Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Matinya Orang-orang Penting

Majelis manakiban di Jum’at malam itupun akhirnya dilaksanakan setelah dua kali libur. Maklum sebagai imam majelis, Gus Ahmad dan istri sedang pergi umrah. Beberapa jamaah juga ada yang ikut serta umrah bersama beliau. Majelis manakiban pun diputuskan tidak dihelat selama dua kali pertemuan. Maka di malam itu, majelis manakiban yang intinya meminta barakah kepada Allah melalui karamahnya Syekh Abdul Qadir Jailani, diikuti banyak orang. Mereka antusias setelah libur dua kali. Mereka merasa kangen dengan majelis yang di setiap usai pembacaan kitab manakib Nurul Burhan, selalu dibuka sesi tanya jawab oleh Gus Ahmad. Tapi tentu saja dengan suasana santai dan dipenuhi guyon. Saat dibacakan kitab manakib di malam itu, jamaah khusyuk menyimak dan sesekali menyahut pembaca kitab. Saat itu yang menjadi pembaca kitab adalah Kang Jupri. Bacaannya lumayan pelan, santuy, sehingga bisa diikuti rata-rata para jamaah. Yang paling spesial tentu saja lagu yang dipakainya, selalu membuat tenang jama

Bertabligh Tapi Tidak Berfathanah

Selepas membaca koran pagi dan menyeruput kopi bikinan istrinya, Gus Ahmad beranjak ke halaman depan. Namun sebelum menuju halaman, Gus Ahmad terlebih dulu masuk ke gudang, mengambil “gantar”. Beliau hendak mengunduh beberapa mangga gadung di depan rumahnya yang kelihatan mulai matang. Sambil lirih mendendangkan shalawat, Gus Ahmad khusyuk mendongakkan kepalanya. Beliau mencari mangga mana saja yang akan “disunggeknya”. Rencananya beberapa akan dimakan sendiri dengan istri dan anaknya. Beberapa lainnya akan disimpannya untuk konsumsi acara manakiban yang rutin digelar setiap Jum’at malam di kediamannya. Ketika beliau sudah beberapa menit melakukan aktivitas itu, datanglah Kang Dargombes. Seorang murid manakiban yang rumahnya memang tak jauh dari kampung Gus Ahmad. Karena dekat itulah, Kang Dargombes termasuk murid yang paling sering ngobrol, paling sering sowan dan pasti pula paling sering “ngerepoti” Gus Ahmad dan keluarganya. Gus Ahmad sempat kaget dengan kedatangan Kan

Kewasathiyahan Islam Sebagai Paramater Umat

Salah satu pangkal persoalan yang terjadi di tengah umat (Islam) adalah munculnya sikap beragama yang terlalu ke kanan atau ke kiri. Dalam terminologi umum, terlalu ke kanan disebut ekstrim kanan dan terlalu ke kiri disebut ekstrim kiri. Gerakan ekstrim kanan dalam Islam sering diwakili oleh kelompok-kelompok yang sedikit-sedikit mengharamkan dan membid’ahkan amaliah kelompok lain. Bahkan tidak jarang mengkafirkan. Hal itu terjadi berdasarkan cara mereka menafsirkan teks suci agama dengan tafsir yang kaku. Akal tidak difungsikan secara proporsional oleh mereka. Sedang ekstrim kiri, diwakili oleh kelompok-kelompok liberal. Sebuah kelompok yang mendasarkan pendapatnya terlalu banyak dari akal. Akal diposisikan berada di atas teks suci agama. Sehingga pendapat kelompok ini sering bertolak-belakang dengan pesan suci teks-teks agama, dalam hal ini al-Qur’an dan al-Hadits. Dari sekilas uraian pembuka di atas dapat diperoleh gambaran yang tegas, bahwa jika kedua gerakan ekstrim

Militansi Nenek-nenek Muslimat NU

Sumber foto: seword.com SAYA DULU PERNAH MENULIS CATATAN singkat di laman facebook saya mengenai militansi ibu-ibu Muslimat NU (Nahdlatul Ulama). Tulisan tersebut saya saring dari tinjauan empiris, yang setiap hari lekat di kehidupan saya. Yang paling kuat, bersumber dari ibu saya dan seluruh kader Muslimat di kampung saya yang memang terkenal militan: ulet dan tanpa kenal lelah. Hingga sekarang kemilitanan itu masih terus dilakukan. Seperti hari Ahad dua minggu yang lalu, ibu saya dan anggota Muslimat lainnya mengadakan kegiatan foto untuk kartu anggota. Saya ingat betul ibu berangkat ke tempat acara sebelum pukul tujuh pagi. Pulangnya siang hari setelah dzuhur. Agenda penting tersebut sebetulnya sudah diawali beberapa hari sebelumnya. Ibu saya misalnya, sudah beberapa hari beliau menerima setoran foto copy Kartu Keluarga (KK) dari seluruh anggota Muslimat, yang akan dicatatnya dalam lampiran data calon penerima kartu anggota. Jumlah lembar foto copy KK yang diteri