Langsung ke konten utama

Postingan

BERATNYA JUJUR PADA DIRI SENDIRI

Tulisan kali ini adalah kisah tentang diri saya. Siapa tahu kisah saya ini bisa menjadi pelajaran penting. Sekalipun kisah ini menunjukkan jati diri saya yang sebenarnya. Jati diri yang memberitahukan bahwa saya ini pernah pula nakal dan bandel. Kisah ini terjadi sekira 14 tahun silam. Tepat ketika saya masih mengenyam bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Lebih tepatnya lagi terjadi tatkala bulan Ramadhan di tahun tersebut masih berjalan di pertengahan. Seperti yang terjadi di beberapa Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, saat itu cuaca sangat tidak bersahabat. Bayangkan saja, ketika semua muslim berpuasa, justru panas matahari benar-benar menyiksa. Entahlah, berapa derajat suhu udara setiap siang di bulan itu. Pokoknya ketika kita berada di tengah jalan raya, sangat terasa kulit seperti terbakar. Saya masih teringat, bahkan sumur di kos-kosan pun menjadi kering, tidak kunjung muncul air hingga satu bulan. Hal itu membuat saya dan teman-teman pontang panting mencari cara a...

PENJARA DAN MANUSIA YANG TERLAHIR KEMBALI

Peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap Fahmi Darmawangsyah – suami artis Inneke Koesherawati yang juga ikut tersangkut kasus – dan Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husen, seperti diberitakan banyak media, dalam kasus dugaan suap demi memperoleh fasilitas yang mewah di penjara dan izin luar biasa keluar penjara, benar-benar menghebohkan kita. Peristiwa itu ternyata membuka fakta-fakta lainnya tentang perilaku beberapa penghuni penjara di lapas tersebut yang menurut hemat saya lucu dan sekaligus ironis. Terutama saat Najwa Shihab, host Mata Najwa yang biasa tayang di Trans7, menyidak beberapa sel yang ditempati para napi korupsi. Hasilnya kita tahu sendiri, ada laptop, Ipad, TV, printer, springbed, dan perabotan mewah lainnya di dalam sel mereka. Jujur, saya terbahak-bahak saat menonton tayangan ketika Nana menyidak sel yang ditempati Lutfi Hasan Ishaq, Nazaruddin, OC Kaligis dan Setya Novanto. Betapa yang kita lihat seperti bukan sel penjara yang kita pahami selama ...

ANUGERAH KEAWAMAN BAGI ORANG NDESA

Sumber foto: Dok. eLSoRYA “Mas, yang namanya Gus Durian tadi itu yang sebelah mana?” Tanya seorang teman yang mengikuti halal bihalal tiga hari silam. “Mereka, ya yang ada di dalam itu,” saya menjawab sambil menunjuk letak mereka duduk dan berdiri. “Dia itu orang mana sih Mas?” Tanya teman satunya lagi yang duduk di sampingnya. “Rumah mereka ya di mana-mana. Ada yang di kota sono, di desa situ dan ada juga di kampung sana.” Jawab saya sekenanya, karena saya tidak begitu nyantol dengan substansi pertanyaan dua teman itu tadi. Baru nyantol ketika salah satu dari mereka lebih spesifik menyampaikan penjelasan. “Itu lo yang sampeyan omongkan pas sambutan tadi. Katanya ada juga di sini Gus Durian. Kan kalau saya tahu orangnya, bisa saya ajak ngobrol. Kalau beliau punya pesantren, kan bisa saja anak saya, saya pondokkan ke Gus Durian tersebut. Saya juga pingin tahu beliau itu putranya kiai siapa.” “Oh, iya ya. Maafkan saya. Saya belum sempat menjelaskan ke sampeyan...

Manusia-manusia Puasa

Mereka sangat pantas disebut manusia-manusia puasa.  Pasalnya mereka terus saja berpuasa. Padahal bulan Ramadhan yang di dalamnya diwajibkan berpuasa sudah beberapa minggu ini berlalu. Mereka tak henti-henti puasa. Setelah Ramadhan usai, umat memasuki babak kehidupan yang baru. Sejak Idul Fitri dan seterusnya, maka rutinitas puasa akan umat tinggalkan. Kecuali orang-orang yang punya hobi puasa sunnah Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa-puasa lainnya. Umat berganti dengan rutinitas yang selama ini mereka jalani. Bahkan, banyak pula yang menganggap setelah Ramadhan usai, saatnya lagi mengegas semangat makan, minum, ngerokok, dan lain-lainnya. Tidak sedikit pula yang kembali ke habitat aslinya. Yang biasa menyewa PSK, berjudi, sabung ayam dan minum-minuman keras, mereka kembali ke “selera asal”. Sebelum Ramadhan tidak shalat, pun ketika usai bulan suci itu, ia kembali lagi tidak melakukan shalat. Lain, mereka, para manusia-manusia puasa itu tetap berpuasa sekalipun Ramadhan tel...

Pemilu itu Pengorbanan Rakyat

Kata banyak orang pintar yang sering kita dengar, pemilu adalah pesta demokrasi bagi rakyat. Benarkah definisi itu? Kalau benar, pestanya seperti apa? Berapa malamkah pesta itu dilaksanakan? Apakah rakyat puas dengan pesta itu? Saya mempersoalkan pengertian yang seperti itu. Makanya muncul banyak pertanyaan saya di atas – sekalipun pertanyaan asal-asalan. Karena menurut pemahaman saya, melihat sebelum dan sesudah pemilu, justru rakyat tidak berpesta, melainkan sengsara. Contohnya, coba saja awasi para petugas kepolisian dan linmas desa. Di setiap pemilu mereka dipaksa terbelalak mata, berhari-hari. Jauh dari rumah. Hiburannya hanya nonton piala dunia. Atau main kartu. Merekalah contoh nyata sebuah kesengsaraan rakyat. Namun itu sekelumit saja bukti kesengsaraan rakyat. Sebab kalau didaftar, kesengsaraan itu jumlahnya lebih banyak berjajar-jajar. Ibarat sebuah event organizer (EO), pemilu itu sebuah gawe yang super besar. Panitia yang diberikan wewenang, menyiapkan segala tetek ben...

Lebaran, Saat Tepat Belajar Kepada Orang Lain

Khatib saat shalat Idul Fitri di masjid kampungku beberapa hari yang lalu, sungguh tepat memberikan saran dalam penyampaian khutbahnya. Salah satunya mengenai siapa saja yang tepat disambangi dan diminta kemaafannya saat lebaran tiba. Jika diurutkan, maka orangtua menduduki peringkat pertama. Setelah itu pasangan hidup dan anak serumah. Kemudian ke tetangga dekat yang selama ini bergumul-interaksi dengan kita. Selanjutnya baru kepada kerabat dan sejawat yang rumahnya jauh. Jadi itulah yang seyogyanya kita sambangi dan di-halal bihalali, sebagai penyempurna ibadah selama bulan Ramadhan. Supaya, tidak saja secara vertikal hubungan dengan Yang Maha Kuasa baik, tapi secara horizontal, kepada sesama, juga baik pula. Diharapkan ketika lebaran tiba, kita benar-benar kembali ke fitrah kita yang sesungguhnya, yang suci dan bersih dari dosa. Pada kenyataannya saya, keluarga dan orang lain, benar-benar melaksanakan saran baik dari khatib tersebut. Sekalipun sebenarnya memang itulah tradisi y...

Balada Sandal Sakti

Pengalaman kehilangan sandal ketika shalat di masjid atau mushalla boleh jadi suatu hal yang sifatnya umum belaka. Saya kira banyak orang pernah merasakan terpapar “tragedi” ini. Tanya saja pada saudara kita, teman kita dan tetangga kita, pernah tidak merasakan sandalnya tiba-tiba raib saat orangnya selesai shalat di masjid atau mushalla. Saya kira rata-rata mereka pasti pernah merasakan kedukaan itu. Jika diadakan hitung probabilitas bisa jadi akan memunculkan rumus: Diantara sepuluh orang yang shalat di masjid atau mushalla, enam orang pasti pernah kehilangan sandalnya. Hal inilah yang kemudian menjadi bahan gojlokan antara penganut Islam dan Kristen. Mereka sama-sama menggunakannya untuk menguji kesakralan tempat ibadahnya masing-masing. Si kristiani menaruh heran kenapa kasus sandal hilang kerap terjadi di tempat-tempat ibadah milik muslim. Sementara kasus memalukan itu sama sekali tidak pernah terjadi di gereja. Mencermati itu si muslim sama sekali tidak merasa heran dan meng...