Langsung ke konten utama

Ada Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Brangkal

Ada Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Brangkal Sooko tadi malam. Mereka tampil menyemarakkan peresmian sebuah lembaga pendidikan baru milik Ida Fauziah, anggota DPR dari PKB. Akupun berboncengan dengan seorang remaja masjid yang sedang libur kuliah, Rizky namanya, untuk ikut pula dalam acara itu.  

Anak muda yang aku ajak bareng tersebut kuliah di UM (aslinya UNM). Tentu saja itu di Malang. U itu Universitas dan M itu Malang. Dulunya bernama IKIP Malang. Kan sekarang perguruan tinggi yang memakai huruf awal I (institut) sudah banyak yang berubah U (universitas). Tambah fakultas, nomenklatur pun ikut berubah.

Terjadi beberapa perubahan dalam diri anak muda ini. Salah satunya selalu ingin tahu tentang perkembangan wacana ke-Islaman. Terutama pada sosok Cak Nun dimana aku sendiri yang sebenarnya mengenalkan seorang budayawan par exellence itu. Mengapa? Cak Nun itu karyanya sudah sangat menjangkiti anak-anak muda yang hidup di era “Arek Sumobito” tersebut dikenal sebagai esais nomer wahid di negeri ini. Beberapa dekade yang lalu esainya banyak mewarnai media massa nasional dan pasti dibaca banyak orang.

Anak muda yang masih semester tiga inipun, akhirnya penasaran dengan sosok Cak Nun. Katanya, demi menjawab kepenasaranannya itu iapun beberapa kali mengikuti acara maiyahan di Malang yang rutin dihelat beberapa kampus. Sepertinya, perubahan lainnya adalah semakin terbukanya pemikiran dipengaruhi ujaran dan ajaran Cak Nun.

***

Saat kami tiba di lokasi, seperti biasa kalau ada Cak Nun, tentu ada pula lapak pedagang buku-buku karyanya. Aku sendiri sejak lama ingin menambah koleksi, khususnya Majalah Sabana. Tapi, kata embak pelayan lapak, majalah tersebut sementara tidur dulu. Yang ada terlihat adalah majalah terbaru dari Buletin Maiyah Jawa Timur yang memampangkan cover foto ulang tahun ke-70 Cak Fuad, kakak sulungnya Cak Nun.

Ya deh, gak apa-apa. Yang penting bisa tambah koleksi dan tambah wacana, tentu saja. Aku membelinya satu. Tambah air mineral dua botol. Lalu kami ngacir mencari tempat strategis, paling depan, paling lowong, kalau rezeki. Ternyata di area terdekat dengan panggung semua sudah terisi penuh para anak maiyah yang sangat militan.

Akhirnya dapatlah kami beberan yang masih kosong di lapangan sisi utara. Lumayan, area pandang tidak sampai tertutupi kamera yang berdiri tegak, simetris tepat di depan panggung. Area ngelempoh kami dekat dengan speaker dan masih bisa memandang para personel Kiyai Kanjeng  bernyanyi. Masih bisa melihat perejengan Cak Nun, laki-laki tua berambut panjang, dan memakai peci merah. Katanya itu peci asli Maroko.

Kami ngelempoh di pinggir seorang bapak, ibu dan anak kecilnya. Barusan duduk, kisanak si bapak yang perawakannya hampir mirip dengan bodiku itu melihatku dengan tajam. Aku agak belingsatan dilihat seorang bapak yang kumisnya panjang dan janggutnya agak berewok itu.

“Tak kirain si anu. Ternyata bukan.” Kata bapak itu mengira aku ini temannya.

“Ya memang saya ini mirip banyak orang pak.” Aku menyahut sekenanya.

“Bapak dari mana, kok ke sini bawa istri dan anak segala?” Tanyaku mencoba mencairkan suasana di tengah riuh para jamaah maiyah duduk bareng.

“Aku dari Curahmalang, mas.”

Mendengar daerah Curahmalang disebut, aku jadi ingat sebuah group japin yang dua tahun lalu pernah aku undang tampil dan menghibur warga desa. Katanya group tersebut milik seorang yik, sebutan anak dari seorang habib.

“Hemm, Curahmalang. Berarti sampeyan kenal dong dengan bla bla bla yang anaknya bla bla bla?” Tanyaku lagi menggali informasi lebih lengkap. Mendengar itu si bapak itu malah nyengir. Kayaknya ada hal yang dipersoalkan dengan pertanyaanku. Semakin memboat blingsatan lagi. Orang aneh, kata hatiku.

Tiba-tiba ia menukas, “Begini lo mas. Sebetulnya gelar habib itu masih debatable. Orang lain mengatakan iya. Sementara yang lainnya tidak. Gelar habib itu perlu sampeyan pertimbangkan lagi buat si orang tersebut. Aku sendiri tak pernah menganggapnya seperti itu.”

Wah, kaget langsung aku mendengarnya. Ini kok malah merembet ke urusan legal tidaknya sebuah gelar. Dan sebelum aku berpikir lagi tentang omongan si bapak, eh dia kembali menambahi argumentasinya.

“Pimpinan habib di Mojokerto dan Jombang pernah memberitaukan jika gelar habib si orang tersebut sama sekali tidak berdasar. Ada garis nasab yang dibuat-buat. Keluarganya saja tidak mengatakan bila mereka punya pertalian nasab dengan Rasulullah sebagai syarat utama seseorang disebut habib. Ya mungkin dia maunya dijunjung-junjung.”

Aku tambah tidak sreg lagi. Batinku bilang, “lha itu kan urusan warga daerah sampeyan, kenapa aku disebarin info pula. Itu kan urusan wadi-nya orang lain, yang perlu disimpan dan rahasiakan. Kan aku jadi tau nih problem itu.” Belum lagi selesai aku dlomong, si bapak kembali menambah lebih tajam ulasannya.

“Awalnya kita tidak perduli dengan itu semua mas. Lha wong urusan kayak gitu kok dibahas-bahas. Kan gak modis ya. Tapi bagaimana lagi mas, gelar terhormat diakunya itu tidak sejalan dengan tingkah polahnya. Itulah yang membuat saya harus bersikap.”

Iya ya. Si bapak yang nyerocos seperti itu awalnya aku anggap kurang etis. Dan aku baru sadar, dia ini kan jamaah maiyah. Jamaah yang tiap bertemu dengan Cak Nun selalu diajak untuk berpikir kritis tentang situasi yang ada, selalu menjaga ketenangan, mandiri, dll. Apa yang diomongkannya tadi sebenarnya juga punya argumentasi yang matang, kuat dan kokoh. Keterangan si bapak yang sudah lama mencemplungkan diri sebagai jamaah maiyah itu, sepertinya benar juga sih.

***

Di acara kemarin malam Cak Nun banyak mengulas isu-isu kekinian, terutama tentang pendidikan. Di awali oleh semangat iqra’, ayat pertama dalam Surat al-Alaq, wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah. Kata Cak Nun kita harus tahu siapa yang menyuruh iqra’, kepada siapa perintah iqra’ diwajibkan dan apa yang di-iqra’kan.

Terang sekali jika Tuhanlah sebagai “pemerintah” atas perintah iqra’ tersebut. Manusia yang menjadi obyek yang diperintahkan. Dan semua sisi kehidupan itulah yang perlu di-iqra’-i. Ingin pandai perlu iqra’. Ingin sukses perlu iqra’. Ingin laris dagangannya perlu iqra’. Bahkan ingin nikah saja harus di-iqra’-i pula.

Jangan lupa dalam setiap iqra’ lengkapi dengan bismi rabbikal ladzi khalaq, menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Menurut Cak Nun konsep inilah yang belum terwadahi dalam pendidikan di negeri ini.

Dalam kebijakan pendidikan di negeri ini hanya mengutamakan iqra’. Tanpa ditambahi dengan menyebut nama Tuhan. Sehingga inilah yang menjadi realitas pendidikan kita selama ini. Pandai ber-iqra’ tapi meninggalkan unsur menyebut nama Tuhan. Kaya intelektual, tapi miskin spiritual dan nilai-nilai ketuhanan.

Begitulah kira-kira sebagian yang bisa aku tangkap dalam perhelatan sinau bareng yang bertajuk “Pagelaran Seni dan Budaya” tadi malam. Pingin tahu yang lainnya, silakan cari-cari sendiri ya.   

Moxer, 16 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orkes Moralitas

Kita pasti masih teringat pada seorang politisi yang menyorong kata-kata “bangsat” kepada organ-organ yang ada di sebuah institusi pemerintahan, di beberapa bulan yang lalu. Kita juga pasti belum alpa pada seorang tokoh nasional yang mendaku diri dan golongannya sebagai anggota partai Allah dan yang tidak sama dengannya dipelakati sebagai anggota partai setan. Masih menancap pula di memori kita, tentang makian dan cacian dari banyak orang yang ditujukan pada sosok Gus Dur (1940-2009) dengan banyak kata: picek , buta mata hati, liberal, antek Yahudi, dll. Sampai kematiannya di tahun ke 9 pun, ironisnya, sosok kosmopolit ini terus saja mendapat umpatan dan hinaan dari beberapa pihak. Masih terkenang pula perlakuan pada sosok Gus Mus, seorang kiai-budayawan, yang disepelekan seorang anak muda dengan kata: ndasmu . Untungnya kasus ini sudah ditutup, dan yang menutup adalah Gus Mus sendiri. Dengan kearifannya, Gus Mus memaafkan ulah orang yang menghinanya itu. Belum lama ini, ...

MAK TUN DAN DOWEH: KISAH KEBENARAN DAN KEHADIRAN

Di sebuah kampung “Anu” berdirilah ratusan rumah berdinding kayu dan berlantai tanah.  Salah satu rumah khas kampung pegunungan itu milik dua orang, ibu dan anaknya. Si anak bernama Doweh dan ibu yang sudah renta bernama Mak Tun. Rumah itu berada di wilayah RT (rukun tetangga) paling selatan dari kampung tersebut. Lebih tepatnya, rumah itu berada di area persawahan dan perkebunan warga. Nampak rumah-rumah itu asri menyejukkan. Tiap hari Mak Tun bekerja layaknya orang kampung lainnya. Pagi ia pergi ke sawah dan kebun, untuk meramut tinggalan suaminya yang sudah lama mati. Di kala siang ia membuat krupuk di rumah untuk dititipkan di warung-warung setempat. Di kala sore sampai malam, ia “bersemedi”. Sedang Doweh hanya sesekali membantu emaknya itu bertanam dan memanen hasil sawah atau kebun bapaknya tersebut. Lebih banyak ia menghabiskan waktu di rumah sebab pekerjaan utamanya sebagai tukang servis tv, radio, tape dan alat elektronik lainnya. Sebagai seorang tukang servis ten...

Derajat Tinggi Sayyidina Umar dan Munkar-Nakir yang Takut Padanya

Ada banyak makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt di muka bumi. Menurut pemahaman kita selama ini, hanya ada tiga jenis makhluk hidup berdasarkan bahan dasarnya. Pertama, yang berbahan dasar cahaya, ialah malaikat. Kedua, yang berbahan dasar api, ialah jin, setan dan iblis. Dan ketiga, yang berbahan dasar tanah, ialah binatang, tumbuhan dan manusia. Yang selama ini kita yakini, makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah malaikat. Alasannya, malaikatlah makhluk yang paling taat kepada Allah Swt. Ketaatannya seratus persen, bahkan bisa melebihi itu. Allah Swt menyuruh seorang malaikat untuk berjalan, maka malaikat itupun akan berjalan tanpa henti, sebelum Allah sendiri yang menghentikan. Diperintahkan bersujud, rukuk, dll, merekapun taat melaksanakan titah itu tanpa protes dan tanpa menyetop tugas-tugasnya itu. Tetapi pemahaman tersebut sebenarnya bisa benar dan bisa salah. Tergantung pada diri pribadi makhluk selain malaikat itu. Taruhlah dua makhluk lainnya, setan dan manusia, ...