Langsung ke konten utama

Postingan

Puasa yang Curang

Sumber: Deviantart.com Curang, kini menjadi salah satu kosa kata yang sangat populer. Banyak orang menggaungkan kosa kata ini. Ia digaungkan tidak saja di media massa, tapi juga di media sosial. Malahan, di media sosial itulah kosa kata ini mendapatkan panggungnya. Sayangnya kosa kata yang familier digandengkan dengan tiga kosa kata lainnya – massif, terstruktur dan sistematis – ini menjadi kurang adil dalam pemakaiannya. Sebabnya, ia hanya diperuntukkan kepada orang lain. Berupa klaim-klaim yang tidak berdasar keputusan pengadilan. Sementara si pengeklaim sendiri, merasa bersih dari dugaan itu. Ah, tapi itu sih bagian dari aroma politik yang sedang hot-hotnya. Semenjak pilpres yang belum selesai tahapannya ini, memang hawa politik tidak semakin dingin. Padahal harusnya bisa didinginkan. Sebab yang dingin-dingin itu menyegarkan. Masyarakat pasti ingin yang dingin-dingin. Dalam arti hidupnya tidak terganggu oleh keriuhan semacam demo-demo demi capres yang sebenarnya tidak ber...

Ada Perampok Di dalam Diri Kita

Tadi malam aku, istriku dan anakku yang barep, sedang santai menonton tivi. Hitung-hitung malam Mingguan. Berkumpul bersama keluarga, dalam satu kegiatan yang sama, akan menjadi terapi emosi yang sangat berguna. Apalagi terus terang saja, kumpul bersama keluarga untuk nonton bareng acara tivi, memang sudah lama tidak aku lakukan. Maklumlah, aku sangat jarang nonton tivi. Tetapi moment kebersamaan nobar acara tivi tadi malam, yang jarang kami lakukan, ternyata tidak sesempurna yang aku kira. Lelah dan payah memang sirna. Gejolak emosi juga seperti merendah. Namun, ada salah satu pemberitaan tivi yang kami tonton tadi malam, yang benar-benar membuat emosi saya bergeliat. Salah satu berita tivi yang membuat saya sedikit emosi tersebut tentang kasus pembunuhan seorang staf sebuah kampus di Makasar. Pembunuhnya seorang dosen yang nota bene kawannya sendiri di kampus tersebut. Modusnya, pelaku yang dosen itu, sakit hati atas beberapa ucapan dan tindakan korban yang menurutnya pantas dib...

Saatnya Menyelami Hati

Entahlah, pagi ini saya kok tiba-tiba saja teringat sebuah cerita dari seorang teman. Sebuah cerita yang terjadi beberapa tahun silam. Pasti temanku – bahkan saya sendiri – tak bisa melupakan peristiwa bersejarah itu. Sebelum saya menceritakan kembali kisah itu, meskipun hanya cuplikan, saya minta yang membaca tulisan ini bersiap-siap menahan diri. Sebab cuplikan itu bisa membuat hidung mampet dan mata berkunang-kunang. Ceritanya memang agak-agak berbau. Di pagi hari itu, beberapa tahun silam, teman saya kaget bukan main. Ia kaget manakala keluar rumah, ia melihat sebuah pemandangan yang sangat menjengkelkan bagi dirinya dan keluarganya. Tak ayal batinnya berkecamuk. Emosi dan ramalan perkiraan siapa pelakunya, berseliweran di pikirannya. Apa sih sebetulnya yang ia lihat? Ia mendapati “kerumunan” tai manusia terlabur di tembok sebelah luar kamar mandinya. Laburan kotoran bau tersebut memenuhi seluruh luas tembok tersebut. Pemandangan itu tentu saja tidak mengasyikkan. M...

Harta Mahal itu Bernama Sabar

Dari jauh, terlihat lampu lalulintas di sebuah perempatan menunjukkan tanda jika lampu hijau akan segera menyala. Kendaraan kitapun agak kita kebut, kiranya bisa mengejar nyalanya lampu hijau itu. Ndilalah di depan kita bertumpuk juga kendaraan-kendaraan lainnya. Akhirnya semuanya tak bisa mengebut. Di situasi itu kita menengok ternyata lampu hijau benar-benar telah menyala. Hati kita bergairah gembira, sebab sebentar lagi kita bisa keluar dari kemacetan melelahkan itu. Manakala kita mendongak lagi barang beberapa detik, ternyata yang menyala ganti yang merah. Mendadak kita kaget dan langsung lunglai. Sebenarnya perasaan kita mendidih, sebab sudah lama kita terjebak kemacetan yang memusingkan. Dan di situlah sikap sabar harus kita kedepankan. *** Kita ingin berobat kepada seorang dokter andalan. Jadwal praktik sudah kita pegang. Kita juga sudah punya nomor rekam medis di tempat praktik dokter andalan itu. Karena sangat ingin berobat dan konsultasi kepadanya, kitapun ingi...

Isra’ Mi’raj: Kenyataan Hidup dan Pelatihan Jiwa

Peringatan Isra’ Mi’raj dihelat di banyak tempat. Kemarin, hari ini dan mungkin juga beberapa hari mendatang, peristiwa kenabian yang sungguh bersejarah itu, akan diperingati dengan berbagai konsep khas masyarakat kita. Para bapak kerap memperingatinya dengan cara membawa ambeng (nasi dan lauk-pauk lengkap empat sehat lima sempurna) ke masjid atau musholla. Ambeng-ambeng itu akan dikumpulkan jadi satu di teras masjid, kemudian seorang pemuka agama akan memimpin ritual peringatan itu. Paling sering dibacakan shalawat nabi. Lain para bapak, lain pula para murid sekolah. Karena kemarin libur tanggal merah, maka peringatan Isra’ Mi’raj di sekolah-sekolah akan dilaksanakan hari ini, besuk dan mungkin ada juga lusa. Para murid itu diminta oleh gurunya supaya memakai baju muslim dan muslimah. Bukan seragam sekolah seperti biasanya. Para murid itu juga diminta membawa kue sendiri-sendiri dari rumah. Ini yang seru, sebab pasti akan banyak variasi kue yang terkumpul di sekolah yang...

Kisah-kisah Gus Dur dan Coklat

Sumber foto: suaraislam Mengetahui kisah tentang Gus Dur, yang diperoleh bukan dari buku atau referensi tertulis lainnya, menurut saya lebih terasa berkesan. Kisah tentang seorang tokoh yang tak lekang oleh zaman dan terus dibicarakan di mana-mana, berdasar cerita tutur itu, memberikan satu gairah tersendiri. Minimal menurut kesan saya. Apalagi kisah itu berdasar sumber A1, wah sungguh sebuah anugerah yang istimewa. Seperti halnya pernah saya mendapat cerita dari seorang kepala madrasah di sebuah desa sebelah kampung saya. Bapak kepala madrasah tersebut menceritakan bahwa di sebuah malam puluhan tahun yang lalu, ia pernah menjemput Gus Dur di terminal Mojokerto, dan kemudian dibonceng menuju rumah seorang Gus di kampungnya itu, yang terletak di utara Sungai Brantas. Gus Dur blusukan malam-malam ke rumah Gus kelas kampung tersebut bukan bertujuan politik. Melainkan Gus Dur hanya ingin silaturrahim dan ngobrol santai. Serta ingin pijat-pijatan dengan Gus tersebut. Begitu yang di...

Jamaah Millenial Memandang Berbagai Isi Khotbah

Bagaimana respon Anda, duhai manusia millenial, jika di sebuah forum shalat Jum’at, khatib yang menyampaikan khotbahnya ternyata berisi anasir-anasir yang menyinggung hati, sekalipun bersifat pribadi? Tentu saja berbagai respon akan muncul dengan bermacam variasi. Salah satunya sakit hati. Anda sakit hati, karena merasa sudah “digarap” oleh khatib tersebut. Meskipun sebenarnya khatib tersebut tidak kenal Anda. Tetapi materi yang menyentil-nyentil tersebut, jujur saja, membuat otak Anda mendidih. Sehingga badan yang sedianya duduk khusyuk mendengar khotbah, berubah tidak tenang. Kadang keringatpun berontak pula, keluar dari pori-pori kulit tanpa bisa dibendung. Anda boleh bersikap seperti itu. Namun perlu dipahami oleh semua jamaah Jum’at, bahwa isi khotbah yang menyentil-nyentil nurani jamaah, adalah hal biasa. Khatib, memang tugasnya untuk mengingatkan dan memotivasi para jamaah yang hadir. Khatib tidak terlepas dari basyiran wa nadziran, menyampaikan kabar baik dan peringatan. ...