Manusia itu khalifahnya Tuhan yang ditugaskan ngeramut dan ngerumat apa saja yang ada di bumi. Semuanya, mulai dari kerak bumi yang paling dasar, sampai pada lapisan atmosfer terluar yang membuat bumi ini nyaman. Tugas itu di-SK-kan Tuhan dalam firman-Nya. Yang menandakan bahwa Tuhan itu sangat serius memandatkan tugas-tugasnya kepada manusia.
Sebagai khalifah, maka manusia itu wakil. Namanya wakil, tentu mandat itu luar biasa besarnya. Orang boleh mengira jika wakil itu tak berdaya, tidak berguna, tertutupi pesona ketua atau kepala yang berdiri sejajar dengan si wakil. Orang boleh merasa ngenes saat wakil tak diberikan job apapun oleh Bupati atau Gubernur atau Presiden, sekalipun. Tapi lain untuk wakil Tuhan. Sang wakil itu dimandati sepenuhnya.
Wakil Tuhan di bumi artinya semua perihal menanam apapun yang ada di kulit bumi, menyiram, memupuk, menikmati, kemudian menanam lagi, seterusnya seperti itu, semuanya diserahkan kepada manusia. Apakah pernah Tuhan memberikan saran tentang bagaimana sebaiknya mengolah sawah yang akan ditanami padi? Apakah pernah Tuhan menyarankan takaran kepada petani yang akan memupuk sawahnya? Apakah pernah Tuhan protes tentang manusia yang seenaknya membuang sampah di kali-kali kecil yang mestinya steril? Apakah pernah Tuhan menjawil manusia agar menyetop pembuatan nuklir dan atom? Apakah Tuhan pernah turun tangan saat para maling berdasi menggerogoti uang rakyat? Apakah pernah Tuhan berusaha menggagalkan para pengusaha kelas kakap menebang hutan dengan seenaknya?
Paling sepele, apakah Tuhan pernah menegur siapapun yang tidak serius menyebut nama-Nya? Atau apakah Tuhan pernah jengkel pada kita yang ibadahnya mirip orang berniaga: lihat sikon laba-rugi? Sama sekali Dia kok tak pernah ikut campur urusan-urusan itu.
Benar-benar luar biasa banget menjadi wakilnya Tuhan itu. Sekali mandat diberikan, sampai kiyamat mandat itu tidak akan diambil-Nya kembali. Saking ikhlasnya Tuhan, bahkan banyak orang dengan mandat yang super power itu lalai bahwa ia itu wakil. Iapun seakan menggeser peran Tuhan dan mendaku dirinya Tuhan itu sendiri, yang inginnya dihormati, ditaati, diagungkan dan disembah. Tuhanpun sekedar disebut di mulut beberapa kali saja. Sementara di batinnya, yang ada, yang memenuhi rongga-rongganya, hanya strategi meraih keuntungan sebesar-besarnya, mumpung jadi (wakil) Tuhan.
Tapi, atas semua yang membanggakan dan sebetulnya pula menakutkan itu, Tuhan sebenarnya mengutuskan kyai-kyai yang ditugaskan untuk menasihati manusia. Dan jangan pernah membandingkannya dengan penceramah-penceramah yang tiap hari muncul di tivi atau di youtube. Sebab jika beliau-beliau berceramah, benar-benar menunjam ke jantung manusia. Sekali para kyai itu berucap, mendalilkan firman-firman Tuhan, maka jaminan mutu, orang tersebut akan lungset, nyungsep, sebab tak berdaya dengan kekuatan dakwah para kyai non komersil itu.
Kyai itu bernama diabetes yang dakwahnya sangat luwes. Tidak memakai ba bi bu, tidak memakai laptop atau mikrofon, tidak memakai surban, tidak memakai youtube demi ketenaran, tidak menunjukkan jenggot panjangnya, tidak menampakkan jidat hitamnya, tidak perlu melucu, tidak perlu menyanyi dan berjoget, tidak perlu diundang, tidak perlu disuguhi konsumsi apapun, dan tidak mau diberi amplop berapapun, karena dakwahnya begitu tulus. Sekali kalimat dakwahnya diucap, manusia yang tak sadar mendengarnya, yang awalnya berlagak seperti Tuhan, langsung lunglai dan tak sanggup menutupi jati dirinya yang sebetulnya gedibal dan babu-Nya Tuhan.
Apakah cuman kyai deabetes yang selalu datang di tengah-tengah kita, manusia? Tidak perlu khawatir, Tuhan juga menyuruh pula kyai stroke, kyai liver, kyai osteoporosis, kyai kanker, kyai koroner, kyai kelenjar getah bening, yang senantiasa mendatangi kita di saat yang tepat. Dakwahnya selalu tepat pada momentumnya.
Yang paling aduhai tentu saja kyai pikun...
#RenunganJumat
#AyoNgajiKepadaKyaiDiabetes
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar hanya dengan keseriusan hati dan fikiran Anda