Jamak di masyarakat kita bahwa yang namanya pernyataan itu butuh bukti yang menguatkan. Bukti diajukan agar pernyataan yang dikeluarkannya tidak dianggap bualan belaka. Apalagi yang ada hubungannya dengan berita atau informasi. Orang kalau ingin informasi yang disampaikannya dipercaya orang lain, maka salah satu unsur utamanya adalah adanya bukti. Semakin bukti itu masuk akal, semakin dipercayailah informasi tersebut.
Kita pasti pernah mengalami dua hal. Pertama, kita dimintai bukti oleh orang lain atas ucapan kita. Dan kedua, kita juga pernah meminta bukti dari orang lain atas ucapannya. Oleh karena itu bukti dan ucapan atau informasi ibarat pasangan suami istri yang tidak boleh diceraikan. Sebab kalau suatu saat diceraikan, maka si pengucap pernyataan tanpa adanya bukti bisa dicap “gedabrus” oleh orang lain.
Orang kampung sangatlah menjauhi pangkat “gedabrus” menempel di pundaknya. Memang dari cara pengucapannya, kata “gedabrus” itu terkesan lucu. Kata yang sama sekali tidak terkesan angker. Tetapi kalau ditilik dari segi pengaruh, sungguh sangat dahsyat. Sederhananya, siapapun yang dicap gedabrus, tidak usah berharap ucapan-ucapannya akan dipercayai lagi oleh orang kampung. Sampai pada batas waktu yang tidak bisa dikalkulasi!
Sungguh sebuah lelucon, misalnya sebuah stasiun tivi mewartakan berita-berita politik, ekonomi dan sosial dari seluruh belahan dunia, tetapi tak satupun ada tayangan audio visualnya. Tidak ada liputan, tidak ada wawancara, bahkan tidak ada video sama sekali. Pasti yang menonton tivi tersebut akan sama-sama mangkel. Dan boleh jadi, besuknya stasiun tivi itupun secara ramai-ramai dicap sebagai gedabrus.
Dalam bahasa agama bukti itu bisa berarti dalil. Baik ia berupa ayat Tuhan maupun ucapan Nabi. Atau ada pula yang menambahi dengan kesepakatan pemuka agama dan analogi. Keempat sumber itulah yang bisa dijadikan dalil dalam beragama. Sehingga, di masyarakat sering kita dengar pertanyaan: ada dalilnya nggak? Ayat dan hadis yang nomer berapa? Shahih apa gak dalilnya?
Pentingnya dalil dalam beragama memang sebuah keniscayaan. Sebab agama itu “lahir” dari Tuhan yang ada di langit (samawi). Artinya, manusia sekedar menerima ajaran yang berasal dari luar dirinya. Sehingga jika ia bertindak berbeda dari dalil-dalil yang nuansanya langit itu, niscaya disebut bid’ah atau mengada-ada. Ya, sekalipun bid’ah sendiri itu bermacam-macam. Tiap golongan di setiap agama punya makna dan batasan masing-masing mengenai term bid’ah.
Tapi, secara khusus tulisan ini tidak ingin mengulas lebih lanjut mengenai pernyataan tanpa bukti, atau berita tanpa fakta, atau pula beragama tanpa dalil seperti disebut sebelumnya. Sebab ulasan tentang semua itu sangat sering kita dengar. Ya, semacam tempe goreng yang tiap hari kita makan. Atau umpama kopi hangat yang saban hari kita seruput. Kita sudah mengerti tentang ajaran-ajaran itu, karena di lingkungan kita sendiri sering diobrolkan.
Jika disimpulkan di tengah-tengah tulisan ini, semua mengerucut pada sebuah sikap: kejujuran. Siapapun yang bersikap jujur pasti ia berucap dan bertindak didasari bukti. Bukti tersebut berwujud fakta yang nyata. Artinya, kejujuran adalah senapasnya ucapan dan fakta yang terjadi. Orang-orang yang diakui jujur oleh masyarakat akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan orang yang dicap “gedabrus”. Salah satunya kepercayaan yang besar.
Tapi apakah segampang dan semudah itu seseorang memperoleh stempel kejujuran dari orang lain? Jawabannya tidak semudah yang dikira. Sebabnya hanya satu: penerimaan atau penolakan orang lain. Artinya, sering pula orang-orang yang sudah berusaha jujur, mendasari ucapan dan perilakunya dengan bukti yang faktual, namun tetap juga tidak dipercaya orang lain. Sudah ditunjukkan bukti bertumpuk-tumpuk, tapi tak satupun yang digubris.
Salah satu temanku pernah pula mengalami pengalaman menyakitkan tersebut. Suatu ketika ia, yang profesinya sebagai guru, diperintah untuk menghadap ke ruang kepala sekolah. Setelah ia masuk ke ruangan tersebut barulah ia tahu bahwa ada salah satu wali murid yang ingin protes kepadanya. Protes atas dugaan perlakuan kepada anaknya yang dianggapnya sebagai kekerasan. Di paha anaknya ada yang gosong akibat dicubit dengan keras oleh temanku. Penjelasan itu diketahui oleh ibu tadi dari pengakuan anaknya. Kebetulan anak si ibu tersebut adalah murid temanku itu.
Menurut penuturan temanku, saat itu si ibu galak tersebut mencacinya dengan dahsyat. Mencaci dengan ucapan yang benar-benar mengernyitkan dahi. Padahal di ruangan itu tidak hanya ada kepala sekolah, namun ada pula dua guru lainnya. Sebutlah namanya Bu Syahrini dan Bu Raisa. Tapi si ibu yang “galak’ itu tidak mempedulikan mereka. Ia mengumpat dan menyumpah-nyumpahi temanku dengan kata-kata yang tidak senonoh. Ya, senapas umpatan warganet zaman sekarang yang terbiasa mengecap orang lain sebagai anjing, kecebong dan bani unta.
Untuk melawan umpatan dan sumpah serapah tersebut, sebenarnya temanku telah menunaikan hak jawabnya. Berupa pengakuan bahwa bukanlah dirinya yang melakukan “kejahatan” itu. Ia bukan tipe guru yang suka menghukum murid-muridnya secara fisik. Bahkan ia sempat bercerita, sebenarnya warna gosong itu bukan disebabkan cubitannya. Akan tetapi akibat si anak berlari-lari, kejar-kejaran dengan temannya, dan tiba-tiba kejedot pojokan bangku kelas.
Banyak pula keterangan dari beberapa teman sekelas yang sempat menyaksikan. Taruhlah mereka itu bernama Fahri, Fadli dan Dhani. Pengakuan itu didapat temanku karena memang anak ibu tadi, taruhlah namanya Novanto, menangis kesakitan pasca pahanya kejedot.
Tapi tak dinyana oleh temanku, penjelasan panjang yang berdasar fakta yang valid itu, sama sekali tak digubris si ibu galak. Ia terus saja nyerocos menyumpah-nyumpahi temanku. Bahkan juga menyumpah-nyumpahi lembaga sekolah. Menurut temanku, nyerocos ibu tadi seperti tidak bertitik, alias terus menerus tanpa henti dan tanpa lelah. Katanya, mirip bunyi knalpot motor dua tak yang memekak telinga.
Setelah kejadian “dahsyat” itu, besuk harinya si ibu memindahkan anaknya ke sekolah lainnya di luar kota. Temanku kaget. Kok bisa sedrastis itu keputusannya. Hingga membuatnya merasa bersalah, terutama kepada kepala sekolah. Menurutnya kehilangan satu murid saja sangatlah memalukan. Oleh karena itu, ia akan berusaha menemui ibu tadi. Ia akan memberikan bukti-bukti baru yang lebih menguatkan bahwa kejadiannya tidak seperti itu.
Tapi buru-buru bapak kepala sekolah, taruhlah namanya Pak Mad, melarangnya untuk melanjutkan persoalan itu. Menurut beliau, tindakan itu tidak akan berfaedah lagi. Menurutnya lagi, temanku itu sudah benar, sudah pas. Hak jawab sudah terlaksana. Bukti valid yang berlimpah juga sudah disodorkan. Artinya temanku itu sudah jujur apa adanya. Sudah tidak ada persoalan di pihak temanku.
Justru yang menjadi persoalan adalah si ibu galak tadi. Persoalan itu terletak pada tidak menghargainya si ibu pada bukti yang disodorkan. Ada klaim ketidakpercayaan yang begitu kuat pada dirinya. Ada sikap ultra egoistis yang menganggap kepercayaan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sedang untuk orang lain, hanya dia yang berhak menilainya. Sekalipun bukti kuat sudah dipampangkan di depannya.
Menurut kepala sekolah, paling pamungkas, ibu tersebut sebagai manusia yang selalu meragukan orang lain. Padahal orang lain sudah jujur di hadapannya. Oleh karenanya, tidak usahlah mempertahankan kejujuran dengan mati-matian dihadapan orang-orang yang seperti itu. Toh dia tetap tidak percaya juga. Yang lebih tepat adalah doakan saja dia agar segera menyadari. Bahwa kejujuran itu tidak akan musnah oleh umpatan-umpatan dan sumpah serapah tidak bermutu, seperti yang diucapkannya.
Begitulah duhai tuan dan puan.
Mojokerto, 16-02-2018
Kita pasti pernah mengalami dua hal. Pertama, kita dimintai bukti oleh orang lain atas ucapan kita. Dan kedua, kita juga pernah meminta bukti dari orang lain atas ucapannya. Oleh karena itu bukti dan ucapan atau informasi ibarat pasangan suami istri yang tidak boleh diceraikan. Sebab kalau suatu saat diceraikan, maka si pengucap pernyataan tanpa adanya bukti bisa dicap “gedabrus” oleh orang lain.
Orang kampung sangatlah menjauhi pangkat “gedabrus” menempel di pundaknya. Memang dari cara pengucapannya, kata “gedabrus” itu terkesan lucu. Kata yang sama sekali tidak terkesan angker. Tetapi kalau ditilik dari segi pengaruh, sungguh sangat dahsyat. Sederhananya, siapapun yang dicap gedabrus, tidak usah berharap ucapan-ucapannya akan dipercayai lagi oleh orang kampung. Sampai pada batas waktu yang tidak bisa dikalkulasi!
Sungguh sebuah lelucon, misalnya sebuah stasiun tivi mewartakan berita-berita politik, ekonomi dan sosial dari seluruh belahan dunia, tetapi tak satupun ada tayangan audio visualnya. Tidak ada liputan, tidak ada wawancara, bahkan tidak ada video sama sekali. Pasti yang menonton tivi tersebut akan sama-sama mangkel. Dan boleh jadi, besuknya stasiun tivi itupun secara ramai-ramai dicap sebagai gedabrus.
Dalam bahasa agama bukti itu bisa berarti dalil. Baik ia berupa ayat Tuhan maupun ucapan Nabi. Atau ada pula yang menambahi dengan kesepakatan pemuka agama dan analogi. Keempat sumber itulah yang bisa dijadikan dalil dalam beragama. Sehingga, di masyarakat sering kita dengar pertanyaan: ada dalilnya nggak? Ayat dan hadis yang nomer berapa? Shahih apa gak dalilnya?
Pentingnya dalil dalam beragama memang sebuah keniscayaan. Sebab agama itu “lahir” dari Tuhan yang ada di langit (samawi). Artinya, manusia sekedar menerima ajaran yang berasal dari luar dirinya. Sehingga jika ia bertindak berbeda dari dalil-dalil yang nuansanya langit itu, niscaya disebut bid’ah atau mengada-ada. Ya, sekalipun bid’ah sendiri itu bermacam-macam. Tiap golongan di setiap agama punya makna dan batasan masing-masing mengenai term bid’ah.
Tapi, secara khusus tulisan ini tidak ingin mengulas lebih lanjut mengenai pernyataan tanpa bukti, atau berita tanpa fakta, atau pula beragama tanpa dalil seperti disebut sebelumnya. Sebab ulasan tentang semua itu sangat sering kita dengar. Ya, semacam tempe goreng yang tiap hari kita makan. Atau umpama kopi hangat yang saban hari kita seruput. Kita sudah mengerti tentang ajaran-ajaran itu, karena di lingkungan kita sendiri sering diobrolkan.
Jika disimpulkan di tengah-tengah tulisan ini, semua mengerucut pada sebuah sikap: kejujuran. Siapapun yang bersikap jujur pasti ia berucap dan bertindak didasari bukti. Bukti tersebut berwujud fakta yang nyata. Artinya, kejujuran adalah senapasnya ucapan dan fakta yang terjadi. Orang-orang yang diakui jujur oleh masyarakat akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan orang yang dicap “gedabrus”. Salah satunya kepercayaan yang besar.
Tapi apakah segampang dan semudah itu seseorang memperoleh stempel kejujuran dari orang lain? Jawabannya tidak semudah yang dikira. Sebabnya hanya satu: penerimaan atau penolakan orang lain. Artinya, sering pula orang-orang yang sudah berusaha jujur, mendasari ucapan dan perilakunya dengan bukti yang faktual, namun tetap juga tidak dipercaya orang lain. Sudah ditunjukkan bukti bertumpuk-tumpuk, tapi tak satupun yang digubris.
Salah satu temanku pernah pula mengalami pengalaman menyakitkan tersebut. Suatu ketika ia, yang profesinya sebagai guru, diperintah untuk menghadap ke ruang kepala sekolah. Setelah ia masuk ke ruangan tersebut barulah ia tahu bahwa ada salah satu wali murid yang ingin protes kepadanya. Protes atas dugaan perlakuan kepada anaknya yang dianggapnya sebagai kekerasan. Di paha anaknya ada yang gosong akibat dicubit dengan keras oleh temanku. Penjelasan itu diketahui oleh ibu tadi dari pengakuan anaknya. Kebetulan anak si ibu tersebut adalah murid temanku itu.
Menurut penuturan temanku, saat itu si ibu galak tersebut mencacinya dengan dahsyat. Mencaci dengan ucapan yang benar-benar mengernyitkan dahi. Padahal di ruangan itu tidak hanya ada kepala sekolah, namun ada pula dua guru lainnya. Sebutlah namanya Bu Syahrini dan Bu Raisa. Tapi si ibu yang “galak’ itu tidak mempedulikan mereka. Ia mengumpat dan menyumpah-nyumpahi temanku dengan kata-kata yang tidak senonoh. Ya, senapas umpatan warganet zaman sekarang yang terbiasa mengecap orang lain sebagai anjing, kecebong dan bani unta.
Untuk melawan umpatan dan sumpah serapah tersebut, sebenarnya temanku telah menunaikan hak jawabnya. Berupa pengakuan bahwa bukanlah dirinya yang melakukan “kejahatan” itu. Ia bukan tipe guru yang suka menghukum murid-muridnya secara fisik. Bahkan ia sempat bercerita, sebenarnya warna gosong itu bukan disebabkan cubitannya. Akan tetapi akibat si anak berlari-lari, kejar-kejaran dengan temannya, dan tiba-tiba kejedot pojokan bangku kelas.
Banyak pula keterangan dari beberapa teman sekelas yang sempat menyaksikan. Taruhlah mereka itu bernama Fahri, Fadli dan Dhani. Pengakuan itu didapat temanku karena memang anak ibu tadi, taruhlah namanya Novanto, menangis kesakitan pasca pahanya kejedot.
Tapi tak dinyana oleh temanku, penjelasan panjang yang berdasar fakta yang valid itu, sama sekali tak digubris si ibu galak. Ia terus saja nyerocos menyumpah-nyumpahi temanku. Bahkan juga menyumpah-nyumpahi lembaga sekolah. Menurut temanku, nyerocos ibu tadi seperti tidak bertitik, alias terus menerus tanpa henti dan tanpa lelah. Katanya, mirip bunyi knalpot motor dua tak yang memekak telinga.
Setelah kejadian “dahsyat” itu, besuk harinya si ibu memindahkan anaknya ke sekolah lainnya di luar kota. Temanku kaget. Kok bisa sedrastis itu keputusannya. Hingga membuatnya merasa bersalah, terutama kepada kepala sekolah. Menurutnya kehilangan satu murid saja sangatlah memalukan. Oleh karena itu, ia akan berusaha menemui ibu tadi. Ia akan memberikan bukti-bukti baru yang lebih menguatkan bahwa kejadiannya tidak seperti itu.
Tapi buru-buru bapak kepala sekolah, taruhlah namanya Pak Mad, melarangnya untuk melanjutkan persoalan itu. Menurut beliau, tindakan itu tidak akan berfaedah lagi. Menurutnya lagi, temanku itu sudah benar, sudah pas. Hak jawab sudah terlaksana. Bukti valid yang berlimpah juga sudah disodorkan. Artinya temanku itu sudah jujur apa adanya. Sudah tidak ada persoalan di pihak temanku.
Justru yang menjadi persoalan adalah si ibu galak tadi. Persoalan itu terletak pada tidak menghargainya si ibu pada bukti yang disodorkan. Ada klaim ketidakpercayaan yang begitu kuat pada dirinya. Ada sikap ultra egoistis yang menganggap kepercayaan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sedang untuk orang lain, hanya dia yang berhak menilainya. Sekalipun bukti kuat sudah dipampangkan di depannya.
Menurut kepala sekolah, paling pamungkas, ibu tersebut sebagai manusia yang selalu meragukan orang lain. Padahal orang lain sudah jujur di hadapannya. Oleh karenanya, tidak usahlah mempertahankan kejujuran dengan mati-matian dihadapan orang-orang yang seperti itu. Toh dia tetap tidak percaya juga. Yang lebih tepat adalah doakan saja dia agar segera menyadari. Bahwa kejujuran itu tidak akan musnah oleh umpatan-umpatan dan sumpah serapah tidak bermutu, seperti yang diucapkannya.
Begitulah duhai tuan dan puan.
Mojokerto, 16-02-2018

Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda