraian ilmiah yang disampaikan beliau, ada sebuah penjelasan yang menurut saya layak disebut “pemahaman yang menyegarkan”. Mungkin lebih tepat disebut penafsiran baru dari sebuah ayat al-Qur’an. Pasti Anda akan paham dengan ayat tersebut, sebab sangat populer di masyarakat. Apalagi bagi para Nahdliyin yang sangat cint...

Keberanian dan Kedermawanan Gus Dur: Catatan dari Haul Gus Dur Ke-9

Seperti biasanya, acara Haul Gus Dur Ke-9 di Tebuireng pada 16 Desember 2018, dipenuhi testimoni dari beberapa tokoh. Kebetulan yang diundang tiga orang yang pernah mengisi jabatan di kabinet era Gus Dur. Mereka antara lain Bondan Gunawan, Kwik Kian Gie dan Wahyu Muryadi. Sedangkan yang bertugas memberikan mauidhah hasanah, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, imam besar Masjid Nasional Istiqlal. Sebelum testimoni dan mauidhah hasanah disampaikan, diawali terlebih dahulu dengan kata sambutan. Pertama, oleh Dr. KH. Sholahudin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Sholah, selaku pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Dan kedua, mbak Yenni Wahid, mewakili keluarga Gus Dur. Dalam tulisan ini saya akan memfokuskan pada isi sambutan yang disampaikan Gus Sholah. Menurut saya, tapi ini subyektif, sambutan yang disampaikan Gus Sholah punya substansi pendidikan yang sangat penting, sehingga bermanfaat besar bagi siapapun yang menjadi guru atau orang tua. Lebih tepatnya pendidikan keteladanan. G...

Buku Tebal dan Buku Tipis

Dulu, saya penggila buku yang sangat idealis. Idealis, maksudnya kalau saya hunting buku, maka yang saya cari adalah buku-buku yang tebal. Berisi 300 halaman lebih. Pikir saya, buku dengan ketebalan yang maksimal, adalah buku yang kaya isi. Jadi kita bisa enak, sebab punya perbendaharaan materi melimpah dari buku-buku tebal itu. Salah satu buku tebal koleksi saya berjudul Berperang Demi Tuhan , karya Karen Armstrong. Buku ini berisi 400 halaman lebih. Saya beli di Togamas di medio tahun 2002, ketika awal-awal toko buku yang terkenal itu berdiri di Surabaya. Saat itu Togamas menyewa sebuah gedung di sebelah timurnya Tunjungan Plaza (saya lupa namanya). Dan buku tersebut adalah buku tebal pertama yang saya koleksi. Ketika saya berhasil memperoleh buku tebal tersebut, ada rasa bangga yang muncul tiba-tiba. Bagaimana tidak bangga, buku tebal dari penulis keren dan terkenal akhirnya pun saya dapatkan. Jarang loh ada mahasiswa yang kere seperti saya dulu, tapi sanggup membeli buku...

Ekspresi Agama dan Budaya: Duet KH. Imam Hambali dan Abah Topan

Lega dan bersyukur. Itulah dua perasaan yang mengumpul di benak saya. Pasca usainya pergelaran pengajian umum di kampung saya pada tanggal 26 Oktober yang lalu. Sebuah kegiatan keagamaan yang berskala besar yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini memang agak spesial. Tidak seperti biasanya panitia kampung mendatangkan seorang penceramah, di perhelatan tahun ini yang didatangkan duet antara penceramah dan pelawak; KH. Imam Hambali dan Abah Topan. Bisa dibayangkan bagaimana riuh dan ramainya para warga yang menghadiri pengajian tersebut. Dan seperti sudah diduga sebelumnya, para warga yang hadirpun membeludak. Jumlahnya berkisar seribu orang lebih. Mereka tidak saja warga lokal, tetapi banyak pula yang berasal dari tetangga desa. Mereka nampak khusyuk menyimak ceramah agama yang disampaikan KH. Imam Hambali, dan lawakan mengocok perut dari tingkah pola dan guyonan Abah Topan. Jumlah penyimak pengajian yang membeludak tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti ada penyeb...

MENCIUM KENING ORANG TUA

Saya dibuat berpikir dalam, setelah menyimak cuplikan ceramah Habib Novel bin Alaydrus Solo. Sambil “leyeh-leyeh” menemani bayi kecilku tidur, beberapa hari lalu, saya menyimak melalui youtube ceramah salah satu habib yang di setiap ulasannya selalu bertutur kata halus itu. Tidak heran, dengan tuturan halus, mengakibatkan yang hadir di setiap ceramahnya, atau yang menyimak jarak jauh melalui media sosial, pasti merasakan hatinya menjadi adem, tenteram dan bahagia. Mafhum mukhalafah -nya, saya sangat tidak menyukai ceramah-ceramah berkontenkan kata-kata yang kasar dan kotor. Apalagi yang ditambah dengan mimik muka marah atau berapi-api. Kesan saya, para penceramah yang suka emosi, berkata kasar dan teriak-teriak itu, bukanlah berceramah. Tetapi itu orasi di medan peperangan. Sungguh saya tidak sreg menyimak ceramah model begituan.  Dalam cuplikan ceramah itu, Habib Novel mengulas tentang kebiasaannya mencium kening ayahnya. Tiap pagi, beliau selalu menyempatkan melakukan ...